Home Blog

Kisah Sang Bodhisatta sd kelahiran-Nya

0


A. Kesempurnaan-kesempurnaan yang harus dikembangkan
Selain Sepuluh Pāramī, seorang Bodhisatta juga mengembangkan empat landasan Kebuddhaan (catasso buddhabhūmiyo), yaitu:
1. Ussāha — semangat yang tak kenal lelah (viriya).
2. Ummagga — kebijaksanaan atau kecerdasan dalam menemukan jalan keluar (paññā).
3. Avaṭṭhāna — keteguhan tekad (adhiṭṭhāna).
4. Hitacariyā — perilaku yang senantiasa mengusahakan kesejahteraan semua makhluk, yang berakar pada pengembangan mettā (cinta kasih).
Selain itu, seorang Bodhisatta juga mengembangkan enam kecenderungan batin (ajjhāsaya) yang membantu pematangan Kebuddhaan, yaitu:
• kecenderungan menuju pelepasan (nekkhammajjhāsaya),
• kecenderungan menuju kesunyian (pavivekajjhāsaya),
• kecenderungan bebas dari keserakahan (alobhajjhāsaya),
• kecenderungan bebas dari kebencian (adosajjhāsaya),
• kecenderungan bebas dari kebodohan batin (amohajjhāsaya),
• kecenderungan menuju pembebasan dari semua noda batin (nissaraṇajjhāsaya).
B. Delapan belas keadaan yang tidak pernah dialami oleh Sang Bodhisatta
Selama menjalani perjalanan menuju Kebuddhaan, seorang Bodhisatta tidak pernah terlahir dalam delapan belas keadaan yang dianggap tidak memungkinkan tercapainya tujuan agung tersebut.
Di antaranya:
• tidak pernah lahir dalam keadaan buta,
• tidak pernah tuli,
• tidak pernah gila,
• tidak pernah bisu karena cacat,
• tidak pernah lumpuh,
• tidak pernah lahir di tengah suku-suku liar yang tidak mengenal Dhamma,
• tidak pernah lahir sebagai anak seorang budak,
• tidak pernah menjadi penganut ajaran sesat,
• tidak pernah berganti jenis kelamin,
• tidak pernah melakukan salah satu dari lima kamma yang akibatnya langsung berbuah (ānantarika-kamma),
• tidak pernah menjadi penderita kusta.
Apabila lahir sebagai binatang, seorang Bodhisatta tidak pernah lahir lebih rendah daripada seekor burung puyuh ataupun lebih tinggi daripada seekor gajah.
Beliau juga tidak pernah lahir:
• sebagai jenis peta tertentu,
• sebagai Kālakañjaka,
• di Neraka Avīci,
• di neraka Lokantarika,
• sebagai Māra,
• di alam tanpa persepsi (asaññasatta),
• di alam Suddhāvāsa,
• di alam Arūpa,
• maupun di sistem dunia (cakkavāla) lain.
C. Lima Pengorbanan Agung
Selain menyempurnakan tiga puluh pāramī, semua Bodhisatta harus melaksanakan Lima Pengorbanan Agung (Mahāpariccāga), yaitu mengorbankan:
1. istri,
2. anak-anak,
3. kerajaan,
4. anggota tubuh, dan
5. bahkan nyawa sendiri,
demi tercapainya Kebuddhaan.
Seorang Bodhisatta juga harus menyempurnakan tiga jenis pengabdian (cariyā):
• pengabdian demi keluarga atau sanak saudara (ñātatthacariyā),
• pengabdian demi kesejahteraan dunia (lokatthacariyā),
• pengabdian demi pencapaian Kebuddhaan (buddhatthacariyā).
Di samping itu, beliau harus melaksanakan tujuh pemberian agung (mahādāna) sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Vessantara, yang menurut kitab-kitab menyebabkan bumi berguncang sebanyak tujuh kali.
