Kosakata:
- Bhante: (1) kata sifat (ks) yang termuliakan, yang terhormat; (2) dengan huruf besar, berarti Yang Termuliakan, atau Yang Terhormat; (3) kata ganti orang (kgo) kata sapaan atau sebutan dengan rasa hormat untuk (i) Sang Buddha, (ii) biarawan Buddhis yang tidak berumah tangga, atau (iii) biarawan lain, contoh biarawan Jainisme
- Bhagavā: (1) ks yang mahamulia; (2) kgo kata sapaan sebutan lain dengan rasa hormat, diawali dengan kata Sang untuk Sang Buddha
- Arahat: kgo (i) sebutan untuk orang yang telah mencapai tingkat kesucian tertinggi, mahamulia, atau mahasuci; jika meninggal dunia, ia mencapai Nibbāna, yaitu tempat atau keadaan seseorang tidak akan lahir lagi karena di Nibbana, tidak ada lagi usia tua dan mati, atau abadi, atau (ii) kata sapaan kepada orang telah mencapai tingkat itu dengan rasa hormat dan diawali dengan kata Sang untuk Sang Buddha
Jalan cerita:
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di aula dengan atap yang berpuncak di Hutan Besar. Kemudian pada saat itu, sejumlah Licchavi yang terkenal telah berkumpul di aula pertemuan dan sedang duduk bersama membicarakan berbagai hal yang memuji Sang Buddha, Dhamma, dan Saṅgha.
Pada saat itu Jenderal Sīha, seorang siswa Nigaṇṭha, sedang duduk dalam pertemuan itu. Kemudian, ia berpikir: “Tidak diragukan, beliau pasti Bhagavā, Sang Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna. Karena sejumlah Licchavi yang terkenal telah berkumpul di aula pertemuan dan sedang duduk bersama membicarakan berbagai hal yang memuji Sang Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Coba saya pergi menemui Sang Bhagavā, Sang Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna.”
Kemudian, Sīha mendatangi Nigaṇṭha Nātaputta dan berkata kepadanya: “Bhante, aku ingin pergi menemui Petapa Gotama.”
“Karena engkau adalah penganut paham perbuatan, Sīha, mengapa menemui Petapa Gotama, penganut paham tidak-berbuat? Karena Petapa Gotama adalah penganut tidak-berbuat yang mengajarkan Dhamma demi paham tidak-berbuat dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.” Lalu, tekad Sīha untuk menemui Sang Bhagavā redup.
Untuk kali kedua, sejumlah Licchavi yang terkenal berkumpul di aula pertemuan dan sedang duduk bersama membicarakan berbagai hal yang memuji Sang Buddha, Dhamma, dan Saṅgha … [Semuanya sama seperti di atas, kecuali di sini dikatakan “untuk kali kedua.”] … Untuk kali kedua, tekad Sīha untuk menemui Sang Bhagavā redup.
Untuk kali ketiga, sejumlah Licchavi yang terkenal telah berkumpul di aula pertemuan dan sedang duduk bersama membicarakan berbagai hal yang memuji Sang Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Kemudian Sīha berpikir: “Tidak diragukan, beliau pasti Bhagavā, Sang Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna. Karena sejumlah Licchavi yang terkenal telah berkumpul di aula pertemuan dan sedang duduk bersama membicarakan berbagai hal yang memuji Sang Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Apakah yang dapat dilakukan oleh para Nigaṇṭha pada saya apakah aku mendapatkan ijin dari mereka atau tidak? Tanpa mendapatkan ijin para Nigaṇṭha terlebih dulu, coba saya pergi menemui Sang Bhagavā, Sang Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna itu.”
Kemudian, bersama dengan lima ratus kereta, Jenderal Sīha pergi dari Vesālī di tengah hari untuk menemui Sang Bhagavā. Ia mengendarai kereta sejauh jalan yang dapat dilalui kereta dan, kemudian, ia turun dari kereta dan memasuki halaman vihara dengan berjalan kaki. Ia mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada beliau:“Aku telah mendengar, Bhante: ‘Petapa Gotama adalah penganut paham tidak-berbuat yang mengajarkan Dhamma demi tidak-berbuat dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.” Apakah mereka yang berkata demikian mengatakan apa yang telah dikatakan oleh Sang Bhagavā dan tidak salah menafsirkan beliau dengan apa yang berlawanan dengan fakta? Apakah mereka menjelaskan sesuai Dhamma sehingga mereka tidak menimbulkan kritikan yang logis atau dasar bagi celaan? Karena kami tidak ingin salah menafsirkan Sang Bhagavā.”
