Home Blog Page 11

Tata Bahasa Inggris: Modal Auxiliary

  1. MODAL AUXILIARY
    1.  Daftar modal auxiliary
canmaymustshallwill
couldmightought toshouldwould
  1.  Definisi

Modal auxiliaries, modal auxiliary verbs, atau kadang-kadang disebut juga sebagai modal verbs, biasanya disingkat menjadi modals, bentuk tunggalnya: modal, adalah kata-kata bantu yang kita pakai jika kita ingin menunjukkan sikap (perasaan/mood) terhadap apa yang kita ucapkan atau ketika kita prihatin tentang dampak perkataan kita terhadap orang yang sedang bicara dengan kita atau yang sedang kita kirimi surat.

Selain itu, modal dipakai untuk menyatakan pendapat, misalnya menolak atau menyetujui sebuah dalil, rencana atau usul.

Kesulitan pemakaian modal: hampir semua modal memiliki lebih daripada satu arti.

Para lawyer, interpreter, pengusaha dan calon peserta uji TOEFL, TOEIC dan IELTS sebaiknya benar-benar menguasai pemakaian dan manfaat modal karena modals umumnya mengungkapkan mood/sikap/perkiraan/keraguan penuturnya.

Para penerjemah novel, film, drama dan pidato juga demikian.

Penerjemah sebaiknya lebih menekankan informasi daripada arti terjemahannya.

Contoh:

  1. can: (i) menunjukkan kemampuan dan keterampilan yang umum maupun tertentu serta  kepercayaan pada saat ini, (ii) mengungkapkan kesadaran atau pengetahuan lewat panca indra, atau kesimpulan yang logis saat ini;  (iii)  membicarakan kebenaran umum; (iv) minta ijin atau bantuan; (v) memberikan ijin pada saat ini; (vi) menawarkan bantuan pada saat ini.

Contoh:

  • He can lift the big rock alone. (kemampuan umum)
  • Some people can run faster than others. (kemampuan khusus)
  • Can I join the meeting? (minta ijin)
  • He can join our meeting. (memberikan ijin)
  • Can you help me? (minta bantuan)
  • This can be the right answer to his question. (kesimpulan yang logis)
  • Can I help you? (Menawarkan bantuan)
  • Some birds can fly high in the sky. (kebenaran umum)

Catatan:

(a) could dipakai untuk (i) menunjukkan kemampuan dan keterampilan yang umum maupun tertentu serta  kepercayaan di masa lampau, dan (ii) mengungkapkan kesadaran atau pengetahuan lewat panca indra, atau kesimpulan yang logis di masa lampau

Contoh:

  • When I was younger, I could lift any weight of up to 50 kgs.
  • He could read small lettering well without the help of eye-glasses when he was younger.
  • The money could be enough to settle all his debts last week.
  • Until last month my mother could barely walk.

(b) could lebih formal daripada can ketika memberikan atau minta ijin, atau minta atau menawarkan bantuan

Contoh:

(i) Could I join the meeting? (minta ijin)

  • He could join our meeting. (memberikan ijin)
  • Could you help me? (minta bantuan)
  • Could I help you? (menawarkan bantuan)

© can tidak boleh dipakai untuk (i) menunjukkan kemampuan dan keterampilan yang umum maupun tertentu serta  kepercayaan di masa depan, dan (ii) mengungkapkan kesadaran atau pengetahuan lewat panca indra, atau kesimpulan yang logis di masa depan.

 Sebagai penggantinya, kita boleh memakai be able to atau be possible to.

Contoh:

  • He will be able to lift the big rock alone if he practices weight-lifting hard, atau

It will be possible for him to lift the big rock alone if he practices weight-lifting hard.

  • Some athletes will be able to run faster than others after a lot of exercises, atau

It will be possible for some athletes to run faster than others after a lot of exercises.

d. subject + can (past tense: could) juga dipakai untuk mengungkapkan (i) kemungkinan umum ketika berarti “it is possible,” yang berarti keadaan memungkinkan; dan (ii) kemungkinan sesekali. Jadi, hal itu sangat berbeda dari informasi yang diungkapkan oleh “may” yang menunjukkan keraguan si penutur.

Contoh:

  • You can ski on the hills. (karena ada cukup salju)

Setara dengan: It is possible for you/everyone to ski on the hills, atau

                      It si possible that you/everyone ski on the hills.

Arti:: Bisa bagi anda/setiap orang  untuk main ski di perbukitan itu, atau

                     Anda/setiap orang bisa main ski di perbukitan itu.

Informasi: Setiap orang bisa main ski di perbukitan itu.

  • You can travel to the country. (karena ada cukup uang, atau negeri itu aman)

Setara dengan: It is possible for you to travel to the country.

Arti: Anda bisa berjalan-jalan ke negeri itu.

Informasi: Setiap orang bisa berjalan-jalan ke negeri itu.

  • Malaria can be dangerous. (kemungkinan sesekali)

Setara dengan: It is possible for malaria to be dangerous.

Arti: Malaria bisa berbahaya.

Informasi: Kadang-kadang malaria berbahaya.

Informasi: Malaria tidak selalu berbahaya.

Selain itu, can (past tense: could) juga dipakai untuk mengungkapkan  fakta-fakta yang umumnya benar, terutama ketika fakta-fakta itu terkait dengan sesuatu atau seseorang yang mampu menimbulkan dampak, atau berperilaku secara tertentu.

 e. can juga dipakai dalam membentuk combination adjective, misalnya can-do, yang berarti “yakin mampu melakukan segala-galanya.”

Contoh:

  • Indonesia’s can-do generation will be the engine of growth.
  1. May/might: untuk (i) menunjukkan keraguan atau perkiraan tentang terjadi atau adanya sesuatu atau seseorang, atau kepastian di bawah 50% tentang hal tersebut, sekarang, masa lampau atau mendatang, sehingga terjemahannya adalah mungkin,  (ii) minta atau menawarkan ijin.