D. Lamanya perjalanan seorang Bodhisatta
Tidak semua Bodhisatta memerlukan waktu yang sama untuk mencapai Ke-Buddha-an.
Kitab-kitab menyebutkan tiga kelompok utama:
Kelompok pertama
Menyempurnakan pāramī selama empat asaṅkheyya dan seratus ribu kappa.
Ini merupakan waktu paling singkat yang mungkin ditempuh dan diperuntukkan bagi mereka yang sangat unggul dalam kebijaksanaan (paññā).
Kelompok kedua
Menyempurnakan pāramī selama delapan asaṅkheyya dan seratus ribu kappa.
Kelompok ini unggul dalam keyakinan (saddhā).
Kelompok ketiga
Menyempurnakan pāramī selama enam belas asaṅkheyya dan seratus ribu kappa.
Ini adalah perjalanan yang paling panjang dan ditempuh oleh mereka yang terutama unggul dalam semangat atau ketekunan (viriya).
E. Kehidupan terakhir sebelum lahir sebagai manusia
Dalam kehidupan sebelum kelahiran terakhirnya sebagai manusia, semua Bodhisatta terlahir di Surga Tusita.
Usia kehidupan di Tusita berlangsung selama 576 juta tahun menurut perhitungan yang digunakan di kitab komentar.
Namun, sebagian besar Bodhisatta meninggalkan Tusita sebelum usia kehidupannya berakhir.
Salah satu pengecualian adalah Buddha Vipassī, yang tinggal di Tusita hingga masa hidupnya selesai.
F. Lima Penyelidikan Agung
Menjelang saat kelahiran terakhirnya sebagai manusia, berbagai tanda luar biasa muncul di sepuluh ribu sistem dunia.
Para dewa dari berbagai alam berkumpul di Surga Tusita dan mohon kepada Sang Bodhisatta agar turun ke dunia manusia untuk menjadi seorang Buddha.
Namun, Sang Bodhisatta tidak langsung menyetujui permohonan tersebut.
Beliau terlebih dahulu melakukan Lima Penyelidikan Agung (Pañca Mahāvilokanā), yaitu menyelidiki:
1. waktu yang tepat untuk munculnya seorang Buddha,
2. benua tempat akan dilahirkan,
3. wilayah dan keluarga tempat kelahiran,
4. calon ibu yang akan melahirkannya, dan
5. sisa umur calon ibu tersebut.
Menurut kitab-kitab, seorang Buddha tidak akan muncul ketika usia rata-rata manusia lebih dari 100.000 tahun ataupun kurang dari 100 tahun.
Beliau hanya akan lahir:
• di Jambudīpa,
• di Majjhimadesa (Negeri Tengah), dan
• keluarga kesatria (khattiya) atau brahmana.
Adapun calon ibu Sang Bodhisatta harus memenuhi syarat-syarat berikut ini:
• bukan wanita yang dikuasai hawa nafsu,
• bukan peminum minuman keras,
• telah menyempurnakan pāramī selama seratus ribu kappa,
• sejak lahir tidak pernah melanggar sila, dan
• memang ditakdirkan meninggal dunia tidak lebih dari sepuluh bulan tujuh hari setelah mengandung Sang Bodhisatta.
G. Turunnya Sang Bodhisatta dari Surga Tusita
Setelah memastikan bahwa kelima penyelidikan agung telah terpenuhi, Sang Bodhisatta bersama para dewa pergi ke Taman Nandana (Nandanavana) di Surga Tusita.
Di sana beliau mengumumkan kepada para dewa bahwa saatnya telah tiba untuk meninggalkan alam Tusita dan menjalani kelahiran terakhir sebagai manusia. Setelah menyampaikan pengumuman itu, Sang Bodhisatta lenyap dari tengah-tengah mereka dan mengambil kelahiran baru di alam manusia.

