Home Blog Page 15

Bhikkhu menjadi kutu selama 7 hari setelah meninggal, lalu, masuk surga: Kisah Thera Tissa: Dhammapada 240

0

(lahir kembali sebagai kutu dan karena marah akan masuk neraka kalau tidak karena YMS Buddha)

Ketika berdiam di Vihara Jetavana (Hutan Bambu), YMS Buddha mengucapkan Stanza 240 (dari buku ini) berkenaan dengan Thera Tissa.

Suatu ketika ada seorang thera yang bernama Tissa di Savatthi. Suatu hari ia menerima seperangkat jubah yang bagus dan sangat senang. Ia ingin mengenakannya pada esok harinya. Tetapi, pada malam itu juga ia meninggal dunia dan karena pikirannya melekat pada jubah itu, ia lahir kembali sebagai kutu dan hidup di dalam lipatan-lipatan jubah itu. Karena tidak ada seorang pun yang mewarisi hartanya, diputuskan bahwa jubah tersebut sebaiknya dibagi di antara para bhikkhu yang lain. Ketika para bhikkhu sedang bersiap-siap untuk membagi rata jubah itu di antara mereka, kutu itu sangat marah dan berteriak keras,” Mereka sedang merusakkan jubahku!” Teriakan itu didengar oleh YMS Buddha dengan kuping dewa-Nya. Karena itu, beliau mengirim seseorang untuk menghentikan para bhikkhu itu dan memerintahkan mereka menangani jubah itu hanya setelah lewatnya 7 hari. Pada hari ke-8,  para bhikkhu berbagi rata  jubah  milik Thera Tissa tersebut.

Kemudian, YMS Buddha di Tanya oleh para bhikkhu mengapa beliau   memberitahu mereka  agar menunggu 7 hari sebelum berbagi rata jubah TheraTissa. Kepada mereka YMS Buddha menjawab, ”Anak-anakku, Tissa telah menjadikan pikirannya melekat pada jubah itu pada saat ia meninggal dunia. Karena itu, ia dilahirkan kembali sebagai seekor kutu dan tinggal di dalam lipatan-lipatan jubah itu. Ketika kalian semua sedang bersiap-siap berbagi rata jubah itu, Tissa, si kutu, sangat menderita dan berlari-larian di dalam lipatan-lipatan jubahitu. Jika kalian telah mengambil jubah itu pada saat tersebut, Tissa, si kutu, akan berasa sangat marah terhadap kalian dan ia akan harus masuk neraka. Tetapi, sekarang Tissa telah dilahirkan kembali di Surga Tusita dan itulah sebabnya aku telah mengijinkan kalian mengambil jubah itu. Para bhikkhu, sesungguhnya kemelekatan sangat berbahaya;  seperti karat menggerogoti besi tempatnya berasal, demikian juga kemelekatan akan menghancurkan seseorang dan mengirimkannya ke neraka. Bhikkhu sebaiknya tidak terlalu terlena dalam pemakaian keempat kebutuhan atau sangat melekat padanya.”

Kemudian, YMS Buddha mengucapkan stanza sebagai berikut:
Sebagaimana karat terbentuk dari besi dan menggerogoti besi itu, demikian juga, perbuatan jahat akan menyebabkan pelakunya masuk ke alam rendah (duggati).”

(Diterjemahkan oleh Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Resmi & Bersumpah, dari The Dhammapada Verses and Stories, terjemahan Daw Mya Tin, M.A., yang disunting oleh Komite Penyuntingan Persatuan Tipitaka Myanmar, Rangoon, Myanmar, 1986)

Peran Besar Buddhisme Zen Dalam Sukses Bisnis Jepang

0

San Ma no I

Tiga Pintu menuju Sukses

Salah satu pelajaran terpenting yang orang Jepang dapatkan dari Buddhisme Zen (jhana), terutama yang disebarluaskan di Jepang oleh Eisai (1141-1215) dan bahkan oleh Dogen (1200-1253) yang lebih terkenal, yang merupakan pendiri sekte Soto, adalah pentingnya jiwa dalam semua upaya manusia. 

Orang Jepang mendengar bahwa ada unsur kerohanian dalam segala bentuk pencapaian dan semakin besar pencapaian yang diperoleh, semakin besarlah keterlibatan jiwa di dalamnya.