Contoh:

  • He is outside the room now. (pasti; fakta)
  • He may/might be outside the room now. (kemungkinan atau keraguan sekarang)
  • It rains hard almost every day here now. (pasti; fakta; kebiasaan)
  • It may/might rain hard. (perkiraan tentang kejadian mendatang)
  • Cultural factors have made the Japanese a superior people. (pasti; fakta)
  • Cultural factors may have made the Japanese a superior people. (kemungkinan atau perkiraan kejadian masa lampau dalam direct speech)
  • The cultural expert said that cultural factors had made the Japanese a superior people. (pasti, fakta)
  • The cultural expert said that cultural factors might have made the Japanese a superior people. (kemungkinan atau perkiraan kejadian masa lampau dalam indirect speech atau reported speech)
  • May I come in? (minta ijin; lebih formal daripada can dan could)
  • Might I come in? (minta ijin, lebih formal daripada may; sekarang jarang dipakai karena dianggap kuno dan digantikan oleh could: Could I come in?)
  • …. never forget that every single organic being around us may/might be said to be striving to the utmost to increase in number …. (The Origin of Species, p. 53)
  • The face of Nature may/might be compared to a yielding surface, with ten thousand sharp wedges packed close together and driven inwards by incessant blows, sometimes one wedge being struck, and then another with grater force. (p. 53)

Tetapi, might harus dipakai di reported speech dan conditional statement jika pernyataan yang bersangkutan dimulai dengan sebuah past tense.

Contoh:

Mary said John might come here. (reported speech)

If we invited him, John might come here. (conditional)

Catatan: may juga punya arti yang setara dengan possibly, yang menunjukkan bahwa hanya ada kepastian di bawah 50% bahwa sesuatu akan terjadi. Jadi, may sebenarnya menunjukkan keraguan si penutur.  Might bahkan lebih lebih meragukan. Karena itu,   dalam percakapan, keraguan dapat ditingkatkan dengan menekankan kata may/might. Dalam tulisan, tanda baca ‘ persis di belakang may atau might.

Contoh:

  •  The bank ‘may lend John the money (dengan tekanan yang kuat pada may) berarti bahwa  bank itu sangat tidak mungkin meminjami John uang.
  • The bank ‘might lend John the money (tekanan yang kuat pada might) berarti bahwa bank itu sama sekali tidak mungkin meminjami John uang.

Catatan: Untuk menunjukkan kepastian di atas 50%, kita pakai kata probable kalau adjective, atau probably jika adverb. Untuk sesuatu yang sangat mungkin (>70%), kita pakai kata likely. Tetapi, probable, probably, dan likely bukan modal.

Contoh:

(i)The wages of labour, therefore, are likely to be higher in manufacturers of the former, than in those  of the latter kind. (The Wealth of Nations, p. 132)

Untuk menunjukkan kemungkinan yang lebih besar, kita bisa pakai gabungan dua kata: may well (sangat/benar-benar mungkin= fairly likely), tetapi tetap berkepastian di bawah likely.

Contoh:

(i)The wages of labour may, therefore, well be higher in manufacturers of the former, than in those  of the latter kind.

Beda arti dan informasi antara:

  1. may/might dan can:

– May/might menunjukkan keraguan, atau kepastian di bawah 50% saat ini, masa lampau atau mendatang;

Can menunjukkan kemampuan saat ini.

Contoh:

  • He may be outside the room now.

Arti: Dia mungkin ada/berada di luar ruangan sekarang.

Informasi: Ada kepastian di bawah 50% orang itu ada di luar ruangan sekarang.

Kalimat Inggrisnya bisa digantikan dengan:

Perhaps he is outside the room now, dengan arti dan informasi yang sama.

Jika pasti atau fakta: He is outside the room now.

  • He can be outside the room now.

Arti: Ia mampu/bisa ada/berada di luar ruangan sekarang tetapi dia tidak di luar ruangan sekarang.

Informasi: Orang itu mempunyai kemampuan untuk ada di luar ruangan sekarang jika perlu atau diminta, tetapi ia belum di luar ruangan.

Kalimat Inggrisnya bisa digantikan dengan:

  • – He is able to be outside the room now.

Catatan:

  • Rising interest rates may squeeze factories in the coming months.

Arti: Suku-suku bunga yang sedang naik mungkin akan mencekik pabrik-pabrik pada bulan-bulan yang mendatang.

Informasi: Ada kepastian bawah 50% bahwa suku-suku bunga yang sedang naik akan mencekik pabrik-pabrik ….

 Kalimat Inggrisnya bisa diganti dengan:

Perhaps rising interest rates will squeeze factories in the coming months.

Catatan: Dalam bidang formal, misalnya surat perjanjian atau kontrak yang resmi, can tidak dipakai karena dianggap informal sehingga digantikan dengan kata be able to ketika berarti bisa/mampu, atau may ketika berartiboleh/diijinkan/dapat. Tetapi, bentuk negatifnya, yaitu cannot, kadang-kadang dipakai. Selain itu, dalam konteks lain, may bisa berarti mungkin ketika menunjukkan kepastian bawah 50%.

Contoh:

  • Either of the Parties hereto may terminate this Agreement on any early date.
  • Confidential information shall mean any information on the business, financial or other affairs of the Company which may from time to time be delivered, divudlegd, disclosed, improted or otherwise communicated by or on behalf of the Company to the Distributor.
  1. may dan might  dan could: may sedikit lebih formal daripada might dan could ketika kita berkata bahwa ada suatu kepastian bawah 50% sesuatu sedang berlangsung saat ini atau merupakan fakta.

Contoh:

  • He may/might/could be outside the room now.
  • The country may/might/could start exporting quality rice next year.

Untuk menambah tingkat kepastian, kita tambahkan kata well sesudah may/might/could.

Contoh:

  • He may/might/could well be outside the room now.
  • The country may/might/could well start exporting quality rice next year.
  • China could well be on its way to the launch of its most significant commodity futures as the Shganghai Futures Exchange has vetted applications from brokerages to conduct crude oil futures business. (Bloomberg).
  •  A number of cultural factors may/might/could well have made the Japanese a superior people.

Perkataan may well, might well, atau could well setara dengan “fairly likely.”

Implikasi pada terjemahan

  • This system imbued ordinary Japanese with what may well have become the highest quality standards in the world.

Terjemahan:

-Sistem itu mengilhami orang Jepang biasa dengan apa yang mungkin benar-benar telah menjadi standar-standar mutu yang tertinggi di dunia, atau

– Sistem itu … dengan apa yang mungkin benar-benar telah menjadi standar-standar mutu yang tertinggi di dunia.

Dengan pengertian bahwa perkataan “may well have made” menunjukkan sesuatu yang mungkin benar-benar telah terjadi di masa lampau.

Karena itu, kalimat Inggrisnya bisa diganti menjadi:

– This system imbued ordinary Japanese with what had fairly likely become  the highest quality standards in the world, atau

– This system … with what was fairly likely to become the highest quality standards in the world.

