Home Blog Page 14

How long is an eon?

0

Samyutta Nikaya 15:5

A certain monk asked the Buddha,” Venerable sir, how long is an eon?”

The Buddha answered the question as follows:” An eon is long, monk.it is not easy to count it and say it is so many years, or so many hundreds of years, or so many thousands of years, or so many hundreds of thousands of years.”
“Then, is it possible to give a simile, venerable sir?”
“It is possible, monk.,” the Blessed One said. “Suppose, monk, there was a great stone mountain, a yojana (or mile) long, a yojana wide, and a yojana high, without holes or crevices, one solid mass of rock. At the end of every hundred years, a man would stroke it once with a a piece of fine cloth. That great stone mountain might by this effort be worn away and eliminated, nut the eon would still not have come to an end. so long is an eon, monk. and of eons of such length, we have wondered through so many hundreds of eons, so many thousands of eons, so many hundreds of thousands of eons. For what reason? Because, monk, this samsara (or birth and death cycle) is without discoverable beginning …. It is enough to be liberated from them.”8

You can watch the video below about how old the universe is and how long else it can last:https://www.youtube.com/watch?v=uD4izuDMUQA.


How large is the universe?

(BY)

Historicity: Lumbini, Lord Buddha’s Birthplace

0

One of UNESCO’s world heritage sites, Lumbini Garden is one of the Four Holiest Places for Buddhists. The other three are (i) Bodh Gaya, where Prince Siddhartha Gautama, also known as Prince Siddhattha Gotama in the Pali, reached the Great Enlightenment, thereby, becoming the Supreme Buddha; (ii) The Deer Park at Isipatana, where the Buddha gave his first sermon; and (iii) Kushinagar where he passed away, or reached the Supreme Nibbana.

For more historical evidence of Lumbini as Lord Buddha’s birthplace, please clikc on the following link to UNESCO’s website:http://whc.unesco.org/en/list/666.

Videos: 1. Lumbini – The Birth Place of Gautam Buddha: https://www.youtube.com/watch?v=-h4J-UuMf0M&t=83s; 2. Tavelling Nepal // EXPLORING LUMBINI: https://www.youtube.com/watch?v=N3FoSuglo8g.

(CMT)

Why is someone poor and another rich? The Buddha answers the question

0

The Law of Kamma determines the fate of everyone according to his or her own volitional actions done in the past and now. The video, its link below, explains it.

Credit: Words of Wisdom on Youtube

Penduduk Kota yang kaya juga Tidak Bahagia

0


Sebuah laporan penelitian baru-baru ini telah mendapati bahwa orang-orang di China Tenggara adalah yang paling puas dengan kehidupan mereka sementara penduduk perkotaan dengan gaji-gaji tinggi memiliki tingkat kebahagiaan yang paling rendah.

Laporan tersebut, yang diterbitkan oleh sebuah tim dari Universitas Tsinghua pada 2017, memberi peringkat pada kebahagiaan orang-orang yang tinggal di kota-kota besar di China dengan menggunakan sebuah indeks kebahagiaan yang dihitung dengan menganalisa postingan di media sosial, termasuk Weibo, pada tahun 2017.

Untuk selebihnya, silakan klik Source di bawah ini.

Ningbo City, China; Credit: The BIM

Spirituality changes the Structure of an Ancient Area of the Brain

0

September 3, 2021

A new study found the relationship between spirituality and changes in certain areas of the brain, and that brain structure has evolved since ancient times influenced by how we think.

Scientists have long suspected that religiosity and spirituality could be mapped to specific brain circuits, but the location of those circuits remains unknown. Now, a new study using novel technology and the human connectome, a map of neural connections, has identified a brain circuit that seems to mediate that aspect of our personality.

The work appears in Biological Psychiatry, published by Elsevier.

Source: Mapping the Brain Circuitry of Spirituality: https://neurosciencenews.com/pag-spirituality-neurotheology-19225/

The Buddha’s advice on financial management

0

Divide your income into four equal portions. Spend the first portion in your daily activities; save the second in your bank accounts for use in rainy days; and use the final two portions in developing your business carefully and wisely.

About the first portion

You can divide it into two sub-portions: one for your own spending and the other for donations to the poor, lone elderly people, schools, temples, charity organizations nearest to your home or office. Promotional

The Words Spoken by KC Koay

0

KC Koay’s words on some of the Great Achievements made by China in the past 40 years:
“Needless to say, a government that delivers on its promise wins the hearts and minds of its people; and recognition from the rest of the appreciative international community.


