Home Blog Page 6

Kisah 32 Murid Utama Buddha Gotama: 14. YA Puṇṇa Mantānīputta Thera

0

(Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/unrecognizable-monk-standing-near-sacred-torii-gates-of-buddhist-sanctuary-4320759/)

14. YA Puṇṇa Mantānīputta Thera

Lahir sebagai anak dari brahmana perempuan bernama Mantānī (adik dari YA Kondañña), Puṇṇa muda ditahbiskan sebagai bhikkhu oleh YA Kondañña. Beliau tinggal di kota Kapilavatthu dan berhasil mencapai kesucian Arahat. YA Puṇṇa menahbiskan lima ratus orang bhikkhu di Kapilavatthu yang semuanya kemudian menjadi Arahat.

Rathavinīta sutta (MN 24) mencatat wawancara yang sangat mengesankan antara YA Sāriputta dan YA Puṇṇa dan pertemuan pertama mereka.

Puṇṇavoda Sutta (MN 145.5-6), di mana Sang Buddha menasehati beliau tentang bahaya kesenangan dalam nafsu indrawi, mencatat kebajikan-kebajikan YA Puṇṇa:

Sang Buddha bertanya kepada beliau, “Sekarang karena aku telah memberimu nasihat singkat ini, Puṇṇa, di negeri mana kamu akan tinggal?”

“Bhante, karena sekarang Bhante telah memberi saya nasihat singkat ini, saya akan berdiam di negeri Sunāparanta.” “Puṇṇa, orang-orang Sunāparanta buas dan kasar. Jika mereka menyiksa dan mengancammu, apa yang akan kamu pikirkan?”

“Bhante, jika orang-orang Sunāparanta menyiksa dan mengancam saya, saya akan berpikir: “Orang-orang Sunāparanta ini baik hati, betul-betul baik hati sehingga mereka tidak memukul saya dengan tinju mereka; demikianlah saya akan berpikir, Yang Maha Mulia.”

Tetapi, Puṇṇa, jika orang-orang Sunāparanta betul-betul memukulmu dengan tinju mereka, apa yang akan kamu pikirkan pada saat itu?”

“Bhante, jika orang-orang Sunāparanta betul-betul memukul saya dengan tinju mereka, saya akan berpikir: “Orang-orang Sunāparanta ini baik hati, betul-betul baik hati sehingga mereka tidak memukul saya dengan gumpalan (tanah); demikianlah saya akan berpikir, Yang Maha Mulia.”

Tetapi, Puṇṇa, jika orang-orang Sunāparanta betul-betul membunuhmu dengan pisau tajam, apa yang akan kamu pikirkan pada waktu itu?”

“Bhante, jika orang-orang Sunāparanta betul-betul membunuhmu dengan pisau tajam, saya akan berpikir begini:’Sudah ada murid-murid Sang Bhagava yang karena dimuakkan dan dijijikkan oleh tubuh dan oleh kehidupan, minta diri mereka dibunuh dengan pisau. Tetapi saya telah dibunuh dengan pisau tanpa memintanya.’ Pada saat itu saya akan berpikir demikian, Sang Bhagava; pada saat itu saya akan berpikir demikian, Yang Maha Mulia..”

Oleh Sang Buddha, YA Puṇṇa Thera disebut sebagai pembabar Dhamma yang terbaik.

14. The Venerable Puṇṇa Mantānīputta Thera

Born to the lady Brahmin Mantānī, the Venerable Kondañña’s younger sister, young Puṇṇa was ordained as a monk by the Venerable Kondañña and lived in the city of Kapilavatthu. He attained arahantship. Then, in the city he ordained five hundred monks, all of whom eventually became Arahants.

The Rathavinīta Sutta (MN 24) records an impressive interview between the Venerable Sāriputta dan the Venerable Puṇṇa and the first encounter between them.

The Puṇṇavoda Sutta (MN 145.5-6), where the Buddha advised him about the dangers of delights in sensual desire, records the virtues of the Venerable Puṇṇa:

The Buddha asked him,”Now that I have given you this brief advice, Punna, in which country will you dwell?”

“Venerable sir, now that the Blessed One has given me this brief advice, I am going to dwell in the Sunāparanta country.” “Puṇṇa, the people of Sunāparanta are fierce and rough. If they abuse and threaten you, what will you think then?”

“Venerable sir, if the people of Sunāparanta abuse and threaten me, then I shall think: ‘These people of Sunāparanta are kind, truly kind, in that they did not give me a blow with the fist.; Then I shall think thus, Sublime One.”

“But, Puṇṇa, if the people of Sunāparanta do give you a blow with the fist, what will you think then?”

“Venerable sir, if the people of Sunāparanta do give me a blow with the fist , then I shall think: ‘These people of Sunāparanta are kind, truly kind, in that they did not give me a blow  with a clod.’ Then I shall think thus, Blessed One; then I shall think thus, Sublime One.”

But, Puṇṇa, if the people of Sunāparanta do take your life with a sharp knife, what will you think then?”