Kata probable, atau bentuk adverb-nya, yaitu probably,  bisa dipakai untuk menunjukkan kemungkinan sampai dengan 70%. Kata likely dipakai untuk menunjukkan kepastian atas 70%. Dalam standard British English, kata likely bisanya ditambahi kata more atau most di depannya, juga dengan mengubah susunan katanya. Dalam North American English, tidak biasa.

Contoh:

  • North American English:

He is likely outside the room now, atau

He is likely to be outside the room now, atau

It is likely that he is outside the room now.

Dalam British English:

He is more/most likely outside the room now, atau

He is more/most likely to be outside the room now, atau

It is more/most likely that he is outside the room now.

  • It is likely for the country to start exporting quality rice next year.
  • It is more/most likely for him to be outside the room now.

Catatan lebih lanjut tentang likely:

  1. Diperlakukan sebagai adjective ketika menunjukkan seseorang atau sesuatu (i) kelihatan pasti; (ii) terlihat seperti kebenaran, fakta atau kepastian, (iii) terlihat memenuhi persyaratan atau perkiraan, atau kelihatan cocok; (iv) memperlihatkan harapan prestasi atau keunggulan; menimbulkan harapan.

Contoh:

  • A likely candidate= calon yang mungkin menang, atau calon yang cocok
  • He is likely to succeed in his endeavor= Dia kelihatan akan berhasil dalam upayanya.
  • A fine, likely young man= pria muda yang sangat terhormat dan menimbulkan harapan
  • A likely story= cerita yang mungkin benar
  • An unlikely outcome= suatu hasil yang tidak mungkin terjadi
  1. Diperlakukan sebagai adverb ketika menunjukkan kemungkinan (probability) sesuatu akan terjadi sampai 70%. Kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary (OALD) menyatakan bahwa dalam (i) Standard British English, likely tidak biasa berdiri sendiri dan harus dipakai bersama-sama dengan qualifier very, more atau most; (ii) dalam informal North American  English, likely sering berdiri sendiri. Webster’s Encyclopedic Dictionary (WED) menyatakan bahwa penambahan qualifier tidak harus.

 Contoh:

  • We will most likely see him later. (OALD)
  • He said that he would likely run for President. (OALD)
  • It will likely be a bitter debate. (WED)
  • The shipment will likely arrive on Thursday. (WED)

Tetapi, para ahli grammar lebih menyukai likely sebagai adjective.

Dalam banyak hal, modals tidak dipakai untuk menyebutkan fakta.

Beda antara fakta dan kemungkinan, kesimpulan, pendapat dll

  • She is 25 years old. (fakta)

She will be 25 years old next year. (fakta yang akan timbul)

She must be 25 years old. (pendapat/kesimpulan)

= She is most probably 25 years old, atau

She is certainly 25 years old.

She may be 25 years old. (kemungkinan)

= Perhaps she is 25 years old.

She might be 25 years old. (keraguan meningkat)

= Probably she is 25 years old.

  • John came here. (fakta)

John may/might come here. (kemungkinan)

= Perhaps he comes there.

Dalam advanced English, secara umum, modals dipakai sebagai berikut:

1.3.1 tentang informasi, dalil, rencana

untuk menunjukkan tingkat kepastian (mungkin, sangat mungkin, pasti) anda tentang ketepatan atau kebenaran perkataan kita: sedikit mungkin, mungkin, sangat mungkin, atau pasti

  • In such places, therefore, though the rate of a particular person’s profits may be very high, the sum or amount of them can never be very great, nor consequently that of his annual accumulation. (possibility & usual inability)
  • In great towns, on the contrary, trade can be extended as stock increases, and the credit of a frugal and thriving man increases much faster than his stock. (The Wealth of nations, p. 131) (usual ability)
  •  In order, however, that this equality may take place in the whole of their advantages or disadvantages, three things are requisite even where there is the most perfect freedom.
  • She must be almost at breaking point and seeing me might do her more harm than good.
  • This system imbued ordinary Japanese with what may well have become the highest quality standards in the world.
  • Einstein himself was well aware that proof would not be easy. (p. 257)
  • For these reasons, of for no other, it is worth considering the pros and cons of what must for Einstein have been a difficult situation. (p.217)
  1. terhadap tingkat niat atau keinginan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu

Contoh:

  • She won’t love you. (penolakan saat ini yang sangat kuat)
  • She can’t love you. (penolakan saat ini karena ada alasan khusus)
  • She couldn’t love you. (penolakan saat ini karena kemungkinan akan ada kesalahan, atau tidak dimungkinkan oleh keadaan)
  • She wouldn’t love you. (penolakan di masa lampau)

 Catatan:

  1. Benda dan binatang juga bisa dianggap menunjukkan hal-hal yang sama.

Contoh:

  • The tape won’t adhere to the wall.
  • The tape can’t adhere to the wall.
  • The tape couldn’t adhere to the wall.
  • The tape wouldn’t adhere to the wall yesterday.
  • The bird won’t fly.
  • The bird can’t fly.
  • The bird couldn’t fly.
  • The bird wouldn’t fly this morning.
  • The car won’t start.
  • The car can’t start.
  • The car couldn’t start.
  • The car wouldn’t start this morning.
  •   
  • Beda antara will dan would
  • Will dipakai untuk menunjukkan kejadian masa depan yang biasa.
  • Will + bare infinitive dapat dipakai untuk mengungkapkan kebiasaan/sifat ketika kita ingin menekankan sifat si pelaku bukan tindakan si pelaku,

He will usually help others whenever he can.

  • Would adalah bentuk lampau will ketika will dipakai untuk menunjukkan niat atau kejadian masa depan yang biasa; would berada  di dalam kalimat anak, sebagai reported speech atau bagian dari conditional statement.

Namun, wouldn’t dapat berdiri sendiri untuk menunjukkan niat negatif (penolakan) di masa lampau.

Contoh:

  • The manager wouldn’t come yesterday. (Manajer itu menolak datang kemarin)
  • The country wouldn’t import rice last year.

Sebaliknya, would sebagai bentuk lampau will tidak bisa berdiri sendiri.