Kelas pejuang samurai Jepang, yang bangkit sekitar abad ke-11 dan ke-12, menjadi penyokong besar aliran Buddhisme Zen karena aliran atau mazhab Buddhisme itu mengajarkan gaya hidup ketat yang digabungkan dengan dedikasi yang hampir kerasukan untuk berlatih gaya hidup dan seni. Karena kehidupan para samurai bergantung pada keterampilan yang luar biasa dalam seni bela diri dan akhirnya juga pada tingkat keterampilan yang sama-sama luar biasa dalam etiket sosial yang ketat, Zen menjadi tuntunan kerohanian sekaligus pedoman latihan mereka.

Para samurai adalah kelas penguasa Jepang dari sekitar tahun 1185 hingga 1868. Meskipun mereka hanya terdiri dari sepuluh persen populasi, mereka menentukan standar-standar dalam setiap segi kehidupan setiap orang Jepang: dalam bahasa dan kesusasteraan, estetika, seni, kerajinan tangan, perilaku sehari-hari dan dalam moralitas.

Para samurai juga mengilhami kebudayaan Jepang dengan sifat bela diri kuat yang mempersiapkan orang Jepang untuk melakukan segala sesuatu dalam urutan yang tepat dan teratur serta dan membenci kelemahan atau kegagalan apa pun. Hingga hari ini tidak ada bidang hidup orang Jepang yang tidak dipengaruhi oleh warisan Zen dan masih ada unsur Zen dalam karakter setiap orang Jepang. 

Zen masih merupakan inti semua seni bela diri di mana Jepang termasyur, dari aikido ke karate hingga kendo; dan aturan-aturan Zen yang berlaku untuk mempelajari seni-seni bela diri itu diajarkan sebagai garis pedoman untuk sukses dalam bisnis.

Nobuharu Yagyu, iemoto atau kepala sekolah ke-21 dari Sekolah Kendo Yagyu, menjelaskan bahwa rahasia untuk mencapai keterampilan dalam kendo adalah semangat yang berasal dari pengulangan san ma no I, atau “tiga latihan”. Tiga latihan tersebut adalah menerima ajaran yang benar, mendedikasikan diri pada ajaran tersebut dan menerapkan akal budi kita sendiri pada apa yang pernah dipelajari dari berbagai ajaran tersebut.

Satu di antara aspek menyerap dan menggunakan ajaran yang benar tersebut adalah mengosongkan pikiran dari hal-hal yang lain, berupaya untuk bebas tuntas dari kemelekatan dan membuka pikiran sepenuhnya untuk menerima seutuhnya dan secara tepat apa pun situasi yang dialami.

Yagyu berkata bahwa penting sekali  seseorang memelihara ken, yaitu “pandangan,” dan kan (sati), “pandangan terang,” untuk melihat atau merasakan kenyataan dan dapat menafsirkan niat-niat seorang lawan — yang mencakup gerakan yang sekecil apa pun atau bahkan tiada gerakan sekali pun. Itu salah satu pelajaran yang berlaku  bagi semua perilaku manusia, bukan hanya kendo.

Sebagaimana yang semua ahli dengar, begitu mencapai suatu tingkat tinggi keterampilan dalam seni atau keahlian apa pun, latihan dan praktik harus berlanjut untuk memelihara keterampilan itu, yaitu salah satu ciri filosofi kaizen bangsa Jepang.  Filosofi itu beranggapan bahwa seseorang tidak pernah benar-benar menguasai apa pun dan, karena itu, harus terus-menerus berjuang untuk meningkatkan mutu.

 Ada pepatah yang terkenal  dalam bahasa Jepang yang mengungkapkan kepercayaan terus-menerus pada peningkatan mutu yang berkesinambungan: “Hari ini aku harus mengalahkan diriku yang kemarin.”

Dari Japan’s Cultural Code Words

Kebahagiaan Menjadi Teman Baik (Kalyanamitta)

0

Bahagianya jadi Kalyanamitta (teman baik)

A. Empat ciri kalyanamitta:

1. Penuh saddha (keyakinan) pada Buddha, Dhamma & Sangha;

2. Penuh moralitas (sila), terutama malu melanggar sila & takut dengan akibatnya;

3. Penuh caga (kedermawanan): suka berdana, menolong orang lain dll; dan

4. Penuh panna (kebijaksanaan), terutama mengerti perbuatan mana yang baik atau buruk, benar atau  salah sesuai dengan Dhamma.