What China has achieved over the past four decades were not just its visible glittering buildings, and first-class infrastructure. For the inherent strength of China’s rejuvenation lies in its commitment towards sustainable growth and development with a focus on the environment and green technology.


Similarly, China places great emphasis on the continuous development of humanity by the embrace of culture, science and technology as its priorities. Over the past 40 years, China has increased its forest cover from just 12% to 23% now. When one takes into consideration the fact that China’s national land area amounts to some 9.6 square million kilometres, about the size of the United States. In other words, China has planted just over one million square kilometres of forest. That is the size of Egypt!

China is also the only country in world which has successfully reversed the seemingly unstoppable desertification, by turning its desserts into forest, farm lands, and wetlands. The area of desertified land in the country is dropping by an annual average of more than 2,400 square kilometres, or three times the size of Singapore, compared to what used to be an annual average expansion of over 10,000 square kilometres at the end of the last century.

By 2014, China had completed and commissioned its mid-line stretch of the South-North Water Diversion Project. This 1,300 kilometres dedicated, largely gravitational-flow, water supply channel diverts water from the Danjiangkou Reservoir in the upper reaches of the Han River, passing through mountains, crossing rivers, and finally reaching and transferring 9.5 billion cu meters of water annually to Beijing and Tianjin.

To put this into perspective, the annual per capita water consumption of the Asian cities: Tokyo, Singapore, Seoul, and Hong Kong are at 84, 52, 104, and 80 cu meters per annum respectively; with the average consumption of 80 cu meters per annum. In other words, the amount of water transfer annually is adequate to sustain an urban population of over 110 million people with clean and potable water.”

Will the Pandemic Revolutionize College Admissions?

0

Lockdowns have disrupted standardized tests and grades, forcing schools to consider a range of other approaches for selecting students

Suami menjadi isteri secara ajaib, kembali jadi suami: Kisah Soreyya, Stanza 43 Dhammapada

0

“(Karena pikiran jahatnya tentang Arahat Mahakaccayana,  pria yang punya isteri dan dua orang putra  berubah wujud menjadi wanita, lalu ia menikah dengan seorang pria dan melahirkan dua orang putra, kemudian berubah lagi menjadi wujud semulanya, yaitu pria, dan menjadi anggota Sangha kemudian Arahat)”

1.    Ketika berdiam di Vihara Jetavana, YMS Buddha mengucapkan Syair 43 dari buku ini, dengan mengacu pada Soreyya, putra seorang kaya di Kota Soreyya. 
Pada suatu ketika, Soreyya, dengan didampingi seorang teman dan beberapa orang pelayan sedang pergi keluar naik kereta mewah untuk mandi. Pada saat itu Thera Mahakaccayana sedang mengatur jubah beliau di luar kota itu karena beliau akan masuk ke kota itu untuk pindapata. Melihat roman keemasan sang thera, pemuda Soreyya berpikir,” Seandainya sang thera adalah isteri saya, atau seandainya roman isteri saya adalah seperti roman beliau.” Begitu pengharapan itu timbul dalam dirinya, jenis kelaminnya berubah dan menjadi wanita.  Karena sangat malu, ia turun dari kereta dan berlari jauh sambil mengambil jalan ke Taxila. Teman-teman seperjalanannya kehilangan diirnya, mencarinya tetapi tidak dapat menemukannya.

2.    Soreyya, yang saat itu wanita, menawarkan cincin cap resminya kepada beberapa orang yang sedang menuju Taxila agar menginjinkannya ikut naik kereta mereka. Begitu tiba di Taxila, teman-team  seperjalanannya memberitahu seorang pria kaya di kota itu tentang wanita yang ikut mereka. Merasa Soreyya sangat cantik dan berusia yang cocok untuk dirinya, pria itu menikahinya. Sebagai salah satu hasil pernikahan itu, dua orang putra dilahirkan; juga ada dua orang putra yang lain dari pernikahan Soreyya yang sebelumnya ketika ia sebagai pria.