“Venerable sir, if the people of Sunāparanta do take my life with a sharp knife, then I shall think thus: ‘There have been disciples of the Blessed One who, being humiliated and disgusted by the body and by life, sought to have their lives deprived by the knife. But I have had my life deprived by the knife without seeking for it.’ Then I shall think thus, Blessed One; then I shall think thus, Sublime One ….”

The Venerable Puṇṇa Thera was designated by the Buddha as the monk who excelled in the exposition of the Dhamma.

Ditulis oleh Rama Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Tersumpah, Sāsanadhaja Dharma Adhyapaka Dasa Marsa, Rohaniwan Buddha Kementerian Agama Republik indonesia

Kisah 32 Murid Utama Buddha Gotama: 13. YA Subhūti Thera

0

(Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/buddhism-temple-monks-thailand-436767/)

13. YA Subhūti Thera

Menurut Nanamoli & Bodhi (1995: 1351) YA Subhūti adalah adik Anāthapiṇḍika.

Menurut Halaman 459-463 Vinaya Piṭaka, suatu hari Anāthapiṇḍika mengundang Sang Buddha untuk makan di rumahnya. Setelah itu, Anāthapiṇḍika membeli taman luas milik Pangeran Jeta yang dibayar dengan menutupi seluruh taman dengan koin uang emas. Kemudian di taman itu, Anāthapiṇḍika membangun Vihāra Jetavana dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha.

Nanamoli & Bodhi (1995: 1351) juga mencatat bahwa pada hari upacara persembahan vihara tersebut, Subūthi muda pergi ke vihara tersebut dan mendengarkan pembabaran Dhamma. Keyakinannya muncul, lalu menjadi bhikkhu dan kemudian menjadi Arahat.

Menurut Nānamoli & Bodhi (1995:1351) Sang Buddha  mengangkat beliau sebagai siswa yang terkemuka dalam dua kategori: yang hidup tanpa pertentangan dan yang layak menerima persembahan.

Dalam Subhūti Sutta tercatat bahwa Sang Bhagava (Sang Buddha) melihat YA Subhūti sedang duduk tidak jauh, kaki beliau bersila, tubuh terjaga tegak, berpusat pada konsentrasi yang bebas dari pikiran yang terarahkan.

Lalu, setelah mengetahui pentingnya hal itu, Sang Buddha pada saat itu mendeklamasikan:

Orang yang pikirannya menguap,
sangat terkendali
di dalam,
tanpa jejak,
menembus belenggu itu,
yaitu orang yang melihat keadaan tanpa bentuk,
sehingga mengatasi keempat buah kuk,
tidak akan lahir kembali.

13. The Venerable Subhūti Thera

The Venerable Subhūti was Anāthapiṇḍika’s younger brother.

According to pages 459-63 of Vinaya Texts, one day Anāthapiṇḍika invited the Buddha for a meal at his home. After that, the former bought a large park belonging to Prince Jeta, the payment for which was gold coins used to cover the whole park. Then, Anāthapiṇḍika built the Jetavanna Monastery and donated it to the Buddha.

Nanamoli & Bodhi (1995: 1351) further record that on the day of donation, young Subhūti went to the monastery to listen to the exposition of the Dhamma. His conviction arose and he became a monk and then reached arahantship.

According to Nānamoli & Bodhi (1995:1351) the Buddha appointed him the foremost disciple in two categories: those who live without conflict and those who are worthy of gifts.

In the Subhūti Sutta it is recorded that the Buddha saw the Venerable Subhūti sitting not far away, his legs crossed, his body held erect, centered in a concentration free from directed thought.

Then, on realizing the significance of that, the Blessed One on that occasion exclaimed:

Whose thoughts are vaporized,
well-dealt-with
within,
without trace —
going beyond that tie,
one who perceives the formless,
overcoming
four yokes,
does not go
to rebirth.

Ditulis oleh Rama Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Tersumpah, Sasanadhaja Dharma Adhgapaka, Rohaniwan Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia

Kisah 32 Murid Utama Buddha Gotama: 12. YA Kumāra Kassapa

0

(Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/bhikkus-monks-queue-buddhist-5734307/)

12. YA Kumāra Kassapa

Menurut Nigrodhadamiga Jātaka, beliau adalah putra seorang bhikkhuni yang merupakan putri seorang pedagang kaya di Rājagaha. Sebelum menjadi bhikkhuni, ibu beliau sangat ingin meninggalklan hidup keduniawian. Setelah tidak mendapatkan ijin orangtuanya untuk menjadi bhikkhuni, ia dinikahkan. Dengan ijin suaminya, ia kemudian masuk Saṅgha tanpa tahu bahwa dirinya sedang hamil.

Atas perintah Sang Buddha YA Upāli menyelidiki masalah ini dan menyatakan bahwa ia hamil sebelum menjadi bhikkhunī.

Kemudian, ia melahirkan seorang putra yang kemudian dibawa ke istana atas perintah Raja Pasenadi dari Kosala. Pada hari penamaannya, sang bayi diberi nama Kassapa. Di istana ia dibesarkan sebagai seorang pangeran sehingga bernama Pangeran Kassapa.

Pada usia tujuh tahun beliau diangkat sebagai sāmanera. Kemudian, beliau menjadi dikenal sebagai Kumāra Kassapa karena masuk Saṅgha pada usia yang demikian muda dan dibesarkan oleh raja dan, juga karena Sang Buddha, ketika mengirimi beliau makanan yang lezat, menyebut beliau sebagai Kumāra Kassapa.

