14.1 Tata bahasa Indonesia:
1. Huruf besar di awal kata hanya dipakai untuk kata benda nama diri, misalnya Jakarta, John, Juni, dan ketika kata itu memulai kalimat.
2.Huruf besar juga menunjukkan seseorang yang besar dan terhormat, misalnya Sang Buddha, hanya dipakai jika orang lain yang bersangkutan telah mengetahui kebesarannya.Contoh: sebelum menjadi siswa Sang Buddha, Uruvelā Kassapa bercakap-cakap dengan-Nya tanpa mengubah kata “Buddha” diawali dengan kata “Sang” dan “engkau” tanpa mengubahnya menjadi huruf besar “Engkau.”
14.2 Selama masa hidup Sang Buddha, pemujaan api yang dipraktikkan oleh Kassapa bersaudara—Uruvelā Kassapa, Nadī Kassapa, dan Gayā Kassapa— dan 1.000 pengikut pertapa mereka yang berambut gimbal menggambarkan puncak ritualisme Veda, kemurnian pertapaan, dan keahlian spiritual di India kuno. Merawat api suci diyakini dapat membersihkan karma buruk dan menghubungkan umat manusia dengan para deva.
14.3 Makna dan tujuan pemujaan api
Pengorbanan Veda: Praktik itu berasal dari tradisi Veda kuno saat persembahan (seperti bubur nasi dengan gula) ke dalam api suci menjaga tatanan di bumi ini dan menyenangkan para dewa.
Kassapa bersaudara, terutama Uruvelā Kassapa yang tertua, menjadi terkenal di seluruh India karena praktik yang salah itu dan praktik mereka adalah pemuncak kepercayaan Veda di India. Karena itu, mereka menganggap diri mereka sebagai Arahat dan demikian juga orang lain yang memuja mereka.
Sang Buddha menunjukkan 16 keajaiban dirinya untuk menunjukkan kepada Uruvelā Kassapa bahwa Ia maha suci.
Jalan menuju kesucian: Saudara-saudara itu percaya bahwa memelihara api dan hidup sebagai pertapa berambut gimbal (jatila) merupakan jalan tertinggi menuju kesucian, pahala, dan pembebasan tertinggi.
- Sang Buddha memperbaiki kesalahan pandangan itu dengan mengumpamakan api yang membakar indria-indria kita:
- Kesombongan spiritual: Uruvelā Kassapa sangat dihormati di seluruh India sebagai seorang bijak dan guru agung, yang secara keliru percaya bahwa ia telah mencapai pencerahan penuh.
Melalui 16 keajaiban-Nya yang dipertontonkan-Nya di hadapan Uruvelā Kassapa di bawah ini, Sang Buddha merontokkan pandangan salah orang India pada waktu tentang Uruvelā Kassapa.
14.4 Inilah ceritanya:
Keajaiban-keajaiban
Setelah menegakkan kelompok tiga puluh pangeran yang berbahagia dalam tiga jalan dan buah-buah (magga dan phala) yang lebih rendah dan menahbiskan mereka, Sang Buddha melanjutkan perjalanannya dan tiba di Uruvelā.
Pada saat itu, ada tiga bersaudara petapa: 1) Uruvelā Kassapa, yang merupakan kakak tertua dan pemimpin serta guru 500 siswa petapa; 2) Nadī Kassapa, yang merupakan saudara tengah dan pemimpin serta guru 300 siswa petapa; dan 3) Gayā Kassapa, saudara termuda, pemimpin dan guru 200 siswa petapa.
Keajaiban Pertama
Sang Buddha pergi ke petapaan Uruvelā Kassapa dan mengajukan permohonan demikian: “Jika tidak terlalu memberatkan bagimu, wahai Kassapa, Aku ingin menginap di rumah apimu untuk satu malam.” — “Itu tidak memberatkan bagiku,” jawab Uruvelā Kassapa, “namun, yang ingin kukatakan kepadamu adalah, di rumah api ini, ada seekor Si Nāga (ular naga) yang sangat buas dan kuat, memiliki bisa yang sangat beracun dan berbahaya seketika. Aku tidak ingin Raja Si Nāga itu menyakitimu, bhikkhu.” Sang Buddha mengajukan permohonan untuk kedua kalinya, dan juga untuk ketiga kalinya, dan Uruvelā Kassapa memberikan jawaban yang sama. Ketika Sang Buddha mengajukan permohonan untuk keempat kalinya dengan berkata: “Wahai Kassapa, Raja Si Nāga itu tidak dapat menyakiti Aku, Sang Buddha. Aku hanya memintamu untuk mengijinkan aku tinggal di rumah api.” Akhirnya, Uruvelā Kassapa memberikan persetujuannya dengan berkata: “Tinggallah dengan senang hati, wahai bhikkhu, selama yang kauinginkan!”
Setelah ijin diberikan oleh Uruvelā Kassapa, Sang Buddha memasuki rumah api, menyebarkan tikar rumput kecilnya dan duduk bersila di atasnya, menegakkan tubuhnya dan mengarahkan pikirannya dengan tajam pada objek meditasi.
Ketika Si Nāga melihat Sang Buddha memasuki rumah api, ia sangat marah dan meniupkan asap terus-menerus ke arah Sang Buddha dengan maksud untuk memusnakannya dan mengubahnya menjadi abu.
Kemudian, Sang Buddha berpikir: “Bagaimana jika Aku mengalahkan kekuatan Si Nāga dengan kekuatan-Ku, tanpa melukai kulit atau kulit luarnya, daging atau uratnya, tulang atau sumsumnya!” dan kemudian Ia meniupkan asap yang jauh lebih dahsyat daripada asap Si Nāga dengan mengerahkan kekuatan ajaibnya, namun, tidak untuk menyakiti atau melukai bagian tubuhnya. Karena tidak dapat menahan amarahnya, Si Nāga mengeluarkan api yang berkobar lagi. Dengan mengembangkan pengkhusukan (jhāna) elemen api (tejo-kasiṇa), Sang Buddha menghasilkan api yang lebih dahsyat. Seluruh rumah api tampak berkobar karena api yang sangat besar dari Sang Buddha dan Si Nāga.