(1)“Ada, Sīha, suatu cara saat seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah penganut paham tidak-berbuat yang mengajarkan Dhamma-Nya demi tidak-berbuat dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(2) “Ada suatu cara saat seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah penganut paham perbuatan-perbuatan yang mengajarkan Dhamma-Nya demi perbuatan-perbuatan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(3) “Ada satu cara saat seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah penganut paham pemusnaan yang mengajarkan Dhamma-Nya demi pemusnaan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(4) “Ada satu cara saat seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah penolak yang mengajarkan Dhamma-Nya demi penolakan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(5) “Ada satu cara saat seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah pembasmi yang mengajarkan Dhamma-Nya demi pembasmian dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(6) “Ada satu cara saat seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah penyiksa yang mengajarkan Dhamma-Nya demi siksaan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(7) “Ada satu cara saat seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama akan pensiun, yang mengajarkan Dhamma-Nya demi pensiun dan, dengan cara itu, beliau xxxxx membimbing para siswa-Nya.”
(8) “Ada satu cara saat seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah penghibur yang mengajarkan Dhamma-Nya demi penghiburan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(1) “Lalu, Sīha, dengan cara bagaimanakah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah penganut paham tidak-berbuat [183] yang mengajarkan Dhamma-Nya demi tidak-berbuat dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya’? Karena Aku mengajarkan tidak berbuat perbuatan-perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran; Aku mengajarkan tidak berbuat berbagai jenis perbuatan buruk yang tidak bermanfaat. Dengan cara inilah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: “Petapa Gotama adalah penganut paham tidak-berbuat yang mengajarkan Dhamma-Nya demi tidak-berbuat dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(2) “Lalu, dengan cara bagaimanakah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: “Petapa Gotama adalah penganut paham perbuatan-perbuatan yang mengajarkan Dhamma-Nya demi perbuatan-perbuatan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya”? Karena Aku mengajarkan perbuatan-perbuatan baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran; Aku mengajarkan untuk berbuat berbagai jenis perbuatan baik yang bermanfaat. Dengan cara inilah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah penganut paham perbuatan-perbuatan yang mengajarkan Dhamma-Nya demi perbuatan-perbuatan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(3) “Lalu, dengan cara bagaimanakah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: “Petapa Gotama adalah penganut paham pemusnaan yang mengajarkan Dhamma-Nya demi pemusnaan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya”? Karena Aku mengajarkan pemusnaan nafsu, kebencian, dan delusi; Aku mengajarkan pemusnaan berbagai jenis kualitas buruk yang tidak bermanfaat. Dengan cara inilah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah penganut paham pemusnaan yang mengajarkan Dhamma-Nya demi pemusnaan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(4) “Lalu, dengan cara bagaimanakah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: “Petapa Gotama adalah seorang penolak yang mengajarkan Dhamma-Nya demi penolakan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya”? Karena Aku menolak perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran; Aku menolak perolehan berbagai jenis kualitas buruk yang tidak bermanfaat. Dengan cara inilah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: “Petapa Gotama adalah seorang penolak yang mengajarkan Dhamma-Nya demi penolakan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(5) “Lalu, dengan cara bagaimanakah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: “Guru Gotama adalah seorang pembasmi yang mengajarkan Dhamma-Nya demi pembasmian dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya”? Karena Aku mengajarkan Dhamma untuk membasmi nafsu, kebencian, dan khayalan. Aku mengajarkan Dhamma untuk membasmi berbagai jenis kualitas buruk yang tidak bermanfaat. Dengan cara inilah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: “Petapa Gotama adalah seorang pembasmi yang mengajarkan Dhamma-Nya demi pembasmian dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(6) “Lalu, dengan cara