Contoh:

The manager would come yesterday. (salah)

The country would import rice last year. (salah)

Karena itu, kata would sebaiknay digantikan dengan wanted/intended/offered to sehingga menjadi:

  • The manager wanted/intended/offered to come yesterday.
  • The country  wanted/intended/offered to import rice last year.
  •  Selain itu, would dapat menunjukkan tindakan sifat/kebiasaan/ciri seseorang saat ini yang menjengkelkan penuturnya; biasanya sebagai bagian dari komentar.

Contoh:

  • Tim is angry.

                      He ‘would!, atau He ‘would be angry!

                      (penutur jengkel; Tim selalu marah)

  • A cup of coffee in this cafe costs a lot of money.

It ‘would!, atau It ‘would cost a lot of money!

(penutur jengkel)

13.2.1 would like

13.2.1.1 mau, ingin

(i) I would like to thank you so much for your help.

13.2.1.2 berharap

(i) People would like to think that the food found in cities is more delicious than those in villages.

(ii) In the same way people would like to think that sensual pleasures are the greatest pleasures.

  1. terhadap orang lain

Modals dipakai untuk menimbulkan dampak atau hasil psikologis atau mental tertentu pada lawan bicara.  Pemilihan modals bergantung pada sejumlah faktor, misalnya hubungan antara penutur dan lawan bicaranya, apakah keadaannya formal atau informal, dan penting tidaknya perkataan si penutur.

Contoh:

  • Sit down. (kepada seorang anak atau teman dekat; tetapi, kasar terhadap orang yang belum dikenal)

Will you sit down? (cukup sopan)

Would you sit down? (sopan)

Could you sit down? (sangat sopan)

    • ijin atau permohonan
  • You can go there now. (usual/common permission)

(ii) You could go there now. (polite permission)

(iii) Can I come in now? (usual request)

(iv) Could I come in now? (polite request)

  1. must
  2. You must go now. (keharusan)
  3. He must be tired now. (sangat mungkin)
    1. Shall, should (untuk will dan would, lihat 1.3.3.2)

Perbedaan antara tense, question dan modal auxiliary statement (atau modal statement)

Simple Future Tense, Future Perfect Tense?QuestionModal Statement yang menunjukkan perintah, permintaan, undangan, atau nasihat
He will come in. Dia akan masuk.Will he come in? Akankah dia masuk?(i) Will you come in? Masuk (permintaan atau perintah, yang bergantung pada nadanya). Sopan: Will you come in, please? Masuklah (perintah yang sopan), atau silakan masuk (undangan). Formal: Will you please come in? Masuklah, atau silakan masuk.
2. He will give me a favourWill he give you a favour?Will you give me a favour? Bantu saya. Will you give me a favour, please? Formal: Will you please give me a favour?
I will work here with him.Will you work here with him?You will work here with him. Anda kerja di sini dengan dia (perintah).
I will go there tonight.Will you go there tonight? Akankah anda pergi ke sana malam ini? 
  I will go there now. Will you go there now? (rencana/niat) Berencanakah/berniatkah anda pergi ke sana sekarang?
I/we/he/she/they will go there tonight.Will you/we/he/she/they go there tonight? 
  I/we shall go now/tomorrow. Saya/kami harus pergi sekarang/besok. Shall I/we go now/tomorrow? (peraturan)
  He/she shall go now/tomorrow. Shall he/she go now/tomorrow?
   
Reported speech: I/we said that I/we would/should go there now. Saya/kami berkata bahwa saya/kami akan pergi ke sana sekarangI/we asked,”Shall/will I/we go there now?”Nasihat/anjuran: I/we said that I/we should go there now. Saya/kami berkata bahwa saya/kami sebaiknya pergi sekarang (ii) I/we said that we go* there now (formal British English, tetapi common American English). Catatan: * go menjadi subjunctive mood, yaitu mood yang menggambarkan suatu tindakan atau keadaan (tidak sebagai fakta tetapi) sebagai kalau-kalau atau kemungkinan. Lihat  2.2.6 & 2.3)  b.Janji, perkiraan, harapan, atau pertanyaan tentang hari kemudian: I/we said that I/we would go there now. Catatan: “would” tidak bisa dihilangkan.
   
   

Contoh-contoh yang lain:

  • He may come now. (polite permission)
  • He might come now. (very formal possibility)
  • May I come in now? (polite request)
  • Might I come in now? (very polite request)
  • You must follow our rules. (strong command)
  • You ought to follow our rules. (obligation)
  • You shall go now. (formal command)
  • Shall I go now? (rule)
  • Will you go there now? (plan/intention)
  • Will you come in? (invitation)
  • You will work here with him. (command)
  • I shouldn’t do that. (regret)

Contoh-contoh yang lain:

  • We can read of things that happened 5,000 years ago in the Near East, where people first learned to write.
  •  They can tell us something about people’s migrations.
  • None could write down what they did.
  •  There are some parts of the world where people even now people cannot write.
  •  They may also have used wood and skins.
  • The only way by which they can preserve their history is by recounting it as sagas—legends which have been handed down from one generation of story-tellers to another.
  • Why, you may wonder, should spiders be our friends?
  • Insects would make it impossible for us to live in the word if it were not been for the protection we get from insect-eating animals.
  • Spiders are not insects. One can tell the difference almost at a glance for a spider always has eight legs and insects never more than six.

should dipakai untuk mengungkapkan anjuran, nasihat atau penyesalan

Contoh:

  • His tenure was a disaster from Day One and he should have quit immediately.
  •  The “negative list” approach to foreign investment should be expanded to the whole country as soon as possible.
  • Laws, rules and policies out of tune with the oeravll direction and principle of opening-up should be abolished or revised within a time limit.
  •  

1.5 Tidak boleh ada dua buah modal auxiliary yang letaknya berturut-turut.

Modal auxiliary yang kedua harus diganti:

Can > (to) be able to

May > (to) be permitted to

Must > have to, has to; had to

Contoh:

  1. He will be able to speak fluent English next year.
  2. Nobody will be able to do it alone.
  3. Who must be able to translate this book next month?
  4. Who has to be able to translate it next month?
  5. When will we be permitted to come into the room?
  6. The warriors will have to go now.
  7. Must all of us be able to compete against the Japanese in the next five years?
  8. Will the interns be able to help us in our work next month?
  9. Will you have to be able to apply your knowledge by next month?
  10. Which of you must be able to do the assignment tomorrow evening?

Exercises:  Is there any modal auxiliary in each of the following questions?