Vammika Sutta (MN 23) memberitahu kita tentang sebuah cerita yang singkatnya berjalan  sebagai berikut: Ketika YA Kumāra  Kassapa sedang bermeditasi di Andhavana, sesosok dewa muncul di hadapan beliau dan mengajukan 15 pertanyaan yang hanya mampu dijawab oleh Sang Buddha. Lalu, YA Kumāra  Kassapa menghadap Sang Buddha untuk mendapatkan jawabannya dan hal itu menimbulkan pembabaran sutta ini. Setelah merenungi ajaran-ajaran dalam sutta ini, YA Kumāra  Kassapa menjadi Arahat.

Ibu beliau pun menjadi Arahat.

YA Kumāra Kassapa dianugerahi oleh sang Buddha gelar sebagai bhikkhu yang terkemuka dalam kemampuan berwacana.

12. The Venerable Kumāra Kassapa Thera

According to the Nigrodhadamiga Jātaka, his mother was a nun, who was the daughter of a wealthy merchant of Rājagaha. Prior to ordination as a nun, she was eager to renounce the world. Having failed to obtain her parents’ consent to become a nun, she was married and, with her husband’s consent, then joined the Order, not knowing that she was pregnant.

According to the Nigrodhadamiga Jataka, at the Buddha’s order the Venerable Upāli investigated this matter and declared that she was pregnant before ordination.

Then she gave birth to a son who was taken to the palace at the order of King Pasenadi of Kosala. On the day of naming the baby was named Kassapa. In the palace he was grown up like a prince so that he was called Prince Kassapa.

At age seven he was ordained as a novice. The boy came to be called Kumāra Kassapa, because he joined the Order so young and was of royal upbringing, and also because the Buddha, when sending him little delicacies such as fruit, referred to him as Kumāra Kassapa.

The Vammika Sutta (MN 23) tells us a story which in brief runs as follows: When the Venerable Kumara Kassapa was meditating in Andhavana, a deity appeared before him and asked him fifteen questions which only the Buddha was able to answer. Then, the Venerable Kumāra  Kassapa went to the Buddha for the answers and this led to the preaching of this sutta. After dwelling on its teachings the Venerable Kumara Kassapa became an rahant.

His mother became an Arahant, too.

He was given by the Buddha the title of the monk who excelled in eloquence.

Ditulis oleh Rama Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Tersumpah, Sāsanadhaja Dharma Adhapaka, Rohaniwan Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia

Kisah 32 Murid Utama Buddha Gotama: 11. YA Mogharāja Thera

0
11. YA Mogharāja Thera

Lahir sebagai putra dari penasehat Raja Maha Kosala, Mogharāja adalah pemuda yang sangat cerdas ketika muda, Mogharāja menjadi bhikkhu bersama-sama dengan enam belas temannya, YA Mogharāja memiliki kebiasaan mengenakan jubah yang kwalitasnya rendah dalam hal jahitan dan kainnya.

Pada suatu kesempatan, Sang Buddha menganugerahi kepada YA Mogharāja sebagai bhikkhu mengenakan jubah kasar yang terbaik.

11. The Venerable Mogharāja Thera

Born as the son of an adviser to King Maha Kosala, young Mogharāja was a very smart boy. He studied under Bāvarī as an ascetic. He became a monk together with fifteen of his friends as they were sent by Bāvarī to the Buddha. When Mogharāja had asked his question of the Buddha and received the answer, he attained arahantship.

He then attained the distinction by wearing rough cloth which had been thrown away by caravaners, tailors and dyers.

The venerable Mogharāja is given as an example of one who attained arahantship by the development of investigation.

On one occasion the Buddha conferred on him the title of the monk who excelled in wearing rough robes.

Ditulis oleh Rama Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Tersumpah, Sāsanadhaja Dharma Adhgapaka, Rohaniwan Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia

Kisah 32 Murid Utama Buddha Gotama: 10. YA Kaṅkhā Revata Thera

0

(Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/sangha-in-line-pindacara-pindapata-1735231/)

10. YA Kaṅkhā Revata Thera

Revata kecil terlahir di dalam keluarga yang sangat kaya di Sāvatthī. Beliau pertama kali mendengarkan Dhamma ketika sedang mengunjungi Kapilavatthu. Setelah menjadi bhikkhu, beliau berkonsentrasi pikiran dan mencapai jhāna-jhāna, atau konsentrasi pikiran yang mendalam pada suatu objek. Dengan menggunakan jhāna-jhāna,  beliau melanjutkan dengan meditasi vipassanā dan menjadi Arahat.

Sebelum menjadi Arahat, YA Revata sering meragukan segala hal, bahkan hal-hal yang diizinkan, sehubungan dengan Vinaya. Karena itu, beliau disebut sebagai Kaṅkhā Revata, ‘Revata si peragu.’