Kemudian, para petapa, yang dipimpin oleh guru mereka Uruvelā Kassapa, berkumpul di sekitar rumah api dan dengan ketakutan, Uruvelā Kassapa berkata: “Teman-teman! Bhikkhu besar yang sangat tampan itu telah dicelakakan oleh Si Nāga!”
Ketika malam telah berlalu dan pagi tiba, Sang Buddha, setelah mengalahkan Si Nāga dengan kekuatannya tanpa menyentuh atau melukai bagian tubuhnya, menempatkannya di dalam mangkuk mangkuk derma-Nya dan menunjukkannya kepada Uruvelā Kassapa, sambil berkata: “Kassapa! Inikah Si Nāga yang kaukatakan? Aku telah mengalahkannya dengan kekuatanku.”
Langsung setelah itu, Uruvelā Kassapa berpikir: “Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa karena ia mampu mengalahkan Si Nāga yang buas dan kuat yang memiliki bisa yang sangat beracun dan berbahaya seketika. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya (āsava) telah dihancurkan.”
Karena sangat terkesan oleh pertunjukan pertama keajaiban (pāṭihāriya) ini dengan menjinakkan Si Nāga, Uruvelā Kassapa memberikan undangannya kepada Sang Buddha, sambil berkata: “Wahai bhikkhu besar, tinggallah saja di sini dan aku akan menawarkan persediaan makanan yang terus-menerus kepadamu.”
Keajaiban Kedua
Setelah itu, Sang Buddha tinggal di sebuah hutan di dekat petapaan Uruvelā Kassapa. Ketika jam jaga pertama malam (jam 18.00-22.00) telah berlalu dan tengah malam tiba, Empat Raja Besar dari empat penjuru (Cātu-mahā-rājika), dengan kemegahan yang sangat menyenangkan, menerangi seluruh hutan dengan cahaya tubuh mereka, pergi ke hadapan Sang Buddha, memberikan penghormatan kepada-Nya dengan rasa hormat dan ketaatan yang layak, dan berdiri pada jarak yang tepat seperti empat api unggun besar di empat penjuru.
Ketika malam telah berlalu dan pada hari fajar, pada keesokan paginya, Uruvelā Kassapa datang dan bertanya kepada Sang Buddha: “Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar! Makanan telah siap. Silakan datang dan makan. Wahai bhikkhu besar! Siapakah mereka, dengan kemegahan yang sangat menyenangkan, yang datang ke hadapanmu, menerangi seluruh hutan dengan cahaya tubuh mereka setelah malam telah cukup maju hingga tengah malam, dan setelah memberikan penghormatan dengan rasa hormat dan ketaatan yang layak, berdiri seperti empat api unggun besar di empat penjuru?” Ketika Sang Buddha menjawab: “Mereka adalah Empat Raja Besar dari empat penjuru, wahai Kassapa! Mereka datang kepada-Ku untuk mendengarkan Dhamma.” Uruvelā Kassapa berpikir: “Bahkan Empat Raja Besar dari empat penjuru datang ke bhikkhu ini untuk mendengarkan Dhamma. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”

Pada saat itu, meskipun Sang Buddha menyadari apa yang ada dalam pikiran Uruvelā Kassapa, Ia menahan diri dan tetap sabar, menunggu pematangan indria-indria petapa itu, dan ia tetap tinggal di hutan, menerima dan mengambil makanan yang ditawarkan oleh Uruvelā Kassapa.
Keajaiban Ketiga
Pada malam berikutnya ketika jam jaga pertama malam telah berlalu dan tengah malam tiba, Sakka, Raja Para Dewa, dengan kemegahan yang sangat menyenangkan, menerangi seluruh hutan dengan cahaya tubuhnya yang lebih menyenangkan dan bahkan lebih besar kecerahannya daripada cahaya Empat Raja Besar dari empat penjuru sebelumnya, datang ke hadapan Sang Buddha, memberikan penghormatan kepada-Nya dengan rasa hormat dan ketaatan yang layak, dan berdiri pada jarak yang tepat seperti api unggun besar.
Ketika malam telah berlalu, keesokan paginya, Uruvelā Kassapa pergi dan bertanya kepada Sang Buddha; “Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar! Makanan telah siap. Silakan datang dan makan. Wahai bhikkhu besar! Siapakah dia, dengan kemegahan yang sangat menyenangkan, yang datang ke hadapanmu setelah malam telah cukup maju hingga tengah malam, menerangi seluruh hutan dengan cahaya tubuhnya yang lebih menyenangkan dan bahkan lebih besar kecerahannya daripada cahaya Empat Raja Besar dari empat penjuru sebelumnya, dan yang, setelah memberikan penghormatan kepadamu dengan rasa hormat dan ketaatan yang layak, berdiri pada jarak yang tepat seperti api unggun besar?”
Ketika Sang Buddha menjawab: “Itu adalah Sakka, Raja Para Dewa, wahai Kassapa; ia datang kepada-Ku untuk mendengarkan Dhamma,” Uruvelā Kassapa berpikir: “Bahkan Sakka, Raja Para Dewa, harus datang ke bhikkhu ini untuk mendengarkan Dhamma. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”
Pada saat itu, meskipun Sang Buddha menyadari apa yang ada dalam pikiran Uruvelā Kassapa, ia menahan diri dan tetap sabar, menunggu pematangan indria-indria petapa itu, dan ia tetap tinggal di hutan, menerima dan mengambil makanan yang ditawarkan oleh Uruvelā Kassapa.