H. Mimpi Agung Sang Ibu
Pada hari terjadinya konsepsi Sang Bodhisatta, calon ibu-Nya, setelah mengikuti sebuah perayaan besar, menjalankan delapan sila, termasuk berpuasa dan hidup suci (berpantang hubungan suami istri).
Malam harinya, ketika beliau tertidur, beliau mengalami sebuah mimpi yang luar biasa.
Dalam mimpi itu, Empat Raja Dewa (Cātummahārājika) mengangkat tempat tidurnya dan membawanya ke Danau Anotatta di Pegunungan Himalaya.
Di sana para bidadari memandikannya dengan air yang suci, mengenakannya pakaian surgawi, menghiasinya dengan bunga-bunga dan wewangian surgawi, kemudian membaringkannya di sebuah istana emas yang dikelilingi oleh segala kemewahan surgawi.
Selanjutnya Sang Bodhisatta, yang menjelma sebagai seekor gajah putih, datang mendekati beliau sambil membawa bunga teratai putih dengan belalainya.
Gajah putih itu kemudian memasuki rahim sang ibu melalui sisi kanan tubuhnya.
Pada saat itu seluruh bumi berguncang, dan sepuluh ribu sistem dunia dipenuhi cahaya yang sangat terang.
Sejak saat konsepsi tersebut, Empat Raja Dewa menjaga ibu dan anak siang maupun malam.
I. Masa Kehamilan
Kehamilan berlangsung tepat sepuluh bulan.
Selama masa itu, ibu Sang Bodhisatta tidak mengalami penyakit apa pun.
Kitab komentar menjelaskan bahwa beliau bahkan dapat melihat Sang Bodhisatta di dalam rahimnya, sedang duduk bersila sebagaimana seorang guru yang sedang berkhotbah di atas mimbar.
Keadaan ini berlangsung sepanjang masa kehamilan.
J. Kelahiran Sang Bodhisatta
1. Setelah genap sepuluh bulan, sang ibu melahirkan Sang Bodhisatta.
Semua Bodhisatta, menurut kitab komentar, lahir di sebuah taman, bukan di dalam rumah atau istana.
Demikian pula Sang Bodhisatta Gotama lahir di Taman Lumbinī.
Ketika saat kelahiran tiba, para Brahmā dari Alam Suddhāvāsa, yang telah bebas dari segala nafsu indria, terlebih dahulu menerima bayi Sang Bodhisatta dengan jala emas.
Dari mereka, bayi itu diterima oleh Empat Raja Dewa, yang kemudian membaringkannya di atas kulit kijang dan menyerahkannya kepada ibunya.
Tidak seperti bayi biasa, tubuh Sang Bodhisatta lahir bersih, tanpa diliputi lendir kelahiran.
Pada saat yang sama turun dua pancuran air dari langit:
• satu hangat,
• satu sejuk.
Kedua pancuran itu memandikan ibu dan bayi secara bersamaan.
2. Tujuh Langkah Pertama
Segera setelah dilahirkan, Sang Bodhisatta berdiri tegak di atas kedua kakinya.
Kemudian, Beliau berjalan tujuh langkah ke arah utara.
Pada setiap langkah muncul bunga teratai yang menopang telapak kaki-Nya.
Sesudah itu Beliau memandang ke empat penjuru.
Tidak melihat seorang pun yang setara dengan diri-Nya dalam kebijaksanaan maupun kesempurnaan, Sang Bodhisatta mengucapkan pernyataan kemenangan bahwa:
• Beliau adalah yang tertinggi di dunia.
• Kelahiran ini merupakan kelahiran terakhir-Nya.
• Sesudah kehidupan ini tidak akan ada kelahiran kembali lagi.
Kitab-kitab juga menyebutkan bahwa Sang Bodhisatta Gotama pernah berbicara segera setelah lahir pada tiga kehidupan:
1. ketika terlahir sebagai Mahosadha,
2. ketika terlahir sebagai Vessantara, dan
3. pada kelahiran terakhir sebagai Pangeran Siddhattha Gotama.
K. Wafatnya Sang Ibu
Tepat tujuh hari setelah melahirkan, ibu Sang Bodhisatta meninggal dunia.
Menurut kitab komentar, hal ini terjadi karena seorang wanita yang telah mengandung seorang Bodhisatta pada kehidupan terakhir tidak akan mengandung makhluk lain lagi.
Sebab itu, panjang umur beliau telah ditentukan sedemikian rupa sehingga berakhir tujuh hari setelah kelahiran seorang Bodhisatta.
Kitab komentar juga menyatakan bahwa usia ibu Sang Bodhisatta ketika melahirkan berada di kisaran lima puluh hingga enam puluh tahun.
L. Mukjijat-mukjijat kelahiran
Kelahiran terakhir seorang Bodhisatta selalu disertai berbagai mukjijat.
Kitab-kitab komentar menafsirkan bahwa setiap peristiwa luar biasa yang terjadi pada masa kelahiran tersebut merupakan lambang dari sifat-sifat Buddha serta Dhamma yang kelak akan Beliau ajarkan.
M. Tiga Puluh Dua Tanda Manusia Agung
Tidak lama setelah kelahiran, para brahmana ahli nujum dipanggil untuk memeriksa bayi tersebut.
Mereka menemukan pada tubuh Sang Bodhisatta tiga puluh dua tanda Mahāpurisa (Manusia Agung).
Berdasarkan tanda-tanda itu mereka meramalkan bahwa anak tersebut hanya memiliki dua kemungkinan masa depan:
1. menjadi seorang Cakkavatti (Raja Pemutar Roda yang memerintah seluruh dunia dengan kebajikan), atau
2. menjadi seorang Buddha yang Tercerahkan Sempurna.
Ayah Sang Bodhisatta tentu menginginkan putranya menjadi seorang Cakkavatti.
Karena itulah ia membesarkan putranya di tengah kemewahan yang luar biasa dan berusaha menyembunyikan dari beliau segala sesuatu yang berkaitan dengan:
• usia tua,
• penyakit,
• kematian, dan
• kehidupan seorang petapa.
Namun, takdir seorang Bodhisatta tidak mungkin dihalangi.
Pada akhirnya beliau tetap melihat empat pemandangan agung yang menggugah batinnya:
1. seorang tua,
2. seorang sakit,
3. seorang mati, dan
4. seorang petapa yang hidup tenang.
Pada beberapa Buddha masa lampau, keempat pemandangan ini terlihat pada waktu yang berbeda-beda.
Namun, pada Bodhisatta yang lain, semuanya dapat terlihat pada hari yang sama.
Didorong oleh keinginan untuk menemukan sebab penderitaan dan jalan menuju akhir penderitaan, Sang Bodhisatta akhirnya meninggalkan kehidupan duniawi tepat pada hari kelahiran putra-Nya.