Mahāgosinga Sutta (MN 32.5) mencatat jawaban beliau untuk pertanyaan YA Sāriputta mengenai bhkkhu yang dapat menerangi Hutan Pohon Sala Gosinga: ”dalam hal ini, teman Sāriputta, seorang bhikkhu yang senang dalam meditasi secara menyendiri dan menikmati kesenangan dalam meditasi itu, memiliki pandangan terang dan berdiam di gubuk yang kosong. Bhikkhu seperti itu dapat  menerangi Hutan Pohon Sala Gosinga ini.”

Sang Buddha menganugerahi YA Kaṅkhā Revata gelar yang terbaik dalam memasuki jhāna dengan cepat dalam di antara anggota Ariya Saṅgha.

10. The Venerable Kaṅkhā Revata Thera

Born to a very wealthy family in Sāvatthī. He first heard the Dhamma when he was visiting Kapilavatthu. After ordination as a monk, he concentrated his mind and reached the mundane jhānas, or absorptions. Using these absorptions, he then proceeded with the insight or vipassanā meditation, and attained arahantship.

Until Arahatship, the Venerable Revata oftentimes doubted everything, even the allowable ones, with regard to the Monastic Discipline. Therefore, he was nicknamed Kaṅkhā Revata, or the Doubter.

The Mahāgosinga Sutta (MN 32.5) records his answer to the Venerable Sāriputta’s question as which kind of bhikkhu could illuminate the Gosinga sala-tree Wood: ”Here friend Sāriputta, a bhikkhu delights in solitary meditation and takes delight in solitary meditation; he is devoted to inetrnal serenity of mind, does not neglect meditation, possesses insight and dwells in empty huts. That kind of bhikkhu could illuminate this Gosinga Sala-tree Wood.”

In the Uttaramātu-peta Vatthu, Uttara’s mother having been born as a peta, and having wandered about for fifty years without water, came upon the Venerable Revata enjoying the siesta on the banks of the ganges and begged him for succor. Having learned her story, Revata gave various gifts to the Saṅgha in her name and so brought her happiness.

The Buddha granted him the title of the monk who excelled in quick transition to jhāna in the Noble Order.

Ditulis oleh Rama Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Tersumpah, Sāsanadhaja Dharma Adhgapaka, Rohaniwan Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia

Kisah 32 Murid Utama Buddha Gotama: 9. YA Rāhula Thera

0

(Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/buddhist-monk-reading-scripture-6752688/)

9. YA Rāhula Thera

Beliau adalah anak Pangeran Siddhatta, yang kemudian menjadi Sang Buddha,  dan Puteri Yasodharā. Begitu dilahirkan, Pangeran Siddhatta meninggalkan istana untuk menjadi petapa.

Menjadi Sāmanera

Halaman 102-104 Vinaya Piṭaka mencatat bahwa setelah mencapai Penerangan Sempurna, Sang Buddha pergi ke Kapilavatthu untuk mengunjungi keluarga-Nya. Pangeran Rāhula ditahbiskan menjadi sāmanera oleh YA Sāriputta.

Sāmanera Rāhula setiap bangun pagi memungut segenggam pasir dan berkata “Semoga saya mendapat teguran dari Bhagavā atau dari guru saya sebanyak butir pasir yang ada di dalam genggaman ini.”

Ambalatthikārāhulovāda Sutta (MN 61) dan Mahārāhulovāda utta (MN 62) mencatat pelajaran-pelajaran Sang Buddha kepada YA Rāhula. Cūlarāhulovāda Sutta (MN 147) mencatat bahwa beliau menjadi Arahat ketika mendengarkan ajaran Sang Buddha tentang pandangan terang mengenai anicca dan dukkha.

YA Rāhula dianugerahi gelar sebagai bhikkhu yang terbaik dalam menyukai nasihat sehubungan dengan Tiga Latihan, yaitu Vinaya, meditasi ketenangan (samatha) dan meditasi pandangan terang (vipassanā).

Beliau mencapai Parinibbāna di Surga Tāvatiṁsa di antara para dewa/-i di sana.

9. The Venerable Rāhula Thera

He was the son of Prince Siddhatta, the future Buddha, and Princess Yasodharā. Just after his birth, Prince Siddhatta left the palace to become an ascetic.

Novicehood

Pages 102-104 of Vinaya Texts reocrd that after the Great Enlightement, the Buddha went to Kapilavatthu to visit his family. Young Rāhula was then ordained as the first novice in Buddhism by the Venerable Sāriputta.

Every morning after waking up, he would collect a fistful of sand and said:” May I receive as many exhortations by the Buddha or my teacher as the number of sand grains on hand.”

The Ambalatthikārāhulovāda Sutta (MN 61) and Mahārāhulavāda utta (MN 62) record the instructions given by the Buddha to the venerable Rāhula. The Cūlarāhulovāda Sutta (MN 147) records that he became an Arahant while listening to a discourse by the Buddha concerning insight into impermanence and suffering.

He was then conferred with the title of the monk who excelled in the enjoyment of exhortations about the Three Trainings, namely, the Disciplinary Code and serenity and insight meditations.

He reached Final Nibbāna in the Tāvatiṁsa heaven among the devas there.