Keajaiban Keempat
Lagi pada malam berikutnya, ketika jam jaga pertama malam telah berlalu dan tengah malam tiba, Brahma Sahampati, dengan kemegahan yang sangat menyenangkan, menerangi seluruh hutan dengan cahaya tubuhnya, yang lebih menyenangkan dan bahkan lebih besar kecerahannya daripada cahaya Empat Raja Besar dan Raja Dewa Sakka, datang ke hadapan Sang Buddha, memberikan penghormatan kepada-Nya [409] dengan rasa hormat dan ketaatan yang layak, berdiri pada jarak yang tepat seperti api unggun besar.
Kemudian ketika malam telah berlalu, pada fajar, keesokan paginya, Uruvelā Kassapa pergi dan bertanya kepada Sang Buddha: “Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar! Makanan telah siap. Silakan datang dan makan. Wahai bhikkhu besar! Siapakah dia, dengan kemegahan yang sangat menyenangkan, yang datang ke hadapanmu setelah malam telah cukup maju hingga tengah malam, menerangi seluruh hutan dengan cahaya tubuhnya yang lebih menyenangkan dan bahkan lebih besar kecerahannya daripada cahaya Empat Raja Besar dan Raja Dewa Sakka, dan yang, setelah memberikan penghormatan kepadamu dengan rasa hormat dan ketaatan yang layak, berdiri pada jarak yang tepat seperti api unggun besar.”
Ketika Sang Buddha menjawab: “Itu adalah Brahma Sahampati, Kassapa! Ia datang kepada-Ku untuk mendengarkan Dhamma,” Uruvelā Kassapa berpikir lagi demikian: “Bahkan Brahma Sahampati harus datang ke bhikkhu ini untuk mendengarkan Dhamma. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”
Pada saat itu, meskipun Sang Buddha menyadari apa yang ada dalam pikiran Uruvelā Kassapa, ia menahan diri dan tetap sabar, menunggu pematangan indria-indria petapa itu, dan ia tetap tinggal di hutan, menerima dan mengambil makanan yang ditawarkan oleh Uruvelā Kassapa.
Keajaiban Kelima
Kebiasaan masyarakat negara Aṅga dan Magadha adalah untuk memberikan penghormatan kepada Uruvelā Kassapa dalam sebuah festival pemberian dana bulanan, yang diadakan dalam skala besar. Ketika Sang Buddha tinggal di hutan Uruvelā, hari untuk mengadakan festival itu mendekat. Pada malam sebelum festival, orang-orang sedang mengatur persiapan makanan dan hidangan dan akan pergi ke Uruvelā Kassapa keesokan paginya untuk memberikan penghormatan mereka. Pada saat itu, Uruvelā Kassapa berpikir: “Festival besar penghormatan kepadaku kini sedang berlangsung. Semua rakyat Aṅga dan Magadha akan datang ke petapaanku pada fajar, mereka membawa jumlah besar makanan, keras dan lunak. Ketika mereka tiba dan berkumpul, jika bhikkhu besar yang memiliki kekuatan batin besar menampilkan keajaiban di tengah-tengah orang-orang itu, mereka akan menunjukkan banyak ketaatan kepadanya. Maka, keuntungannya akan meningkat hari demi hari. Adapun aku, karena keyakinan mereka kepadaku akan berkurang, hadiah dan persembahan akan menurun hari demi hari. Akan baik jika bhikkhu besar itu dengan ramah menahan diri dari datang ke petapaanku untuk makanannya keesokan hari.”
Sang Buddha, setelah mengetahui pikiran Uruvelā Kassapa oleh kekuatan ajaibnya membaca pikiran orang lain (ceto-pariyāya-abhiññā), pergi ke benua bagian utara, Uttarakuru dan, setelah mengumpulkan makanan dana di sana, Ia memakannya di dekat Danau Anotatta di Himalaya dan menghabiskan hari di hutan cendana di tepi danau. Kemudian, pada hari berikutnya, bahkan sebelum fajar, ia kembali ke hutan Uruvelā dan tinggal di sana.
Menurut Mahāvaṁsa, pada saat itu Sang Buddha pergi ke Laṅkādīpa (Ceylon) sendirian pada sore hari mengetahui bahwa ini akan menjadi tempat saat Sāsana akan berkembang di masa depan dan, setelah para yakkha ditaklukkan dan dijinakkan, Ia memberikan segenggam rambutnya kepada Sumana Deva untuk disembah selamanya.
Keesokan harinya, ketika tiba waktunya untuk makan, Uruvelā Kassapa pergi ke hadapan Sang Buddha dan berkata kepada-Nya dengan sopan: “Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar! Makanan telah siap, silakan datang dan makan. Wahai bhikkhu besar! Mengapa kau tidak datang kemarin? Kami bertanya-tanya mengapa kau tidak datang. Sebagian makanan telah disisihkan untukmu.”
Sang Buddha berkata: “Kassapa! Kemarin bukankah terpikir olehmu demikian: ‘Festival besar penghormatan kepadaku kini sedang berlangsung. Semua rakyat Aṅga dan Magadha akan datang ke petapaanku pada fajar, mereka membawa besar makanan, keras dan lunak. Ketika mereka tiba dan berkumpul, jika bhikkhu besar yang memiliki kekuatan batin besar menampilkan keajaiban di tengah-tengah orang-orang itu, mereka akan menunjukkan banyak ketaatan kepadanya. Maka, keuntungannya akan meningkat hari demi hari. Adapun aku, karena keyakinan mereka kepadaku akan berkurang, hadiah dan persembahan akan menurun hari demi hari. Akan baik jika bhikkhu besar itu dengan ramah menahan diri dari datang ke petapaanku untuk makanannya keesokan hari.’ Wahai Kassapa! Mengetahui pikiranmu melalui kekuatan membaca pikiran orang lain, kemarin pagi Aku pergi kemarin ke benua bagian utara, Uttarakuru dan, setelah mengumpulkan makanan dana di sana, Aku memakannya di dekat Danau Anotatta di Himalaya dan menghabiskan hari di hutan cendana di tepi danau.”
