- Beda antara dua istilah: diri dan diri sendiri (pribadi)
Diri adalah pribadi dan diri sendiri adalah penekanan atau pembedaan diri dari orang lain.
Contoh:
diri
- Jagalah diri dari perbuatan buruk.
- Ia mengenal diri dengan baik.
- Mengendalikan diri adalah kebijaksanaan.
diri sendiri
Perkataan diri sendiri digunakan untuk memberikan penekanan atau untuk membedakan dari orang lain. Kata sendiri berfungsi sebagai penegas.
Contoh:
- Ia menyalahkan diri sendiri, bukan orang lain.
- Kita harus percaya pada diri sendiri.
- Jangan tipu diri sendiri.
- 2.Sīla salah satu pilar pembentukan karakter dan pemerkuatan batin diri sendiri
Sīla (kebajikan diri sendiri, doktrin atau sistem perilaku bajik diri sendiri; sesuai dengan cita-cita perilaku kemanusiaan perseorangan) merupakan fondasi penting bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Berbagai penelitian dalam bidang psikologi, sosiologi, dan filsafat menunjukkan bahwa masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai sīla cenderung memiliki tingkat kepercayaan sosial yang lebih tinggi, hubungan antarmanusia yang lebih harmonis, dan sifat hidup yang lebih baik. Jauh sebelum berbagai kajian tersebut berkembang, sekitar abad ke-6 SM, Buddhisme telah menempatkan sīla sebagai salah satu pilar utama dalam pembentukan karakter dan pemerkuatan batin.
Dalam ajaran Buddha, sīla bukanlah sekadar kumpulan peraturan yang harus dipatuhi karena adanya penguasa tertentu. Sīla dipahami sebagai latihan sadar yang bertujuan mengurangi penderitaan (dukkha) dengan mengendalikan pikiran, ucapan, dan perbuatan diri. Karena itu, sīla menjadi dasar bagi berkembangnya konsentrasi (samādhi) dan kebijaksanaan (paññā), sebagaimana yang dirumuskan dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Aṭṭhaṅgika Magga). Tanpa sīla, batin sulit mencapai ketenangan yang diperlukan untuk memperoleh pandangan terang terhadap hakikat kehidupan.
Pentingnya sīla ditegaskan oleh Sang Buddha dalam Cūḷasīhanāda Sutta (Majjhima Nikāya 11) ketika beliau menjelaskan bahwa kehidupan suci tidak dijalankan semata-mata demi memperoleh keuntungan materi, penghormatan, atau reputasi, bahkan tidak pula berhenti pada pencapaian sīla itu sendiri. Sīla merupakan dasar yang kokoh bagi pemerkuatan konsentrasi pikiran, pengetahuan, dan akhirnya pembebasan dari penderitaan. Dengan demikian, sīla memiliki fungsi instrumental (alat) sekaligus transformatif (bersifat mengubah) dalam keseluruhan praktik Buddhis.
- 3.Fungsi sīla
Dalam kehidupan sehari-hari, sīla diwujudkan melalui pelaksanaan Lima Sila (Pañca-sīla), yaitu menghindari pembunuhan, pencurian, perilaku seksual yang salah, ucapan tidak benar, serta penggunaan minuman atau zat yang menyebabkan lemahnya kesadaran. Kelima latihan sīla tersebut bukanlah larangan yang bersifat dogmatis, melainkan pedoman praktis untuk melindungi diri sendiri dan makhluk lain dari akibat buruk yang ditimbulkan oleh tindakan yang tidak bersīla. Dengan menaati sila, seseorang tidak hanya mengurangi konflik sosial, tetapi juga membangun ketenangan batin karena terbebas dari penyesalan.
Jadi, seseorang yang sedang menerapkan sila Buddhis itu berarti dia sedang mengubah (transform) diri dari seseorang yang tidak melakukan sila atau tahu sila itu berubah menjadi pelaku sila.