  • Will they have learned a lot of important lessons from Zen Buddhism in the next three years?
  • Was there any spiritual element in all the Japanese achievement?
  • Would there be greater achievement if the role of spirit were greater?
  • What arose in the 11th and 12th centuries to become the great advocates of Zen Buddhism?
  • Why did the samurai warrior class become the advocates?
  • What taught the Japanese an austere life-style to achieve national greatness?
  • What did the samurai’s lives depend on?
  • Whose lives depended on extraordinary skill in the martial arts?
  • How many percent of the population did the samurai make up?
  • Who also imbued Japanese culture with a strong martial nature?
  • Which rules were taught to apply to learning these arts?
  • What conditioned the Japanese to do things in a precise order and to abhor weakness or failure of any kind?
  •   What are taught as guidelines for success in business?
  • Who explains the secret to achieving success in kendo?
  • Who will be the headmaster of the new kendo school?
  • When will you explain this secret to the headmaster?
  • How many exercises must be repeated?
  • Can you empty your mind of any other matters so that you can control it?
  •  Who must open the mind fully in order to perceive completely and accurately whatever situation is at hand?
  • What one must nurture in order to perceive reality and to be able to read an opponent’s intentions?
  • When will you apply your ingenuity to your translation study?  

Dhammapada 19

Stanza 19:   ‘bahumpi ce sahitaṁ bhāsamāno – na takkaro hoti naro pamatto                          

                          gopo’va gāvo ganayaṁ paresaṁ- na bhāgavā samaññassa hoti’’

Meaning in English: ‘The thoughtless person, even if he can recite a large portion of the sacred texts, but acts not accordingly, has no share in the priesthood or holy life, but is like a cowherd who tends the other’s cows.’

Arti bahasa Indonesia-nya: Walaupun mengucapkan banyak bagian dari Tipitaka, tetapi tidak bertindak secara sesuai, orang yang lengah itu tidak mendapatkan hasil-hasil dari kehidupan kebhikkuan atau suci,* melainkan seperti penggembala yang menghitung sapi-sapi milik orang lain.

*Magga dan Phala

Latar belakang: Pada suatu ketika ada dua orang bhikkhu dari keluarga yang mulia dan mereka adalah teman baik. Satu orang di antaranya mempelajari Tipitaka dan demikian pintar dalam menguncarkan dan berceramah. Dia melakukan pelayanan pengajaran dan pelatihan kepada banyak bhikkhu. Bhikkhu yang kedua mengerti realitas (anicca, dukkha dan anatta) setelah melakukan tugas meditasinya dengan tekun, mencapai tingkat Arahat berikut pengetahuan luar biasa selama Meditasi Vipassana. Pada suatu kali, kedua orang bhikku itu bertemu di Vihara Jetavana (Hutan Jeta). Karena tidak mengerti bahwa temannya yang bhikkhu itu telah benar-benar mencapai tingkat Arahat, bhikkhu yang banyak belajar itu memandang rendah pada bhikkhu yang kedua sehingga berpikir bahwa temannya tahu sangat sedikit tentang Tipitaka dan Dhamma. Sang Buddha memahami niat buruk itu dan mengunjungi kedua orang bhikkhu itu. Sang Buddha mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang jhāna-jhāna dan pencapaian-pencapaian tinggi dalam hal meditasi (magga-magga). Ahli Tipitaka itu tidak mampu menjawabnya dengan sesuai karena ia tidak mempraktikkan apa yang ia ajarkan. Bhikkhu kedua yang telah mencapai tingkat Arahat itu dapat menjawabnya dengan jelas. Lalu, Sang Buddha memuji bhikkhu kedua tersebut yang telah mempraktikkan dan mencapai Dhamma, tetapi tidak satu pun kata pujian diberikan kepada bhikkhu yang banyak belajar itu. Para bhikkhu yang tinggal di vihara itu ingin tahu tentang mengapa Sang Buddha tidak memuji guru mereka yang banyak belajar itu.

Sang Buddha menjelaskan:

“Bhikkhu yang banyak belajar itu tahu banyak sekali tentang Tipitaka tetapi tidak mempraktikkan Dhamma. Jadi, ia seperti penggembala yang menjaga sejumlah sapi untuk mendapat gaji. Bhikkhu yang kedua mempraktikkan Dhamma adalah seperti pemiliknya yang menikmati lima jenis produk dari sapi-sapi itu. Jadi, ia dengan tepat memetik manfaat dari kesucian karena ia telah memberantas ketamakan, kebencian dan kebodohan batin.”

 ‘bahumpi ce sahitaṁ bhāsamāno’ – di kalimat ini, sahitaṁ adalah teks-teks Dhamma atau Tipitaka tempat kita menemukan dialog-dialog Sang Buddha.

Sutta piṭaka: Dialog-dialog Sang Buddha:                                                          

  1. Dīgha nikāya: terdiri atas 34 buah dialog panjang Sang Buddha;
  2. Majjhima nikāya: 152 buah dialog setengah panjang oleh Sang Buddha;
  3. Saṁyutta nikāya: dialog-dialog lebih pendek yang dkelompokkan menurut 56 topik yang beraneka-ragam;
  4. Aņguttara  nikāya: terdiri atas dialog-dialog pendek yang disusun dari yang sedikit  kata sampai yang banyak,                                                                                           
  5. Khuddaka nikāya: terdiri atas 15 bunga rampai atau teks yang mandiri (misalnya Khuddaka Pāṭha, Dhammapada, Udana, Jātaka Pāli dsb).
  6. Vinaya piṭaka: keranjang yang berisi aturan disiplin untuk para anggota Saṅgha, yang pria maupun wanita.

Bagian-bagian penting Vinaya:           

 (i) Pārājikā Pāli: (sebagian dari Sutta-vibhaṅga) – bagian ini terdiri atas pembabaran rinci tentang 49 aturan disipilin untuk para bhikkhu;

(ii) Pācittiya Pāli: (sebagian dari Sutta-vibhaṅga) – Bagian ini terdiri atas aturan-aturan di kelompok-kelompok Pācittiya and sekhiyā, 7 Adhikaranasamatha, dan aturan-aturan Bhikkhuni-vibhaṅga.