Sekali lagi Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Bhikkhu besar ini memang dapat membaca pikiranku. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”
Pada saat itu, meskipun Sang Buddha menyadari apa yang ada dalam pikiran Uruvelā Kassapa, ia menahan diri dan tetap sabar, menunggu pematangan indria-indria petapa itu, dan ia tetap tinggal di hutan, menerima dan mengambil makanan yang ditawarkan oleh Uruvelā Kassapa.
Keajaiban Keenam
Suatu hari, ketika seorang budak perempuan pedagang dari Senānigama, bernama Puññā, meninggal dan mayatnya (utuja-rūpa) dibungkus di kain serat rami dan ditinggalkan di kuburan. Setelah dengan lembut membersihkan beban besar belatung, Sang Buddha mengambil kain serat rami itu untuk dikenakannya sebagai jubah yang terbuat dari kain kotoran yang diambil dari tumpukan sampah (paṁsukūla).
Pada saat itu, bumi besar berguncang hebat dengan suara gemuruh sebagai bentuk pujian. Seluruh langit juga bergemuruh dengan suara guntur dan semua deva dan Brahma bertepuk tangan dengan berseru: Bagus sekali!
Sang Buddha kembali ke tempat tinggalnya di hutan Uruvelā sambil berpikir: “Di mana Aku harus mencuci kain-kain ini?” Setelah menyadari apa yang sedang dipikirkan Sang Buddha, Raja Dewa Sakka menciptakan dengan kekuatan ajaibnya sebuah kolam empat sisi dengan hanya menyentuh bumi dengan tangannya dan berkata kepada-Nya: ” Sang Buddha yang Agung! Semoga Engkau mencuci kain-kain itu di kolam ini.”
Sang Buddha mencuci kain-kain itu di kolam yang diciptakan oleh Raja Dewa Sakka. Pada saat itu juga bumi berguncang, seluruh langit bergemuruh dan semua Deva dan Brahma bertepuk tangan dengan berseru: Bagus sekali!
Setelah Sang Buddha mencuci kain-kain itu, ia mempertimbangkan: “Di mana Aku harus mencelup kain-kain ini?”
Setelah menyadari apa yang ada dalam pikiran Sang Buddha, Raja Dewa Sakka berkata kepada-Nya demikian: “Sang Buddha yang Agung! Semoga Engkau mencelup kain ini di atas batu pualam ini,” dan ia menciptakan sebuah batu pualam besar dengan kekuatan ajaibnya dan meletakkannya di dekat kolam.
Setelah Sang Buddha mencelup kain itu di atas batu pualam yang diciptakan oleh Raja Dewa Sakka, Ia mempertimbangkan: “Di mana Aku harus menjemur kain ini?”
Kemudian, seorang dewa, yang tinggal di pohon salam (Kakudha) di dekat petapaan, menyadari apa yang ada dalam pikiran Sang Buddha, berkata kepada-Nya: “Sang Buddha yang Agung! Semoga engkau menjemur kain-kain ini di pohon salam ini,” dan ia menyebabkan dahan pohon itu membungkuk.
Setelah Sang Buddha menjemur kain itu di dahan pohon salam, ia mempertimbangkan: “Di mana Aku harus membentangkannya untuk meratakannya?” Raja Dewa Sakka, menyadari apa yang ada dalam pikiran Sang Buddha, berkata kepada-Nya: “Sang Buddha yang Agung! Semoga engkau membentangkan kain ini di atas batu pualam ini untuk meratakannya,” dan ia meletakkan sebuah batu pualam besar di sana.
Ketika pagi tiba, Uruvelā Kassapa mendekati Sang Buddha dan bertanya kepada-Nya: “
Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar. Makanan telah siap. Silakan datang dan makan. Bagaimana, bhikkhu besar? Kolam empat sisi ini tidak ada di sini sebelumnya. Namun, sekarang, di sini terdapat kolam ini! Kedua batu pualam besar ini tidak diletakkan oleh kami. Siapa yang telah meletakkannya? Lalu, pohon salam ini tidak pernah membungkuk sebelumnya, mengapa sekarang ia membungkuk?”
Setelah itu, Sang Buddha menceritakan semua yang telah terjadi dimulai dari pengambilan kain-kain itu. Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Bahkan Sakka, penguasa Para Dewa, harus datang dan melakukan semua tugas-tugas kecil untuk bhikkhu ini. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”
Pada saat itu, meskipun Sang Buddha menyadari apa yang ada dalam pikiran Uruvelā Kassapa, ia menahan diri dan tetap sabar, menunggu pematangan indria-indria petapa itu, dan ia tetap tinggal di hutan, menerima dan mengambil makanan yang ditawarkan oleh Uruvelā Kassapa.
Keajaiban Ketujuh
Ketika hari berikutnya tiba, Uruvelā Kassapa mendekati Sang Buddha dan mengundangnya, sambil berkata: “Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar! Makanan telah siap. Silakan datang dan makan!” Kemudian, Sang Buddha menyuruhnya pergi dengan berkata: “Kau pergi dulu, wahai Kassapa, Aku akan mengikuti.” Sang Buddha kemudian pergi ke pohon jambu di ujung Jambudīpa (salah satu di antara empat Mahādīpa, atau empat benua, yang termasuk di Cakkavāla dan diperintah oleh seorang Cakkavatti; lokasi empat benua itu di sekitar Gung Sineru atau Semuru) dan, dengan membawa sebutir buah jambu, kembali mendahului Uruvelā Kassapa dan duduk di rumah api Uruvelā Kassapa.