B. Keuntungan kita sebagai kalyanamitta

I. Bagi diri sendiri:

i. Penampilan tenang, teduh dan ramah;

ii. Pikiran positif sehingga tenang;

iii. Dapat terhindar dari penyakit-penyakit yang sering menyerang orang yang tidak baik;

iv. Percaya diri ketika berjumpa dengan siapa pun karena tidak ada rasa bersalah, siap memaafkan orang lain dll;

v.  Tidur nyenyak, bangun dan juga bekerja dengan tenang;

vi. Mampu mengendalikan indranya sehingga setiap perbuatannya sangat terkendali; 

vii. Perkataan penuh rasa sila, persahabatan dan menyejukkan orang-orang yang ditemuinya;

viii. Berasa aman di mana pun karena berasa bersahabat dengan siapa pun; 

ix. Ramah kepada siapa pun karena tahu keramahan adalah salah satu kebajikan dan berkah utama; 

x. Dll.

II. Sehubungan dengan orang lain:

i. Pintu rumah dan kantor mereka terbuka bagi kita sehingga terbuka banyak peluang untuk berteman jangka panjang, berbisnis maupun berorganisasi bersama-sama; 

ii. Mereka menyapa kita dengan ramah ketika melihat kita; 

iii. Mereka siap menjamu kita dengan penuh percaya, hormat dan ramah-tamah; 

iv. Mereka merasa nyaman dan aman ketika berada di dekat kita dan ketika berbicara tentang apa pun; 

v. Siap membantu jika diperlukan; 

vi.Percaya pada perkataan, usul dan informasi lain dari kita; 

vii. Mereka senang membicarakan hal-hal yang baik tentang kita dengan teman dan relasi bisnis mereka sehingga nama kita harum di mana-mana; 

viii. Banyak anggota keluarga, tetangga dan teman kita mememiliki rasa hormat dan kagum pada kita; 

ix. Orangtua, saudara, saudari, anak, mantu, besan dan teman kita bangga ketika membicarakan kita; 

x. Jika berbisnis, banyak pabrik, supplier, agen, distributor dll percaya pada kita dan memberikan banyak kemudahan pembayaran, harga dll sehingga bisnis kita tumbuh dengan cepat dan sehat;

xi. Para pegawai akan rajin dan jujur pada kita karena kita adalah teladan mereka;

xii. Jika berorganisasi, banyak anggota yang lain percaya dan aman dengan kehadiran kita;

xiii. Di kampus, banyak orang siap menjadi sahabat; 

xiv. Mereka menganggap kita sebagai orang yang tindakannya sesuai dengan ucapannya; 

xv.  Nama harum dan tersebar ke mana-mana; 

xvi. Dan banyak lagi keuntungan lain.

III. Sehubungan dengan makhluk lain:

1. Binatang merasa nyaman dan aman ketika berjumpa dengan kita karena kita tidak mengancam     mereka; kita bahkan siap membantu mereka jika perlu;

2. Makhluk-makhluk lain yang baik akan suka berdekatan dengan kita dan bahkan siap menolong     ketika diperlukan.

IV. Ketika menjelang wafat

1. Pikiran tenang menjelang wafat sehingga dapat lahir kembali di alam bahagia, bahkan surga;

2. Pikiran yang penuh saddha, sila, caga dan panna itu akan terbawa ke alam yang baru sehingga  menjadi warga baru yang terhormat di mana pun.

C. Bagi Dhamma

1. Semakin banyak orang menjadi Buddhis yang baik; 

2. Dhamma dihargai oleh golongan lain

D. Cara mantap untuk menjadi Sotapanna (makhluk suci tingkat pertama) 

1. Karena ke-4 ciri kalyanamitta di atas, jika saddha dominan, dapat menjadi saddhanusarin (cula sotapanna atau sotapanna kecil); 

2. Jika panna dominan, dapat menjadi dhammnusarin (cula sotapanna atau sotapanna kecil) 

3. Jika tidak mencapai tingkat kesucian yang lebih tinggi, cula sotapanna akan menjadi sotapanna penuh menjelang wafat; 

4. Sotapanna selamat dari kelahiran kembali di alam-alam rendah (neraka, binatang, peta, asura) dan pasti menuju Nibbana paling banyak sesudah 7 kelahiran kembali; 

5. Jika lahir kembali di alam manusia, akan ada di keluarga yang luhur dan terhormat; jika di surga, akan menjadi dewa atau dewi yang berkedudukan tinggi.

Semoga bermanfaat. Silakan share dengan semua teman.