3. Suatu hari pemuda  yang putra seorang pria kaya dari kota Soreyya datang ke Taxila dengan lima ratus buah kereta. Karena mengenalinya sebagai salah seorang teman lamanya, wanita Soreyya minta pemuda itu datang.   Pemuda itu terkejut karena ia diundang sedangkan ia tidak kenal wanita yang mengundangnya itu. Ia memberitahu wanita Soreyya bahwa ia tidak mengenalnya dan bertanya kepada Soreyya apakah Soreyya mengenalnya.   Soreyya menjawab bahwa ia mengenal pemuda itu dan juga bertanya tentang kesehatan keluarga Soreyya serta orang-orang lain di kota Soreyya. Lalu, pemuda dari kota Soreyya itu memberitahunya tentang putra pria kaya yang telah hilang dengan misterius itu ketika sedang perjalanan keluar untuk mandi. Kemudian, wanita Soreyya mengungkapkan identitasnya dan menceritakan semua yang telah terjadi, tentang pikiran-pikiran jahat mengenai Thera Mahakaccayana, perubahan jenis kelamin dan pernikahannya dengan pria kaya dari Taxila. Lalu, pemuda dari kota soreyya itu menasihati wanita Soreyya untuk meinta maaf dari thera tersebut. Karena itu, Thera Mahakaccayana diundang ke rumah Soreyya dan makanan persembahan ditawarkan kepada beliau. Setelah makan, wanita Soreyya dibawa ke hadapan sang thera dan pemuda dari Soreyya itu memberitahu sang thera bahwa wanita itu pada suatu ketika adalah putra seorang pria kaya dari kota Soreyya. Lalu, ia menjelaskan kepada sang thera bagaimana Soreyya berubah menjadi wanita karena pikiran-pikiran jahatnya terhadap sang thera yang terhormat itu. Kemudian, wanita Soreyya dengan penuh hormat minta maaf Thera Mahakaccayana. Lalu, sang thera berkata,”Bangun, saya memaafkan anda.” Begitu perkataan tersebut diucapkan, wanita itu berubah kembali menjadi pria. Lalu, Soreyya berpikir bagaimana dalam satu kehidupan saja dan dengan sebuah tubuh saja ia telah mengalami perubahan jenis kelamin dan bagaimana putra-putra telah dilahirkannya. Karena merasa sangat lelah dan jijik dengan semua hal itu, ia memutuskan meninggalkan kehidupan rumah tangga dan ikut Sangha di bawah sang thera.

4. Setelah itu, ia sering ditanya,”Siapa yang anda lebih sayangi, dua orang putra yang anda miliki ketika sebagai pria atau dua orang lainnya yang anda miliki ketika sebagai isteri?” Kepada mereka, ia menjawab bahwa rasa sukanya  untuk putra-putra yang lahir dari rahimnya adalah lebih besar. Pertanyaan itu diajukan kepada dirinya sedemikian sering sehingga ia berasa sangat jengkel dan malu. Jadi, ia tinggal sendiri dan dengan ketekunan, merenungi kelapukan dan berurainya tubuh. Ia segera mencapai tingkat Arahat  berikut patisambhidā (Pengertian yang Analitis tentang Sifat Sejati Fenomena). Ketika pertanyaan lama itu diajukan kepada diri beliau, beliau menjawab bahwa beliau tidak memiliki rasa suka kepada siapa pun secara tertentu. Mendengar beliau demikian, bhikkhu-bhikkhu yang lain berpikir beliau pasti sedang berdusta. Ketika dilapori tentang Soreyya yang memberikan jawaban berbeda, YMS Buddha bersabda,”Putra-Ku tidak sedang berdusta, ia sedang berkata sesungguhnya. Jawabannya sekarang berbeda karena ia telah menjadi Arahat sehingga tidak ada lagi rasa suka kepada siapa pun secara tertentu. Dengan pikirannya yang sangat terarah, putra-Ku telah menimbulkan dalam dirinya suatu kebahagiaan dan kepuasan yang tidak dapat ayah ataupun ibu berikan kepadanya.”

5. Kemudian YMS Buddha mengucapkan stanza sebagai berikut:
Syair 43: Tidak seorang ibu, atau ayah, atau anggota keluarga lain pun dapat berbuat lebih banyak untuk kesejahteraan seseorang daripada pikiran yang terarah dengan benar.

Pada akhir khotbah itu banyak yang mencapai tingkat kesucian Sotapatti Phala, atau menjadi Sotapanna penuh. 

(Diterjemahkan oleh TjanSieTek, M.Sc., Penerjemah Resmi & Bersumpah, dari The Dhammapada Verses and Stories, terjemahan Daw Mya Tin, M.A., yang disunting oleh Komite Penyuntingan Persatuan Tipitaka Myanmar, Rangoon, Myanmar, 1986)