Ketika melihat Sang Buddha, Uruvelā Kassapa, yang datang setelahnya, namun, telah tiba di rumah api sebelumnya dan sedang duduk di sana, bertanya kepada Sang Buddha demikian: “Bhikkhu! Meskipun aku datang mendahuluimu dan engkau datang setelahku, engkau telah tiba di rumah api sebelumku dan sedang duduk di sini. Lewat jalan mana engkau datang, Bhikkhu?” Sang Buddha menjawab: “Kassapa, setelah Aku menyuruhmu pergi dulu, Aku pergi ke pohon jambu di ujung Jambudīpa dan, dengan membawa sebutir buah jambu, Aku kembali mendahuluimu dan duduk di rumah api. Wahai Kassapa, buah jambu ini, memiliki warna, bau, dan rasa yang baik. Makanlah jika kau menginginkannya.” Lalu, Uruvelā Kassapa menjawab: “Bhikkhu besar! Cukuplah! Engkaulah yang berhak atas buah itu. Engkaulah yang harus memakannya.”
Lagi, Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Setelah menyuruhku pergi dulu, bhikkhu ini pergi ke pohon jambu di ujung Jambudīpa dan, dengan membawa sebutir buah jambu, kembali mendahuluiku dan duduk di rumah api. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya (āsava) telah dihancurkan.”
Pada saat itu, meskipun Sang Buddha menyadari apa yang ada dalam pikiran Uruvelā Kassapa, ia menahan diri dan tetap sabar seperti sebelumnya, menunggu pematangan indria-indria petapa itu, dan ia tetap tinggal di hutan, menerima dan mengambil makanan yang ditawarkan oleh Uruvelā Kassapa.
Keajaiban Kedelapan, Kesembilan, Kesepuluh, dan Kesebelas
Keesokan paginya, ketika Uruvelā Kassapa pergi ke hadapan Sang Buddha dan mengundangnya sambil berkata: “Ini waktu makan, wahai bhikkhu besar! Makanan telah siap. Silakan datang dan makan!” Sang Buddha menyuruhnya pergi dengan berkata: “Kassapa! Pergi dulu. Aku akan mengikuti,” dan kemudian:
1. Setelah pergi ke pohon mangga yang berada di dekat pohon jambu, di ujung Jambudīpa dan dengan membawa sebutir buah mangga, Sang Buddha kembali mendahului Uruvelā Kassapa dan duduk di rumah api Uruvelā Kassapa.
2. Setelah pergi ke pohon emblic myrobalan (amlaka) yang berada di dekat pohon jambu itu, di ujung Jambudīpa dan dengan membawa sebutir buah emblic myrobalan, Sang Buddha kembali mendahului Uruvelā Kassapa dan duduk di rumah api Uruvelā Kassapa.
3. Pergi ke pohon mojokeling (haritaki) yang berada di dekat pohon jambu, di ujung Jambudīpa dan dengan membawa sebutir buah mojokeling, Sang Buddha kembali mendahului Uruvelā Kassapa dan duduk di rumah api Uruvelā Kassapa.
4. Setelah pergi ke alam Dewa Tāvatiṁsa dan membawa bunga karang (parijata), Sang Buddha kembali mendahului Uruvelā Kassapa dan duduk di rumah api Uruvelā Kassapa.
Ketika melihat Sang Buddha, yang telah mengikutinya, namun, telah tiba di rumah api sebelumnya dan sedang duduk di sana, Uruvelā Kassapa bertanya kepada Sang Buddha demikian: “Meskipun Aku datang mendahuluimu, bhikkhu, engkau yang datang setelahku telah tiba di rumah api sebelumku dan sedang duduk di sini. Lewat jalan mana engkau datang, bhikkhu?”
Sang Buddha menjawab: “Wahai Kassapa, etelah Aku menyuruhmu pergi dulu Aku pergi ke pohon mangga … pohon emblic myrobalan … pohon mojokeling … Tāvatiṁsa dan, membawa bunga karang , kembali mendahuluimu dan duduk di rumah api. Wahai Kassapa, bunga karang ini memiliki warna dan aroma yang baik. Ambillah jika kau menginginkannya,” dan Uruvelā Kassapa menjawab: “Cukuplah! Wahai bhikkhu besar! Engkaulah yang berhak atas bunga karang itu. Engkaulah yang harus mengambilnya.”
Lalu, Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Setelah menyuruhku pergi dulu, bhikkhu ini pergi ke alam Dewa Tāvatiṁsa dan, dengan membawa bunga karang , kembali mendahuluiku dan duduk di rumah api. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”
Keajaiban Keduabelas
Pada suatu kesempatan, 500 petapa, karena ingin melakukan pemujaan api, berusaha membelah kayu-kayu bakar menjadi potongan-potongan, namun, tidak mampu melakukannya. Kemudian, mereka berpikir: “Ketidakmampuan kami membelah kayu bakar ini pasti disebabkan oleh kekuatan ajaib bhikkhu itu.”
Ketika Uruvelā Kassapa melaporkan hal tersebut kepada Sang Buddha, Sang Buddha bertanya: “Wahai Kassapa, apakah kau ingin agar kayu-kayu itu dibelah?” dan Uruvelā Kassapa menjawab: “Bhikkhu besar, kami ingin agar kayu-kayu itu dibelah.”
Karena kekuatan ajaib Sang Buddha, 500 batang kayu bakar itu seketika terbelah menjadi potongan-potongan dengan menghasilkan suara retakan secara serentak.