(iii) Mahāvagga Pāli: (buku pertama kelompok Khandaka). Bagian ini terdiri atas 10 bab yang menyajikan beberapa buah peristiwa penting dalam sejarah awal Buddhisme dan Saņgha, beberapa aturan penting yang mengatur kehidupan bhikkhu serta organisasi keviharaan mereka.                                                                                          

Bab 1: Peristiwa-peristiwa pembuka dalam sejarah Buddhisme; Pencerahan, Khotbah Pertama, 60 orang Siswa pertama, kunjungan pertama ke Rājagaha dsb;                                Bab 2: upacara Uposatha, perbatasan (sīma);                                        

Bab 3 & 4: tinggal selama musim hujan (vassa);  

 Bab 5: Cammakkhandaka;                        

Bab 6 6:  Bhesajjhakkhandaka;    

Bab 7: beberapa aturan;                                     

Bab 8:  Kaṭhina,                            

Bab 9: Putusan-putusan kebhikkhuan, dan      
 Bab 10: Pembahasan tentang perselisihan.

(iv) Cullavagga Pāli: (buku kedua kelompok Khandaka): bagian ini terdiri atas 12 bab:

  1. Kammakkhandaka: hukuman;  2. Perilaku bhikkhu; 3. Aturan Vinaya; 4. Penyelesaian persoalan aturan; 5-6-8: Aturan tentang kehidupan sehari-hari; 7. Kisah pelantikan bhikkhu dan samanera; 9. Pengulangan Pātimokkha; 10. Sanņha Bhikkhuni; 11. Konsili Buddhist Pertama aliran Theravāda; and  12. Konsili kedua Buddhis.

Parivāra Pāli: kami tidak menemukan jenis bagian ini di sekte-sekte Buddhis yang lain. Bagian ini kelihatan sebagai lampiran ke sebuah naskah yang sudah selesai. Bagian ini sejenis matriks bagi bagian lain Vinaya Pitaka. Memang kami menemukan ringkasan dan penggolongan aturan Vinaya.                                                                                                  

  (3) Abhidhamma piṭaka: Keranjang ini membabarkan perkataan Sang Buddha menurut realisme etis dan disebut sebagai “Ajaran Agung,” “Ajaran Tanpa Tanding,” atau “Ajaran yang Baik Sekali.” Ketujuh buah buku Abhidhamma yang fundamental: Dhammasaṅgani, Vibhaṅga, Dhātukathā, Puggla paññatti, Kathāvatthu, Yamaka, dan Paṭṭhāna.

Pembelajaran, penguncaran, dan pengajaran demikian penting, tetapi mempraktikkannya jauh lebih penting menurut stanza di atas.

Pengalaman saya untuk berhenti Merokok secara total

0

dari kompasiana.com/tjansietek


Tahun ini (2022) adalah Ultah ke-23 saya berhenti merokok.

Keluarga saya adalah perokok. Saya perokok kretek berat selama hampir 22 tahun dan berhenti total merokok tahun 1999; jadi sekitar 19 tahun lalu. Sejak itu sd sekarang saya tidak pernah merokok lagi dan tanpa pernah sekali pun ada niat merokok lagi.

Ada tiga tahap yang saya jalani untuk total berhenti merokok.

1.PERSIAPAN

Kesadaran untuk berhenti merokok

Sekitar awal 1999 saya tanya diri saya: apa untungnya merokok selama ini?

Jawaban: Rasanya tidak ada sedikit pun! Saya juga tidak bertambah pintar ataupun kaya!

Saya tanya lagi diri saya: Apa ruginya merokok selama ini?

Jawaban: banyak sekali!!!:

Bau: keringat bau asap rokok, kamar tidur juga, rambut juga dll;

Kerugian kesehatan: jarang berasa bugar. Kata banyak orang, paru-paru terancam sakit.

Kerugian materi: baju dan celana panjang sering bolong kena sundut rokok atau kejatuhan api dari rokok; harga rokok semakin tinggi; kantong terancam kering!!!

Dll, dll.

Sesudah itu, saya menakut-nakuti diri saya terus tentang bahaya merokok. Lalu, saya datangi orang yang perokok dan sudah sakit paru-paru. Saya ikut dia ke dokter spesialis. Dokter itu tunjukkan kepada kami foto-foto sinar X paru-paru yang sakit. Menyeramkan!!!

Selama hampir 6 bulan, saya membaca artikel-artikel di koran dan majalah tentang bahaya merokok untuk menjadikan diri saya lebih takut merokok dan semakin mantap untuk berhenti merokok. Saya pelajari juga bagaimana perasaan dan mental orang-orang lain yang sudah pernah mencoba berhenti merokok tapi gagal.

Saya atur agar semua persoalan berat dalam bisnis dll diselesaikan terlebih dahulu sebelum mulai berhenti merokok. Jika persoalan itu tidak terselesaikan, saya tunda sampai sebulan kemudian supaya tidak perlu merokok untuk memikirkannya!!!

2. PELAKSANAAN

Saya tentukan hari untuk saya berhenti merokok, yaitu ketika datang seorang teman lama yang sering mengejek bahwa saya tidak bisa berhenti merokok.

Dia datang. Lalu, di depan dia plus saudara-saudara saya yang perokok, saya mengambil sebatang rokok kretek kesayangan saya dari kantung baju, lalu membakar dan mulai mengisapnya. Setelah dua-tiga isapan, saya bilang kepada mereka,” Lihat, mulai detik ini saya berhenti merokok secara total untuk selama-lamanya.” Lalu, saya patahkan rokok yang baru saya isap itu. Saya tawarkan sisa rokok yang ada di kantung saya plus satu bungkus lagi yang masih utuh kepada beberapa orang lain yang juga hadir. Mereka menerimanya.

3. Sengsara selama 2 minggu pertama setelah berhenti merokok

Setelah hari itu sampai seminggu kemudian, saya minum sedikit yang asam-asam: jus jeruk, dll.

Saya siapkan satu botol jus jeruk per hari dan meminumnya sedikit-dikit ketika mulut terasa asam minta rokok. Saya juga tetesi lidah saya dengan air minum.

Mulai hari ke-8 sd ke-14, mulut saya berasa asam sekali dan ingin merokok betul. Pikiran juga sangat tersiksa oleh kecanduan rokok. Saya bertekad baja untuk bertahan terhadap kecanduan itu. Saya kurangi banyak sekali kegiatan bisnis yang berat; saya setengah berleha-leha selama sekitar seminggu. Tidur pun agak sulit. Saya tetap bertahan. Saya juga menghindari pertemuan dengan para perokok. Catatan: Ini langkah penting karena bergaul kembali dengan perokok akan membuat kembali merokok, dengan minta sebatang rokok dari mereka, lalu mulai membeli sendiri dan ketagihan berat lagi.