Diambil dan diedit oleh PMd Tjan Sie Tek, Penerjemah Tersumpah, dari Bodhisattta di Dictionary of Pali Proper Names oleh Prof. Dr. G.P. Malalasekara (1899-1973)

General Partnership

0

Istilah general partnership artinya firma. Semua peseronya memiliki tanggung jawab yang tidak terbatas pada jumlah seronya saja melainkan semua utangnya. Ada tiga jenis peseronya: (i) secret partner (pesero atau sekutu rahasia) yaitu pesero yang aktif tetapi tidak mengungkapkan identitasnya kepada masyarakat; (ii) silent partner (pesero atau sekutu diam) yang diketahui oleh umum sebagai pesero tetapi tidak aktif dalam pengelolaan perseroan; dan (iii) dormant partner (pesero atau sekutu tidur) yang tidak diketahui oleh umum sebagai pesero dan juga tidak aktif dalam pengurusan.

Tentang arti-arti lain sejumlah isitlah investasi, silakan kunjungi www.tjansietek.com/dictionary/

Limited Partnership

0

Commanditaire Venootschap (CV). Dalam CV, ada dua jenis pesero: (i) general partner (pesero aktif, BUKAN pesero atau sekutu umum) yang mengurus perseroan dan bertanggung jawab untuk semua utang perseroan selain jumlah uang seronya; dan (ii) limited partner (pesero diam) yang tidak boleh aktif mengelola perseroan tetapi tanggung jawabnya hanya terbatas pada jumlah uang seronya.

Untuk sejumlah istilah investasi lain dalam bahasa Inggeris, silakan kunjungi www.tjansietek.com/dictionary/

Strategic sale

0

Strategic sale sangat terkait dengan strategi perusahaan. Seperti namanya, strategic sale adalah tindakan yang dilakukan sebagai bagian dari rencana strategis perusahaan untuk mencapai tujuan jangka panjang. Ini bukan sekadar penjualan aset atau bisnis untuk keuntungan jangka pendek, melainkan langkah yang dirancang untuk mendukung visi dan misi perusahaan secara keseluruhan.

Hubungan Strategic Sale dengan Strategi Perusahaan:

1. Fokus pada Bisnis Inti:

   – Perusahaan mungkin menjual divisi atau aset yang tidak lagi sejalan dengan strategi utama mereka. Ini membantu perusahaan berkonsentrasi pada area bisnis yang paling menguntungkan atau memiliki prospek pertumbuhan terbaik. Selanjutnya, silakan kunjungi https://tjansietek.com/strategic-sale/

Adakah yang perlu Terjemahan Tersumpah?

0

Silakan hubungi kami di nomor telepon dan WA yang tertulis di flyer di atas itu. Tersedia diskon 20% bagi Buddhis yang perlu. Terima kasih ya.

director: apa artinya?

0

Kesalahan terjemahan umum bahasa Indonesia bahwa istilah “director” sebuah perseroan tidak boleh diterjemahkan menjadi “direktur” melainkan “pengurus” jika perseroan itu hanya memiliki sebuah dewan. Jadi, istilah “board of directors” diterjemahkan menjadi “dewan pengurus.”

Istilah “director” bisa berarti (1) “direktur” jika ditambahkan dengan kata “executive” sehingga menjadi “executive director,” dan (2) “komisaris” jika ditambahkan dengan kata “non-executive” sehingga menjadi “non-executive director.” Istilah “komisaris independen” diterjemahkan menjadi “independent non-executive director.” Adakah istilah “direktur independen” di Indonesia?

Dalam tata bahasa Inggeris, istilah “executive director” disingkat menjadi “director” untuk penyebutan kali kedua dan seterusnya.

Selanjutnya, kunjungilah https://tjansietek.com/director/

Commissioner: apa sebenarnya artinya?

0

Commissioner

Di Hong Kong, Inggris, Amerika dan negeri-negeri lain yang berbahasa Inggeris dan menganut common law, commissioner adalah pegawai negeri, atau pejabat suatu badan semi-pemerintah, atau publik, bukan badan swasta.

Untuk info selengkapnya, kunjungi https://tjansietek.com/commissioner/