Lalu, Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Bhikkhu ini mampu membelah seketika kayu-kayu yang tidak dapat dilakukan oleh siswa-siswaku. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”
Keajaiban Ketigabelas
Pada kesempatan lain, 500 petapa tidak mampu menyalakan api untuk pelaksanaan pemujaan api meskipun mereka telah berusaha. Kemudian, mereka berpikir: “Ketidakmampuan kami menyalakan api ini pasti disebabkan oleh kekuatan ajaib bhikkhu itu.”
Ketika Uruvelā Kassapa melaporkan hal tersebut kepada Sang Buddha, Ia pun bertanya: “Kassapa, apakah engkau ingin agar api-api itu berkobar?” dan Uruvelā Kassapa menjawab: “Bhikkhu besar, kami ingin agar api-api itu berkobar!” Karena kekuatan ajaib Sang Buddha, 500 api unggun besar secara ajaib berkobar sekaligus.
Lalu, Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Bhikkhu ini menyalakan 500 api unggun secara serentak, yang tidak dapat dilakukan oleh siswa-siswaku. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”
Keajaiban Keempatbelas
Lagi pada kesempatan lain, 500 petapa tidak mampu memadamkan api-api yang berkobar setelah pelaksanaan pemujaan api. Kemudian, mereka berpikir: “Ketidakmampuan kami memadamkan api-api yang berkobar ini pasti disebabkan oleh kekuatan ajaib bhikkhu itu.”
Ketika Uruvelā Kassapa melaporkan hal tersebut kepada Sang Buddha, ia bertanya: “Kassapa, apakah engkau ingin agar nyala-nyala api itu dipadamkan?” dan Uruvelā Kassapa menjawab: “Wahai bhikkhu besar, kami ingin agar nyala-nyala api itu dipadamkan.” Karena kekuatan ajaib Sang Buddha, 500 api unggun besar secara ajaib padam sekaligus.
Lalu, Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Bhikkhu ini mampu memadamkan sekaligus 500 api unggun besar yang tidak dapat dipadamkan oleh siswa-siswaku. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”
Keajaiban Kelimabelas
Masih pada kesempatan lain, 500 petapa turun ke sungai Nerañjarā pada malam-malam musim dingin yang disebut delapan di antaranya (antaraṭṭhaka), yaitu ketika terjadi hujan salju yang sangat lebat dan ketika cuaca teramat dingin. Sebagian petapa dengan keliru percaya bahwa: “Dengan keluar dari air sekali, perbuatan jahat dapat dibersihkan,” naik ke tepi sungai setelah membenamkan seluruh tubuh mereka dan keluar dari air hanya sekali. Banyak di antara mereka memiliki keyakinan demikian. Mereka membenamkan diri hanya karena tidak mungkin keluar tanpa membenamkan diri. Sebagian petapa dengan keliru percaya bahwa: “Dengan membenamkan diri sekali, perbuatan jahat dapat dibersihkan,” terjun sekali dengan kepala mereka di bawah air dan naik ke tepi sungai segera setelah mereka muncul dari air, namun, hanya sedikit yang memiliki keyakinan demikian.
Sebagian petapa dengan keliru percaya bahwa: “Jika mandi dilakukan dengan berulang kali membenamkan dan keluar, perbuatan jahat dapat dibersihkan,” mandi di sungai, terus-menerus membenamkan dan keluar dari air. Banyak di antara mereka memegang keyakinan demikian.
Kemudian, Sang Buddha menciptakan 500 anglo (pemanas). Para petapa menghangatkan diri mereka di 500 anglo itu ketika mereka keluar dari air. Kemudian, 500 petapa itu berpikir: “Penciptaan 500 anglo ini pasti disebabkan oleh kekuatan ajaib bhikkhu itu.”
Lalu, Uruvelā Kassapa berpikir demikian: “Bhikkhu besar ini memang dapat menciptakan anglo-anglo ini yang berjumlah 500. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”
Keajaiban Keenambelas
Suatu hari, terjadi hujan lebat yang tidak pada musimnya di hutan Uruvelā, tempat Sang Buddha tinggal; aliran air deras mengalir tanpa henti. Tempat tinggal Sang Buddha berada di dataran rendah dan, karenanya, rawan tergenang. Kemudian, terpikir oleh Sang Buddha demikian: “Akan baik jika Aku menahan aliran air di sekeliling dan berjalan mondar-mandir di atas tanah gundul yang dikelilingi oleh air dan tertutup tebal oleh debu.” Karena itu, ia menahan aliran air di sekelilingnya dan berjalan mondar-mandir di atas tanah gundul yang dikelilingi oleh air dan tertutup tebal oleh debu.
Pada saat itu, Uruvelā Kassapa, karena berpikir: “Jangan sampai bhikkhu itu terkena arus deras dan terseret,” pergi mendayung perahu bersama banyak petapa ke tempat tinggal Sang Buddha. Sangat terkejutlah ia, ketika melihat bahwa aliran air di sekeliling telah ditahan dan bahwa Sang Buddha sedang berjalan mondar-mandir di atas tanah gundul yang dikelilingi oleh air dan tertutup tebal oleh debu. Karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia bertanya: “Bhikkhu besar! Bukankah memang engkau yang sedang berjalan mondar-mandir di atas tanah gundul yang dikelilingi oleh air dan tertutup tebal oleh debu?” Sang Buddha menjawab: “Ya, Kassapa, memang Aku,” dan ia naik ke langit bahkan ketika para petapa sedang memperhatikan dan turun beristirahat di perahu mereka.
Sekali lagi, Uruvelā Kassapa berpikir: “Bahkan aliran deras yang mengalir dengan kekuatan besar tidak dapat menyeret bhikkhu itu. Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa. Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.”