bagaimanakah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: “Guru Gotama adalah seorang penyiksa yang mengajarkan Dhamma-Nya demi siksaan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya”? Karena Aku tegaskan bahwa sifat-sifat buruk yang tidak bermanfaat – perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran – harus dibakar habis. Aku mengatakan bahwa seseorang adalah penyiksa ketika ia telah menanggalkan sifat-sifat buruk yang tidak bermanfaat yang harus dibakar; ketika ia telah memotongnya di akar, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan. Sang Tathāgata telah menanggalkan sifat-sifat buruk yang tidak bermanfaat yang harus dibakar habis; beliau telah memotongnya di akar, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan. Dengan cara inilah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: “Petapa Gotama adalah seorang penyiksa yang mengajarkan Dhamma-Nya demi siksaan dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(7) “Lalu, dengan cara bagaimanakah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah seorang yang sedang pensiun yang mengajarkan Dhamma-Nya demi pensiun itu dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya’? Karena Aku mengatakan bahwa seseorang pensiun ketika ia telah menanggalkan kelahiran baru, tempat tidur rahim di masa depan; ketika ia telah memotongnya di akar, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan. Sang Tathāgata telah menanggalkan kelahiran baru, tempat tidur rahim di masa depan; beliau telah memotongnya di akar, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan. Dengan cara inilah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah seorang yang sedang pensiun yang mengajarkan Dhamma-Nya demi pensiun itu dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
(8) “Lalu, dengan cara bagaimanakah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah penghibur yang mengajarkan Dhamma-Nya demi penghiburan itu dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya’? Karena Aku adalah penghibur dengan penghiburan tertinggi; Aku mengajarkan Dhamma demi penghiburan itu dan, dengan cara itu, Aku membimbing para siswa-Ku. Dengan cara inilah seseorang dapat dengan benar berkata tentang Aku: ‘Petapa Gotama adalah penghibur yang mengajarkan Dhamma-Nya demi penghiburan itu dan, dengan cara itu, beliau membimbing para siswa-Nya.”
Ketika hal itu dikatakan, Jenderal Sīha berkata kepada Sang Bhagavā: “Bagus sekali, Bhante! Bagus sekali, Bhante! … Mohon Sang Bhagavā menerimaku sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan sejak hari ini hingga seumur hidup.”
“Selidikilah, Sīha! Baik sekali bagi seorang terkenal sepertimu untuk melakukan penyelidikan.”
“Bhante, aku bahkan menjadi lebih puas dan gembira karena Bhante memberitahuku: ‘Selidikilah, Sīha! Baik sekali bagi seorang terkenal sepertimu untuk melakukan penyelidikan.” Karena jika para anggota sekte lain memperoleh saya sebagai siswa mereka, mereka akan membawa spanduk ke seluruh Vesālī sambil mengumumkan: ‘Jenderal Sīha telah menjadi siswa kami.” Tetapi, sebaliknya, Sang Bhagavā memberitahu saya: ‘Selidikilah, Sīha! Baik sekali bagi seorang terkenal sepertimu untuk melakukan penyelidikan.” Untuk kali kedua, Bhante, saya berlindung kepada Sang Bhagavā, kepada Dhamma, dan kepada Saṅgha. Mohon Sang Bhagavā menerima saya sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan sejak hari ini hingga seumur hidup.”
“Sīha, keluargamu sejak lama telah menjadi penyokong para Nigaṇṭha; karena itu, engkau harus mempertimbangkan untuk tetap melanjutkan memberi dana kepada mereka ketika mereka mendatangimu.”
“Bhante, aku bahkan menjadi lebih puas dan gembira karena Bhante memberitahuku: ‘Sīha, keluargamu sejak lama telah menjadi penyokong para Nigaṇṭha; karena itu, engkau harus mempertimbangkan untuk tetap melanjutkan memberi dana kepada mereka ketika mereka mendatangimu.” Karena aku telah mendengar: ‘Petapa Gotama mengatakan sebagai berikut:“Dana seharusnya diberikan hanya kepada-Ku, tidak kepada orang lain; dana seharusnya diberikan hanya kepada para siswa-Ku, tidak kepada para siswa orang lain. Hanya apa yang diberikan kepada-Ku yang sangat berbuah, bukan apa yang diberikan kepada orang lain; hanya apa yang diberikan kepada para siswa-Ku sangat berbuah, bukan apa yang diberikan kepada para siswa orang lain.”’ Namu, Sang Bhagavā mendorong saya untuk memberi kepada para Nigaṇṭha juga. Kami akan mengetahui waktu yang tepat untuk itu. Maka, untuk ketiga kali, Bhante, saya berlindung kepada Sang Bhagavā, kepada Dhamma, dan kepada Saṅgha. Mohon Sang Bhagavā menerima saya sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan sejak hari ini hingga seumur hidup.”