Ditulis oleh Rama Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Tersumpah, Sāsanadhaja Dharma Adhgapaka, Rohaniwan Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia

Kisah 32 Murid Utama Buddha Gotama: 8. YA Anuruddha Thera

0

(Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/meditation-bhikkhu-mahamevnawa-1777522/)

8. YA Anuruddha Thera

Terlahir sebagai Pangeran Anuruddha dalam keluarga seorang pangeran Sakya yang bernama Amitodana, saudara Raja Suddhodana, beliau hidup dalam kemewahan bersama-sama dengan saudaranya, yang kemudian dikenal sebagai YA Mahānāma. Pangeran Anuruddha memiliki tiga buah istana, satu untuk musim dingin, satu lagi untuk musim panas dan yang ketiga untuk musim hujan. Apa pun yang diinginkannya langsung terpenuhi.

Halaman 482 Vinaya Texts mencatat sebagai berikut: Di hutan Anupiya, Pangeran Anuruddha, Raja Bhaddiya, Pangeran-Pangeran Ānanda, Bhagu, Kimbila, dan Devadatta serta tukang cukur yang bernama Upāli menghadap Sang Buddha. Atas permintaan para pemuda Sakya tersebut, Sang Buddha pertama-tama menerima Upāli menjadi bhikkhu, lalu mereka.

Sebelum vassa (retret 3 bulan selama musim hujan) pada saat itu berakhir, YA Bhaddiya menjadi ahli dalam Abhiññā Berunsur Tiga (te-vijja), YA Anuruddhā mendapatkan mata dewa (dibbacakku), YA Ānanda  menjadi Sotāpanna dan Devadatta mencapai jenis iddhi yang dapat diperoleh bahkan oleh orang-orang yang belum memasuki Jalan Suci.

YA Anuruddha menjadi Arahat pada vassa yang berikutnya.

Sang Buddha menganugerahkan kepada YA Anuruddha gelar sebagai bhikkhu yang terkemuka dalam hal dibbacakkhu, yaitu kemampuan melihat di atas mata fisik, yang dalam hal YA  Anuruddha mencapai sistem dunia yang berunsur seribu.

Mahāparinibbāna Sutta (DN 16) mencatat bahwa YA Anuruddha hadir selama momen penting Mahaparinibbāna Sang Buddha dan menjelaskan kepada hadirin tentang proses tersebut.

8. The Venerable Anuruddha Thera

Born as Prince Anuruddha to the family of a Sakyan prince named Amitodana, King Suddhodana’s brother, he lived in luxury with his brother, the future Venerable Mahānāma. Prince Anuruddha had three palaces, one for the cold season, one for the hot season and one for the rainy season and whatever he wanted was immediately fulfilled.

Page 482 of Vinaya Texts records as follows: In the Anupiya Grove, he, King Bhaddiya, Princes Ᾱnanda, Bhagu, Kimbila and Devadatta and the barber Upāli came to the presence of the Buddha. At the request of the young Sakyan men, the Buddha first received Upāli  and, afterwards, the young Sakyan men, into the Order.

Before that rainy season was over, the Venerable Bhaddiya became master of the Te-vijja, the Venerable Anuruddhā acquired the Heavenly Vision, the Venerable Ānanda  realised the effect of having entered the Stream and Devadatta attained to that kind of Iddhi which is attainable even by those who have not entered upon the Excellent Way.

The Venerable Anuruddha reached arahantship in the subsequent rains retreat.

The Buddha conferred on him the title of the monk who excelled in the divine eye, the ability to see beyond the physical eye, extending in the Venerable Anuruddha’s case to a thousandfold world system.

The Mahāparinibbāna Sutta (DN 16) records that the Venerable Anuruddha was present during the momentous moment of the Buddha’s great passing away and expalined to those in attendance about the process.

Ditulis oleh Rama Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Tersumpah, Sāsanadhaja Dharma Adhgapaka, Rohaniwan Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia

Kisah 32 Murid Utama Buddha Gotama: 7. YA Assaji Thera

(Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/monk-temple-meditation-buddha-4649046/)

7. YA Assaji Thera

Kelahiran

Lahir di perkampungan Brahmana Donavatthu di dekat Kapilavatthu, Assaji muda merupakan anak dari salah satu delapan orang Brahmana yang diundang oleh Raja Suddhodana ke upacara pemberian nama Pangeran Siddhatta, yang kemudian dikenal sebagai Petapa Gotama sebelum Pencerahan Agung dan lalu menjadi Sang Buddha. Setelah orang tuanya meninggal, YA Assaji mengikuti YA Koṇḍañña menjadi petapa di hutan Uruwela dan melayani Petapa Gotama.

Sotāpanna Pertama di Dunia

Setelah petapa Gotama menjadi Sang Buddha, YA Assaji menjadi satu dari Lima Orang Petapa pertama yang mendengarkan khotbah pertama Sang Buddha, yaitu Dhammacakkapavattana Sutta, dan langsung menjadi Sotāpanna pertama di dunia. Lalu, beliau diterima menjadi bhikkhu oleh Sang Buddha. Keempat orang sesama petapanya ikut diterima sebagai bhikkhu dan mereka bersama-sama merupakan  Saṅgha, yang semuanya kemudian menjadi Arahat. Keempat Arahat yang lain adalah Bhaddiya, Vappa, Mahānāma and Koṇḍañña.