Uruvelā Kassapa dan siswa-siswanya menjadi bhikkhu
Pada zaman dahulu, karena indria-indria para petapa masih belum matang, Sang Buddha telah dengan sabar menanggung penghinaan mereka dan menunggu waktu ketika indria-indria mereka akan mencapai kematangan. Hampir tiga bulan telah berlalu sejak saat itu. Kini karena indria-indria mereka telah matang, Sang Buddha akan berbicara kepada mereka dengan terus-terang dan mengajar mereka dengan suatu yang membebasan mereka.
Meskipun Sang Buddha telah menunjukkan keajaiban tidak terhanyutkan oleh banjir, petapa besar itu salah berpikir seperti sebelumnya bahwa hanya dirinyalah yang merupakan Arahat tanpa kekotoran batin dan bahwa Sang Buddha belum menjadi Arahat yang kekotoran batinnya telah dihancurkan sepenuhnya.
Sementara ia sedang berpikir demikian, terpikir oleh Sang Buddha demikian: “Jika Aku terus mengabaikannya, orang yang sia-sia ini, Uruvelā Kassapa, yang terlalu jauh dari jalan-jalan (magga) dan buah-buah (phala), akan terus salah berpikir untuk waktu yang lama: ‘Bhikkhu ini memang sangat perkasa dan berkuasa! Namun, meskipun ia sangat perkasa dan berkuasa, ia belum menjadi Arahat sepertiku, yang kekotoran batinnya telah dihancurkan.’ Bagaimana jika Aku menanamkan dalam dirinya rasa mendesak kebatinan?”
Setelah berpikir demikian, Sang Buddha dengan terus-terang berkata kepada Uruvelā Kassapa tiga rangkaian kata ini: “Kassapa, 1) engkau bukanlah Arahat yang kekotoran batinnya telah dihancurkan; 2) engkau bukanlah seseorang yang telah mencapai jalan Arahat; dan 3) tidak perlu berbicara tentang pencapaian demikian, bahkan engkau tidak memiliki latihan jalan benar yang paling sedikit pun untuk pencapaian magga dan phala Arahat.”
Setelah itu, Uruvelā Kassapa, merasakan rasa mendesak kebatinan yang kuat, bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Buddha dan mengajukan permohonan: “Sang Buddha yang Agung, semoga aku menerima pabbajja (penanggalan keduniawian) sehingga masuk ke dalam Sangha dan penahbisan tinggi sebagai bhikkhu di hadapanmu.”
Setelah mengetahui kematangan indria-indria mereka, Sang Bhagava (salah satu sebutan Sang Buddha) berkata kepadanya: “Kassapa, engkau adalah pemimpin, kepala, dan yang utama dari 500 petapa, tidak akan pantas jika engkau tidak memberitahu mereka. Engkau harus terlebih dahulu minta ijin mereka dan, kemudian, 500 siswamu ini boleh melakukan apa pun yang mereka anggap tepat.”
Maka, Uruvelā Kassapa menemui 500 siswanya dan memberitahu mereka: “Wahai para petapa, aku ingin menjalani kehidupan suci di bawah bhikkhu besar itu. Kalian boleh melakukan apa pun yang kalian anggap tepat.” — “Guru besar, kami telah lama memiliki keyakinan kepada bhikkhu besar itu, sejak penjinakan Si Nāga,” jawab para petapa itu. “Jika engkau menjalani kehidupan suci di bawahnya, kami semua 500 siswa akan melakukan hal yang sama.”
Kemudian, Uruvelā Kassapa dan 500 petapa itu memotong rambut mereka, jambul rambut mereka yang kusut, mengambil kelengkapan mereka dan perabotan pengorbanan api seperti pikulan bahu dan pengaduk api, dan melepaskannya melayang di arus sungai Nerañjarā. Kemudian, mereka pergi ke hadapan Sang Buddha dan bersujud dengan kepala mereka di kaki Sang Buddha serta mengajukan permohonan: “Sang Buddha yang Agung, semoga kami menerima pabbajja dan penahbisan tinggi sebagai bhikkhu di hadapanmu.”
Setelah itu, Sang Bhagava berkata: Etha bhikkhave (Mari, para bhikkhu), dan seterusnya, yang berarti: “Mari, para bhikkhu. Terimalah pabbajja dan penahbisan tinggi yang telah kalian minta. Dhamma telah diajarkan dengan baik oleh-Ku. Berusahalah untuk menjalani latihan mulia dalam tiga aspek tingginya sehingga dapat mengakhiri putaran penderitaan.”
Seketika, ketika: Etha bhikkhave … diucapkan oleh Sang Buddha, yang mengulurkan tangan kanan keemasan-Nya, Uruvelā Kassapa dan 500 petapanya berubah menjadi bhikkhu sepenuhnya, seperti bhikkhu senior yang telah menjalani kehidupan kebhikkhuan selama 60 tahun, langsung berpakaian lengkap dan dilengkapi dengan delapan kelengkapan yang diciptakan secara ajaib, masing-masing pada tempatnya yang semestinya, sambil memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dengan rasa hormat yang layak. Tanda-tanda kepetapaan mereka lenyap secara ajaib dan mereka berubah menjadi bhikkhu.
Ucapan Sang Buddha yang ini saja: “Mari, para bhikkhu …” berarti para petapa itu menjadi bhikkhu yang sempurna. Tidak perlu ditahbiskan dengan prosedur di sebuah balai penahbisan.
??Nadī Kassapa dan Siswa-siswanya Menjadi Bhikkhu
Ketika Nadī Kassapa, yang tinggal di hilir, melihat kelengkapan para petapa yang dilepaskan melayang oleh Uruvelā Kassapa dan 500 siswanya, ia berpikir: “Aku berharap tidak ada bahaya yang menimpa kakakku.” Ia mengirimkan terlebih dahulu satu atau dua siswanya, sambil berkata: “Pergi dan cari tahu tentang kakakku,” dan ia sendiri pergi bersama 300 siswanya yang lain ke tempat tinggal Uruvelā Kassapa. Mendekati kakak tertuanya, ia bertanya: “Saudara Kassapa, apakah keadaan sebagai bhikkhu ini mulia dan terpuji?”