- 4.Hubungan antara sīla dan hukum karma
Hubungan antara sīla dan hukum karma menjadi salah satu ciri khas etika Buddhis. Dalam Nibbedhika Sutta (Aṅguttara Nikāya 6.63), Sang Buddha menjelaskan bahwa kehendak (cetanā) merupakan inti dari karma: “Cetanāhaṃ, bhikkhave, kammaṃ vadāmi”—”Para bhikkhu, kehendak itulah yang Aku sebut sebagai karma.” Pernyataan itu menunjukkan bahwa suatu tindakan terutama ditentukan oleh niat yang melatarbelakanginya. Dengan demikian, sīla dalam Buddhisme tidak hanya menilai perilaku yang tampak, tetapi juga kondisi batin yang menjadi sumber dari perilaku tersebut.
Penekanan pada niat tersebut sejalan dengan stanza pembuka Dhammapada (stanza-stanza 1 dan 2), yang menyatakan bahwa
“Pikiran merupakan pelopor dari segala keadaan. Apabila seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran yang tercemar, penderitaan akan mengikutinya sebagaimana roda mengikuti jejak kaki lembu penarik kereta. Sebaliknya, apabila seseorang bertindak dengan pikiran yang murni, kebahagiaan akan mengikutinya seperti bayangan yang setia.”
- 5.Sīla adalah sifat batin diri sendiri
Ajaran itu menegaskan bahwa pembinaan sīla harus dimulai dari pemerkuatan sifat batin (mental) diri sendiri, bukan hanya pengendalian perilaku lahiriah (fisik).
Dimensi sosial sīla dijelaskan secara mendalam dalam Sigālovāda Sutta (Dīgha Nikāya 31), yang sering disebut sebagai pedoman etika bagi umat awam. Dalam khotbah tersebut, Sang Buddha menguraikan kewajiban timbal balik antara orangtua dan anak, guru dan murid, suami dan istri, sahabat, majikan dan pekerja, serta umat awam dan para petapa. Hubungan-hubungan tersebut dibangun berdasarkan prinsip tanggung jawab, rasa hormat, kejujuran, dan saling membantu. Dengan demikian, sīla dalam Buddhisme tidak hanya bersifat individual, tetapi juga membantu membentuk tatanan etika sosial yang harmonis.
- 6.Maṅgala Sutta (Sutta Nipāta 2.4)
Selain itu, Maṅgala Sutta menguraikan berbagai berkah tertinggi dalam kehidupan, yang sebagian besar berkaitan erat dengan sīla. Menghormati orang yang patut dihormati, merawat orangtua, bekerja secara benar, berdana, hidup sesuai Dhamma, bersabar, rendah hati, dan mampu mengendalikan diri disebut sebagai faktor-faktor yang membawa kebahagiaan sejati. Hal itu menunjukkan bahwa kesejahteraan manusia tidak hanya bergantung pada kemajuan materi, tetapi juga pada sifat karakter dan perilaku etis [berhubungan dengan tata perilaku yang baik antara satu individu dan individu(-individu) lain].
- 7. Sīla tetap sangat relevan dalam konteks masyarakat moderen
Sīla Buddhis tetap memiliki relevansi yang sangat kuat dalam masyarakat moderen. Berbagai tantangan seperti korupsi, kekerasan, penyalahgunaan teknologi digital, penyebaran informasi palsu, hingga kerusakan lingkungan pada dasarnya berakar pada keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha). Buddhisme menawarkan solusi yang bersifat preventif (bersifat mencegah) melalui pendidikan sīla, pemerkuatan perhatian penuh (sati), dan pembinaan kebijaksanaan sehingga para individu mampu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan sīla dan etika, bukan dorongan emosional diri sendiri yang bersifat sesaat.
- 8.Sīla bukan tujuan akhir
Sīla adalah fondasi bagi berkembangnya konsentrasi dan kebijaksanaan yang mengarah pada pembebasan dari penderitaan. Melalui praktik sīla, seseorang tidak hanya membangun karakter yang luhur, tetapi juga membantu memperkuat penciptaan masyarakat yang damai, adil, dan penuh kasih.
Karena itu, ajaran sīla Sang Buddha tetap relevan sebagai pedoman etika dalam menghadapi tantangan kehidupan manusia di berbagai zaman.
- 9. Kesimpulan
Sīla merupakan sistem perseorangan yang menyeluruh karena mencakup dimensi batin, perilaku, dan kehidupan bermasyarakat.
Semoga bermanfaat.