Guru Pertama YA Sāriputta dalam Dhamma

YA Sāriputta pertama kali mendengar Dhamma melalui sebuah bait yang diucapkan oleh YA Assaji,  langsung memperoleh Mata Dhamma dan menjadi Sotāpanna (orang suci tingkat pertama).

Bait termasyur tersebut berbunyi sebagai berikut:”

Tentang hal-hal yang muncul karena sebab,
Sang Tathagatha (Sang Buddha) telah membabarkan sebab tersebut,
Dan juga bagaimana berhentinya sebab tersebut.
Inilah doktrin Sang Pertapa Agung (Sang Buddha).”

Dalam kata lain, Kebenaran Mulia yang kedua dan ketiga telahdiungkapkan. Bait tersebut selanjutnya disebut sebagai Bait Assaji.

Sangat dihormat oleh YA Sāriputta

Selama hidupnya YA Sāriputta menunjukkan hormat kepada YA Assaji. Penjelasan tentang Syair 392 Dhammapada bercerita bahwa kapan pun YA  Sāriputta berdiam di vihara yang sama dengan YA Assaji, langsung setelah menghormat Sang Buddha, beliau selalu pergi untuk menghormat sesepuh yang agung itu, sambil berpikir, ”Bhante ini adalah guru pertama saya. Karena beliaulah saya mengetahui Ajaran Sang Buddha.” Ketika YA Assaji berdiam di vihara lain, YA Sāriputta biasanya menghadap arah di mana sang sesepuh sedang berdiam dan  bernamaskara  (menghormat dengan kepala, dua tangan dan lutut menyentuh bumi).

7. The Venerable Assaji Thera

Birth

Born in the village of the Brahmin Donavatthu near Kapilavatthu, young Assaji was the son of one of the eight Brahmins invited by King Suddhodana to the naming ceremony of Prince Siddhatta, who was later to be known as the ascetic Gotama until the Great Enlightenment and then became the Buddha. After the death of his parents, the Venerable Assaji joined the Venerable Koṇḍañña to practice the ascetic life in  Uruvelā and used to attend on the ascetic Gotama.

First Sotāpanna in the World

After the ascetic Gotama became the Supreme Buddha, the Venerable Assaji was one of the first five ascetics (the Pañcavaggiyā) who listened to the Buddha’s firsts ermon, the Dhammacakkapavattana Sutta, and become the first sotāpanna in the world. He was then ordained by the Buddha as a monk. His four fellow ascetics followed suit and they together  formed the Saṅgha, all of whom subsequently became Arahants. The other four were Bhaddiya, Vappa, Mahānāma and Koṇḍañña.

The Venerable Sāriputta’s First Teacher in the Dhamma

The Venerable Sāriputta first learned the Dhamma through a stanza recited by the Venerable Assaji in Rājagaha, gained the Dhamma Eye on the spot and became a Sotāpanna (first degree saint).

The famous stanza reads as follows:

” Of those things that arise from cause,
The Tathagata has told the cause,
And also what their cessation is:
This is the doctrine of the Great Recluse.”

In other words, the second and third Noble Truths were revealed. The stanza was subsequently known as the Assaji stanza.

The Venerable Sāriputta respected the Venerable Assaji very much as his first teacher in the Dhamma. Verse 392 of the Dhammapada Commentary tells us an example of this respect: ”Whenever the Venerable Sāriputta lived in the same monastery as the venerable Assaji, immediately after having paid homage to the Buddha, he always went to venerate the Venerable Assjai, thinking:”This venerable one was my first teacher. It was through him that I came to know the Buddha’s Dispensation.” When the venerable Assaji lived in anotehr monastery, the Venerable Sāriputta used to face the direction in which he was living dan pay homage to him by touching the ground at five places (with the head, hands and feet) and saluting him with joined palms.

Ditulis oleh Rama Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Tersumpah, Sāsanadhaja Dharma Adhgapaka, Rohaniwan Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia

Kisah 32 Murid Utama Buddha Gotama: 6. YA Vakkali Thera

(Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/architecture-asia-asian-blur-236148/)

6. YA Vakkali Thera

Lahir di Sāvatthi dalam keluarga brahmana, oleh orang tuanya diberi nama Vakkali. Suatu hari beliau melihat Sang Buddha dan para bhikkhu sedang melakukan piṇḍapāta, terpesona dengan keagungan fisik Sang Buddha sehingga beliau mengikuti Sang Buddha dan para bhikkhu hingga vihāra. Di sana beliau selalu menatap keagungan Sang Buddha ketika membabarkan khotbah sambil beliau duduk di hadapan Sang Buddha. Karena keinginannya yang selalu ingin menatap Sang Buddha, beliau memohon agar ditahbiskan sebagai bhikkhu.

Sang Buddha tahu bahwa YA Vakkali tidak melakukan apa-apa dalam menjalani kebhikkhuan, kecuali hanya menatap Sang Buddha. Ketika saatnya tiba, Sang Buddha berkata kepada beliau, “Vakkali, apa gunanya engkau menatap tubuh busuk ini? Orang yang melihat Dhamma juga melihat Aku; orang yang melihat Aku juga melihat Dhamma.”