Kemudian, Sang Bhagavā membabarkan khotbah bertingkat kepada Jenderal Sīha, yaitu, khotbah tentang berdana, perilaku bermoral, dan alam-alam surga; beliau mengungkapkan bahaya, keburukan, dan kekotoran dari kenikmatan indria dan manfaat penglepasan keduniawian. Ketika Sang Bhagavā mengetahui bahwa pikiran Sīha telah lentur, lunak, bebas dari rintangan, terbangunkan, dan percaya, maka beliau mengungkapkan ajaran Dhamma yang khas para Buddha: penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan (Jalan Mulia Berunsur Delapan). Kemudian, bagaikan sehelai kain bersih yang bebas dari noda-noda gelap akan dengan mudah menerima warna celupan, demikian pula, selagi Jenderal Sīha duduk di tempat duduk yang sama itu, muncullah padanya mata-Dhamma yang bebas dari debu dan tanpa noda: “Segala sesuatu dapat muncul dan juga dapat lenyap.”
Jenderal Sīha menjadi seseorang yang telah melihat Dhamma, mencapai Dhamma, memahami Dhamma, mengukur Dhamma, menyeberangi keragu-raguan, bebas dari kebingungan, mencapai kepercayaan-diri, dan menjadi tidak bergantung pada yang lain dalam ajaran Sang Guru. Kemudian, ia berkata kepada Sang Bhagavā:
“Mohon Sang Bhagavā bersama dengan Saṅgha menerima dana makanan dari saya besok.”
Sang Bhagavā menerima dengan berdiam diri. Setelah paham bahwa Sang Bhagavā telah mengijinkan, Jenderal Sīha bangkit dari duduknya, bersujud kepada Sang Bhagavā, mengelilingi beliau dengan sisi kanannya, menghadap beliau, dan pergi. Kemudian, Jenderal Sīha berkata kepada seseorang: “Pergi dan temukanlah daging yang siap untuk dijual.”
Kemudian, ketika malam telah berlalu, Jenderal Sīha mempersiapkan berbagai jenis makanan baik di kediamannya, setelah itu ia memberitahukan waktunya kepada Sang Bhagavā: “Bhante, sudah waktunya dan makanan telah siap.”
Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubah-Nya, pergi ke kediaman Jenderal Sīha bersama dengan Saṅgha, dan duduk di tempat yang dipersiapkan untuk beliau. Pada saat itu sejumlah Nigaṇṭha sedang pergi dari jalan ke jalan dan dari lapangan ke lapangan di Vesālī, sambil mengibaskan lengan mereka dan berseru: “Hari ini Jenderal Sīha telah menyembelih seekor binatang gemuk untuk mempersiapkan makanan bagi Petapa Gotama! Petapa Gotama dengan sadar menggunakan makanan [yang diperoleh dari seekor binatang yang dibunuh] khusus untuk-Nya, tindakan yang dilakukan karena beliau.”
Kemudian, seseorang mendatangi Jenderal Sīha dan membisikkan ke telinganya: “Tuan, engkau sebaiknya tahu bahwa sejumlah Nigaṇṭha sedang pergi dari jalan ke jalan dan dari lapangan ke lapangan di Vesālī, sambil mengibaskan lengan mereka dan berseru: ‘Hari ini Jenderal Sīha telah menyembelih seekor binatang gemuk untuk mempersiapkan makanan bagi Petapa Gotama! Petapa Gotama dengan sadar menggunakan makanan [yang diperoleh dari seekor binatang yang dibunuh] khusus untuk-Nya, tindakan yang dilakukan karena beliau.””
“Cukup, teman. Sejak lama para orang mulia itu ingin mencemarkan reputasi Sang Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Mereka tidak akan pernah berhenti secara keliru menafsirkan Sang Bhagavā dengan apa yang tidak benar, tanpa dasar, yang salah, dan berlawanan dengan fakta, dan kami tidak akan pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup, bahkan demi hidup kami.”
Kemudian, dengan kedua tangannya, Jenderal Sīha melayani Saṅgha para bhikkhu yang dipimpin oleh Sang Buddha dengan berbagai jenis makanan baik. Lalu, ketika Sang Bhagavā telah selesai makan dan telah menyingkirkan mangkuknya, Jenderal Sīha duduk di satu sisi. Kemudian, Sang Bhagavā mengajarkan, mendorong, menginspirasi, dan menggembirakan Jenderal Sīha dengan khotbah Dhamma dan, setelah itu, beliau bangkit dari duduknya dan pergi.
AN 8.12: Sīha Sutta, diterjemahkan dari Pāḷi ke bahasa Inggeris oleh Bhikkhu Bodhi dan, dari bahasa Inggeris ke bahasa Indonesia, oleh PMd Tjan Sie Tek, Penerjemah Tersumpah