4. SUKSES

Mulai hari ke-15, kecanduan saya mulai melemah dan saya mulai merasakan rambut dan pakaian saya tidak bau lagi!!! Saya bahagia sekali!!!

5. Hambatan selama berhenti merokok

Selama 6 bulan pertama berhenti merokok, masih ada sedikit niat untuk iseng merokok lagi tetapi saya camkan pada pikiran,” Jangan mulai merokok lagi sedikit pun!!!”

Saya perbanyak minum jus jeruk, makan buah-buahan dll.

Akhirnya hilang semua kecanduan dan tidak ada sedikit pun niat untuk merokok lagi sampai sekarang.

Good bye, rokok!!!

Semoga bermanfaat.

Akibat-akibat gagal memimpin krn Serakah, Benci & Bodoh Batin

0

Pemimpin organisasi: usaha, sekolah, universitas, cetiya, vihara, sekolah minggu, kursus dll:

A. Contoh-contoh pemimpin yang gagal karena Serakah, Benci & Bodoh Batin (SBB):

1.      Memilih orang-orang yang asala bapak senang (ABS; yes-man) padahal tidak mampu mengelola organisasi;

2.      Mengikuti nasihat orang-orang yang penuh SBB;

3.      Hanya memikirkan kepentingan dan kemauan pribadi dan kroninya;

4.      Melupakan visi dan misi luhur para pendiri organisasinya;

5.      Memecah belah orang-orang yang tidak menyukainya;

6.      Mengganjal, menjegal dan bahkan melempar keluar orang-orang baik yang tidak ABS kepada dirinya;

7.      Wajah dan tatapan matanya menunjukkan kuatnya cengkeraman SBB dalam dirinya sehingga hanya Mara dkk yang mau berteman dengan dirinya;

8.      Ucapan dan perbuatannya yang penuh SBB menakutkan banyak orang yang tidak berdaya dan memendam dendam;

9.      Banyak orang memalingkan muka ketika melihatnya karena kehadirannya merupakan tanda buruk;

10.   Tidak pernah turun tangan mengurus organisasinya, hanya mengandalkan orang lain.

11. dll

B. Akibat-akibatnya:

a. Bagi organisasinya sendiri:

1. Hancur nama harum organisasinya sendiri baik secara perlahan-lahan ataupun cepat;

2. Suasana tegang, penuh emosi, dendam,benci, marah, sakit hati dll;

3. Semakin banyak anggota yang baik pergi ke organisasi lain;

4. Menimbulkan banyak gosip yang merugikan organisasinya sendiri;

5. Bagi organisasi sosial, kehilangan banyak donatur yang sebenarnya punya potensi besar untuk mengajak donatur lain untuk berdana dll;

6. Juga kehilangan banyak pendukung, teman, relasi yang penting dll;

7. Organisasinya sendiri mungkin dijegal, dimusuhi dan dijauhkan oleh organisasi-organisasi lain yang para pemimpinnya memusuhinya;

8. Masyarakat yang ada di sekitar lokasi organisasinya pun ikut-ikutan stress karena malu dan bahkan marah punya warga yang buruk dan punya banyak musuh;

9. Banyak anggota yang tidak sejalan dengan dirinya menjadi stress, marah, malu dll sehingga dia menciptakan banyak karma buruk bagi dirinya sendiri;

10. Semakin sedikit orang yang datang ke organisasinya;

11. Organisasinya tidak berkembang seperti organisasi yang lain;

12. dll

b. Bagi diri, keluarga, tetangga dan temannya:

1. Namanya sendiri tercemar sebagai pemimpin yang gagal dan buruk;

2. Banyak pintu tertutup bagi dirinya karena punya banyak musuh dan tidak disukai oleh banyak orang;

3. Anggota keluarganya: isteri, anak,papa, mama, adik, ipar dll merasa malu sekali dengan tingkah lakunya;

4. Teman-temannya juga malu sekali ketika mendengar orang-orang lain membicarakan kejelekannya dan memusuhinya;

5. Hubungan sosial, keluarga dan bisnis anggota keluarganya menjadi tidak baik sehingga kemajuan mereka dalam banyak bidang ikut terhambat;

6. dll

c. Bagi dirinya pribadi berdasarkan Hukum Karma yang bertangan besi dan tidak pandang bulu:

1.      Segala macam bahaya selalu ada didekatnya dan siap menerkamnya karena dia telah menciptakan kondisi yang cocok untuk matangnya  akibat perbuatan-perbuatan buruknya di masa sekarang maupun yang lalu;

2.      Akibat-akibatnya akan jauh berlipat ganda jika ia mendorong, mengajak, membujuk, mengijinkan dan menganjurkan orang-orang lain untuk mengikuti sifat dan kelakuannya yang buruk dan membantu perbuatannya;

3.      Ketika dia wafat, banyak orang mensukurinya dan bahkan merasa lega karena bebas dari dirinya;

4.      Pintu alam-alam menderita atau rendah (neraka, peta,binatang, asura) terbuka lebar untuk “menyantapnya” & menyiksanya tanpa ampun karena memang tidak ada pengampunan;

5.      dll

Semoga bermanfaat. Silakan share dengan semua teman.

Mukjijat 2: Seorang Pria, beristri & 2 putra, berubah menjadi wanita, punya 2 putra lagi, lalu menjadi pria lagi

Stanza 43 Dhammapada: Riwayat Soreyya

The Story of Soreyya

 (Due to his wrongful thoughts on the Arahant Mahākaccāyana, a married man with two sons changed into a woman and married another man, gave birth to two sons and re-changed into his original form, a man, and became a member of the Order and then an Arahant)

(Karena pikiran jahatnya tentang Arahat Mahākaccāyana,  pria yang punya isteri dan dua orang putra  berubah wujud menjadi wanita, lalu ia menikah dengan seorang pria dan melahirkan dua orang putra, kemudian berubah lagi menjadi wujud semulanya, yaitu pria, dan menjadi anggota Saṅgha, kemudian Arahat)

1. While residing at the Jetavana monastery, the Buddha uttered stanza 43 of this book, with reference to Soreyya, the son of a rich man of Soreyya city.

On one occasion, Soreyya accompanied by a friend and some attendants was going out in a luxurious carriage for a bath. At that moment, Thera Mahākaccāyana was adjusting his robes outside the city, as he was going into the city of Soreyya for alms-food. The youth Soreyya, seeing the golden complexion of the thera, thought, “How I wish the thera were my wife, or else that the complexions of my wife were like that of his.” As the wish arose in him, his sex changed and he became a woman. Very much ashamed, he got down from the carriage and ran away, taking the road to Taxila. His companions missing him, looked for him, but did not find him.