Terkemuka dalam Keyakinan

Pada suatu hari di tengah pertemuan dengan para bhikkhu, kepada YA Vakkali Sang Buddha menganugerahkan gelar sebagai siswa yang memiliki keyakinan yang terbaik.

Parinibbāna

Parinibbāna YA Vakkali digambarkan secara mengesankan dalam SN III.87:5: ” Sang Buddha, bersama-sama dengan sejumlah bhikkhu, pergi ke Batu Hitam di Lereng Gunung Isigili. Sang Buddha melihat di kejauhan YA Vakkali sedang berbaring di tempat tidur dengan bahu miring. Pada saat itu segumpal asap, yang berbentuk lingkaran hitam, sedang bergerak ke timur, lalu ke barat, lalu ke utara, lalu ke selatan, ke atas, ke bawah dan ke tengah. Kemudian, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “ Para bhikkhu apakah kamu melihat gumpalan asap, berbentuk lingkaran hitam, yang sedang bergerak ke timur, lalu ke barat, lalu ke utara, lalu ke selatan, ke atas, ke bawah dan ke tengah?”

“Ya, Bhante.”

“Para bhikkhu, itu adalah Māra Sang Iblis, yang sedang mencari-cari kesadaran Vakkali sambil bertanya-tanya: “Di manakah kesadaran Vakkali terbentuk sekarang?” Namun, para bhikkhu, dengan tidak terbentuknya kesadaran, Vakkali telah mencapai Parinibbāna.”

Demikianlah kisah YA Vakkali Thera. Semoga dapat memberikan wawasan untuk kita semua.

6. The Venerable Vakkali Thera

He was born to a Brahmin family in Sāvatthi and named Vakkali. One day he noticed the Buddha and the retinue of monks going on alms round. He was so fascinated by the Buddha’s physical glory that he followed Him and the monks on their way back to the monastery. Then, the Venerable Vakkali sat in front of the Buddha expounding a discourse and at all times watched the latter’s body. Therefore, the Venerable Vakkali requested that he be ordained as a monk.

The Buddha noticed that the Venerable Vakkali did not do anything relating to monkhood but watched Him all the time. In the Vakkali Sutta (SN III, 87:5) the Buddha said to him: ”Vakkali, what’s the point looking at this vile body? One who sees the Dhamma also sees me. One who sees me sees the Dhamma.”

Excellence in Faith

One day during a meeting with monks, the Buddha conferred upon him the title of the Disciple foremost in faith.

Final Nibbāna

The Venerable Vakkali’s death is described impressively in SN III, 87:5: “The Blessed One, together with a number of bhikkhus, went to the Black Rock on the Isigili Slope. The Blessed One saw in the distance the Venerable Vakkali lying on the bed with his shoulder turned. Now on that occasion a cloud of smoke, a swirl of darkness, was moving to the east, then to the west, to the north, to the south, upwards, downwards, and to the intermediate quarters. The Blessed One then addressed the bhikkhus thus: “Do you see, bhikkhus, that cloud of smoke, that swirl of darkness, moving to the east, then to the west, to the north, to the south, upwards, downwards, and to the intermediate quarters?”

“Yes, Venerable sir.”

“That, bhikkhus, is Māra the Evil One searching for the consciousness of the clansman Vakkali, wondering: “Where now has the consciousness of the clansman Vakkali been established?” However, bhikkus, with consciousness unestablished, the clansman Vakkali has attained final Nibbāna.”

Ditulis oleh Rama Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Tersumpah, Sāsanadhaja Dharma Adhgapaka, Rohaniwan Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia

Kisah 32 Murid Utama Buddha Gotama: 5. YA Sīvalī Thera

5. YA Sīvalī Thera

Asātarūpa Jātaka (Jātaka 100): Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Kundadhānavana dekat kota Kundiya mengenai Suppavāsā, seorang upasika putra Raja Koliya. Pada saat itu, ia telah mengandung seorang anak selama tujuh tahun dan sudah memasuki hari ketujuh rasa sakit hebat untuk persalinannya. Walaupun semua penderitaan berat itu, ia berpikir sebagai berikut, “Sang Bhagava (Sang Buddha), Yang Tercerahkan Sempurna, membabarkan Dhamma sehingga penderitaan ini dapat berakhir;  orang-orang pilihan Sang Bhagava berjalan demikian bajik sehingga penderitaan ini dapat berakhir; Nibbāna adalah tempat membahagiakan saat penderitaan ini dapat berakhir.” Ketiga pikiran itu merupakan penghiburan baginya dalam penderitaan hebatnya itu. Kemudian, ia menyuruh suaminya menemui Sang Bhagava untuk memberitahukan keadaannya dan menyampaikan salam atas namanya.

Pesannya disampaikan kepada Sang Bhagava, yang berkata, “Semoga Suppavāsā, putri Raja Koliya, tumbuh kuat dan sehat lagi serta melahirkan seorang bayi yang sehat.” Langsung setelah kata-kata Sang Bhagava, Suppavāsā menjadi sehat dan kuat dan melahirkan seorang bayi yang sehat.