Setelah dijawab oleh Uruvelā Kassapa: “Memang, saudara, keadaan sebagai bhikkhu ini mulia dan terpuji,” Nadī Kassapa dan 300 siswanya, seperti yang sebelumnya dilakukan oleh Uruvelā Kassapa dan para pengikutnya, mengambil kelengkapan petapaan mereka dan perabotan pengorbanan api, dan melepaskannya melayang di arus sungai Nerañjarā. Kemudian mereka pergi ke hadapan Sang Buddha dan bersujud dengan kepala mereka di kaki Sang Buddha, serta mengajukan permohonan: “Sang Buddha yang Agung, semoga kami menerima pabbajja dan penahbisan tinggi sebagai bhikkhu di hadapanmu.”
Setelah itu, Sang Buddha berkata: Etha bhikkhave, dan seterusnya, yang berarti: “Mari, para bhikkhu. Terimalah pabbajja dan penahbisan tinggi yang telah kalian minta. Dhamma telah diajarkan dengan baik olehku. Berusahalah untuk menjalani latihan mulia dalam tiga aspek tingginya sehingga dapat mengakhiri putaran penderitaan.” Seketika, ketika: Etha bhikkhave … diucapkan oleh Sang Buddha, yang mengulurkan tangan kanan keemasannya, Nadī Kassapa dan 300 petapanya berubah menjadi bhikkhu yang sepenuhnya mapan, seperti bhikkhu senior yang telah menjalani kehidupan berkelana selama 60 tahun, siap berpakaian dan dilengkapi dengan delapan kelengkapan yang diciptakan secara ajaib, masing-masing pada tempatnya yang semestinya, sambil memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dengan rasa hormat yang layak. Tanda-tanda kepetapaan mereka lenyap secara ajaib ketika mereka berubah menjadi bhikkhu.
Gayā Kassapa dan Siswa-siswanya Menjadi Bhikkhu
Ketika Gayā Kassapa, yang tinggal di hilir, melihat kelengkapan para petapa yang dilepaskan melayang oleh Uruvelā Kassapa dan 500 siswanya gan kelengkapan yang dilepaskan melayang oleh Nadī Kassapa dan 300 siswanya, berpikir: “Aku berharap tidak ada bahaya yang menimpa kakak-kakakku, Uruvelā Kassapa dan Nadī Kassapa.” Ia mengirimkan terlebih dahulu dua atau tiga siswanya, dengan berkata: “Pergi dan cari tahu tentang kedua kakakku,” dan ia sendiri pergi bersama 200 siswanya ke tempat tinggal Uruvelā Kassapa. Setelah mendekati kakak tertuanya, ia bertanya: “Kakak Kassapa, apakah keadaan sebagai bhikkhu ini mulia dan terpuji?”
Setelah Uruvelā Kassapa menjawab: “Adik, tentu saja keadaan sebagai bhikkhu ini mulia dan terpuji,” Gayā Kassapa dan 200 siswanya, seperti yang sebelumnya dilakukan oleh Uruvelā Kassapa dan para pengikutnya, mengambil kelengkapan petapaan mereka dan perabotan pengorbanan api, dan melepaskannya melayang di arus sungai Nerañjarā.
Kemudian, mereka pergi ke hadapan Sang Buddha dan bersujud dengan kepala mereka di kaki Sang Buddha, serta mengajukan permohonan: “Sang Buddha yang Agung, semoga kami menerima pabbajja ke dalam Sangha dan penahbisan tinggi sebagai bhikkhu di hadapanmu.”
Langsung setelah itu, Sang Buddha berkata: Etha bhikkhave … dan seterusnya, yang berarti: “Mari, para bhikkhu. Terimalah pabbajja dan penahbisan tinggi yang telah kalian minta. Dhamma telah diajarkan dengan baik olehku. Berusahalah untuk menjalani latihan mulia dalam tiga aspek tingginya, sehingga dapat mengakhiri putaran penderitaan.”
Seketika, ketika: Etha bhikkhave … diucapkan oleh Sang Buddha, yang mengulurkan tangan kanan keemasannya, Gayā Kassapa dan 200 petapanya berubah menjadi bhikkhu sepnuhnya, seperti bhikkhu senior yang telah menjalani kehidupan bhikkhu selama 60 tahun, siap berpakaian dan dilengkapi dengan delapan kelengkapan yang diciptakan secara ajaib, masing-masing pada tempatnya yang semestinya, sambil memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dengan rasa hormat yang layak. Tanda-tanda bahwa mereka petapa lenyap secara ajaib ketika mereka berubah menjadi bhikkhu.
Di kisah penampilan keajaiban ini, peristiwa-peristiwa yang tidak biasa seperti ketidakmampuan para petapa itu membelah kayu bakar, pembelahan kayu bakar yang serentak dan ajaib; ketidakmampuan mereka menyalakan api, nyala api yang serentak dan ajaib; ketidakmampuan mereka memadamkan api, pemadaman api yang serentak dan ajaib; penciptaan 500 anglo; semua peristiwa itu karena tekad Sang Buddha. Jumlah keajaiban, yang dipersembahkan oleh Sang Buddha dengan cara demikian untuk membebaskan para Kassapa bersaudara dan 1.000 petapa mereka, yang disebutkan secara langsung dalam Kitab Himpunan Pāḷi adalah enam belas dan yang tidak disebutkan secara langsung adalah 3.500 sehingga totalnya 3.516.
Diterjemahkan oleh PMd Tjan Sie Tek, Penerjemah Tersumpah, dari Mahāvamsa.