Saat kembali dan mendapati istrinya telah melahirkan dengan selamat, suaminya takjub pada kekuatan luhur Sang Buddha. Karena anaknya telah lahir, Suppavāsā sangat ingin mempersembahkan hadiah selama tujuh hari kepada Sangha dengan Sang Buddha sebagai pemimpin mereka dan menyuruh suaminya lagi untuk mengundang mereka.

Kebetulan pada saat itu Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha telah menerima undangan umat awam yang menyokong YM Mahā Moggallāna; tetapi, Sang Guru, yang ingin memenuhi niat berdana Suppavāsā mengutus sang thera untuk menjelaskan hal tersebut dan bersama Sangha menerima perjamuan Suppavāsā selama tujuh hari.

Pada hari ketujuh ia mendandani bayi kecilnya, yang bernama Sīvalī dan menyuruhnya membungkuk di depan Sang Buddha dan Sangha. Saat bayi itu dibawa menghadap YA  Sāriputta pada waktu yang semestinya, YA  Sāriputta dengan penuh keramahan menyapa bayi itu, “Nah, Sīvalī, apakah kamu baik-baik?”Bagaimana bisa begitu, Pak?” kata sang bayi, “Selama tujuh tahun yang panjang saya telah berkubang dalam darah.”

Lalu, dengan gembira Suppavāsā berseru, “Anakku, yang hanya berusia tujuh hari, benar-benar berbincang-bincang mengenai agama dengan YA Sāriputta, sang Panglima Dhamma?”

“Maukah engkau memiliki anak lagi yang seperti ini?” tanya Sang Guru. “Mau, Bhante,” jawab Suppavāsā, “tujuh lagi, jika saya bisa mendapatkan anak yang seperti dia.” Dengan perkataan yang khidmat Sang Guru berterima kasih atas perjamuan Suppavāsā dan pergi.

Pada usia tujuh tahun Sīvalī kecil menerima Dhamma dengan sepenuh hati dan meninggalkan keduniawian untuk masuk Saṅgha; pada usia dua puluh tahun ia diterima menjadi bhikkhu. Beliau bersifat bajik dan mendapatkan mahkota kebajikan berupa pencapaian sebagai Arahat dan bumi pun bersorak keras karena gembira.

Aṅgutarra Nikāya I.24 mencatat bahwa Sang Buddha menganugerahi YA Sīvalī gelar sebagai yang terbaik di antara para penerima persembahan.

5. The Venerable Sῑvalī Thera

Asātarūpa Jātaka (Jātaka 100): This story was told by the Master while at Kuṇḍadhānavana near the city of Kuṇḍiya about Suppavāsā, a lay-sister, who was daughter to King Koliya. For at that time, she, who had carried a child seven years in her womb, was in the seventh day of her throes, and her pains were grievous. In spite of all her agony, she thought as follows: “All-Enlightened is the Blessed One who preaches the Truth to the end that such suffering may cease; righteous are the Elect of the Blessed One who so walk that such suffering may cease; blessed is Nibbāna wherein such suffering cloth cease.” These three thoughts were her consolation in her pangs. And she sent her husband to the Buddha to tell her state and bear a greeting for her.

Her message was given to the Blessed One, who said,  “May Suppavāsā, daughter of the king of the Koliyas, grow strong and well again, and bear a healthy child.” And at the word of the Blessed One, Suppavāsā, daughter of the king of the Koliyas, became well and strong, and bore a healthy child.

Finding on his return that his wife had been safely delivered, the husband marvelled greatly at the exalted powers of the Buddha. Now that her child was born, Suppavāsā was eager to show bounty for seven days to the Brotherhood with the Buddha at its head, and sent her husband back to invite them.

Now it chanced that at the time the Brotherwood with the Buddha at its head had received an invitation from the layman who supported the Elder Moggallāna the Great; but the Master, wishing to gratify Suppavāsā’s charitable desires, sent to the Elder to explain the matter, and with the Brotherwood accepted for seven days the hospitality of Suppavāsā.

On the seventh day she dressed up her little boy, whose name was Sīvalī, and made him bow before the Buddha and the Brotherwood. And when he was brought in due course to the Venerable Sāriputta, the Elder in all kindness greeted the infant, saying, “Well, Sīvalī, is all well with you?” “How could it be, sir?” said the infant. “Seven long years have I had to wallow in blood.”

Then in joy Suppavāsā exclaimed, “My child, only seven days old, is actually discoursing on religion with the apostle Sāriputta, the Captain of the Faith?”

“Would you like another such a child?” asked the Master. “Yes, sir,” said Suppavāsā, “seven more, if I could have them like him.” In solemn phrase the Master gave thanks for Suppavāsā’s hospitality and departed.

At seven years of age the child Sīvalī gave his heart to the faith and forsook the world to join the Brotherwood; at twenty he was admitted a full Brother. Righteous was he and won the crown of righteousness which is Arahatship, and the earth shouted aloud for joy.

Aṅgutarra Nikāya 1.24 records that the Buddha granted him the title the best among the recipients of gifts.

Ditulis oleh Rama Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Tersumpah, Sāsanadhaja Dharma Adhyapaka, Rohaniwan Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia

http://www.tjansietek.com