1.    Ketika berdiam di Vihāra Jetavana, YMS Buddha mengucapkan Stanza 43 dari buku ini, dengan mengacu pada Soreyya, putra seorang kaya di Kota Soreyya. 

Pada suatu ketika, Soreyya, dengan didampingi seorang teman dan beberapa orang pelayan sedang pergi keluar naik kereta mewah untuk mandi. Pada saat itu, Thera Mahākaccāyana sedang mengatur jubah beliau di luar kota itu karena beliau akan masuk ke kota itu untuk pindapāta. Melihat roman keemasan sang thera, pemuda Soreyya berpikir,” Seandainya sang thera adalah isteri saya, atau seandainya roman isteri saya adalah seperti roman beliau.” Begitu pengharapan itu timbul dalam dirinya, jenis kelaminnya berubah dan menjadi wanita.  Karena sangat malu, ia turun dari kereta dan berlari jauh sambil mengambil jalan ke Takkasilā (ibukota kerajaan Gandhāra, India). Teman-teman seperjalanannya kehilangan diirnya, mencarinya tetapi tidak dapat menemukannya.

2. Soreyya, now a woman, offered her signet ring to some people going to Taxila, to allow her to go along with them in their carriage. On arrival at Taxila, her companions told a young rich man of Taxilia about the lady who came along with them. The young rich man, finding her to be very beautiful and of a suitable age for him, married her. As a result of this marriage two sons were born; there were also two sons from the previous marriage of Soreyya as a man.

2.    Soreyya, yang saat itu sudah menjadi wanita, menawarkan cincin cap resminya kepada beberapa orang yang sedang menuju Takkasilā agar menginjinkannya ikut naik kereta mereka. Begitu tiba di Taxila, teman-team  seperjalanannya memberitahu seorang pria kaya di kota itu tentang wanita yang ikut mereka. Merasa Soreyya sangat cantik dan berusia yang cocok untuk dirinya, pria itu menikahinya. Sebagai salah satu hasil pernikahan itu, dua orang putra dilahirkan; juga ada dua orang putra yang lain dari pernikahan Soreyya yang sebelumnya ketika ia sebagai pria.

3. One day, a rich man’s son from the city of Soreyya came to Taxilia with five hundred carts. Lady-Soreyya recognizing him to be an old friend sent for him. The man from Soreyya city was surprised that he was invited, because he did not know the lady who invited him. He told the lady-Soreyya that he did not know her, and asked her whether she knew him. She answered that she knew him and also enquired after the health of her family and other people in Soreyya city. The man from Soreyya city next told her about the rich man’s son who disappeared mysteriously while going out for a bath. Then the Lady- Soreyya revealed her identity and related all that had happened, about the wrongful thoughts with regard to happened, about the wrongful thoughts with regard to the Thera happened, about the wrongful thoughts with regard to Thera Mahākaccāyana, about the change of sex, and her marriage to the young rich man of Taxila. The man from the city of Soreyya then advised the lady-Soreyya to ask pardon of the thera. Thera Mahākaccāyana was accordingly invited to the home of Soreyya and alms-food was offered to him. After the meal, the lady-Soreyya was brought to the presence of the thera, and the man from Soreyya told the thera that the lady was at one time the son of a rich man from Soreyya city. He then explained to the thera how Soreyya was turned into a female on account of his wrongful thoughts towards the respected thera. Lady-Soreyya then respectfully asked pardon of thera Mahākaccāyana. The thera than said, “Get up, I forgive you.” As soon as these words were spoken, the woman was changed back to a man. Soreyya then pondered  how within a single existence and with a single body he had undergone change of sex and how sons were born to him, etc. and feeling household weary and repulsive of all these things, he decided to leave the household life and joined the Order under the thera.

3. Suatu hari pemuda  yang putra seorang pria kaya dari kota Soreyya datang ke Takkasilā dengan lima ratus buah kereta. Karena mengenalinya sebagai salah seorang teman lamanya, Soreyya minta pemuda itu datang.   Pemuda itu terkejut karena ia diundang sedangkan ia tidak kenal wanita yang mengundangnya itu. Ia memberitahu Soreyya bahwa ia tidak mengenalnya dan bertanya kepada Soreyya apakah Soreyya mengenalnya.   Soreyya menjawab bahwa ia mengenal pemuda itu dan juga bertanya tentang kesehatan keluarga Soreyya serta orang-orang lain di kota Soreyya. Lalu, pemuda dari kota Soreyya itu memberitahunya tentang putra pria kaya yang telah hilang dengan misterius itu ketika sedang perjalanan keluar untuk mandi. Kemudian, Soreyya mengungkapkan identitasnya dan menceritakan semua yang telah terjadi, tentang pikiran-pikiran jahat mengenai Thera Mahākaccāyana, perubahan jenis kelamin dan pernikahannya dengan pria kaya dari Takkasilā. Lalu, pemuda dari kota Soreyya itu menasihati Soreyya untuk minta maaf dari thera tersebut. Karena itu, Thera Mahākaccāyana diundang ke rumah Soreyya dan Soreyya berdāna makanan kepada beliau. Setelah makan, Soreyya dibawa ke hadapan sang thera dan pemuda dari Soreyya itu memberitahu sang thera bahwa wanita itu pada suatu ketika adalah putra seorang pria kaya dari kota Soreyya. Lalu, ia menjelaskan kepada sang thera bagaimana Soreyya berubah menjadi wanita karena pikiran-pikiran jahatnya terhadap sang thera yang terhormat itu. Kemudian, Soreyya dengan penuh hormat minta maaf Thera Mahākaccāyana. Lalu, sang thera berkata,”Bangun, saya maafkan anda.” Begitu perkataan tersebut diucapkan, wanita itu berubah kembali menjadi pria. Lalu, Soreyya berpikir bagaimana dalam satu kehidupan saja dan dengan sebuah tubuh saja ia telah mengalami perubahan jenis kelamin dan bagaimana putra-putra telah dilahirkannya. Karena merasa sangat lelah dan jijik dengan semua hal itu, ia memutuskan meninggalkan kehidupan rumah tangga dan ikut Sańgha di bawah sang thera.

4. After that, he was often asked, “Whom do you love more, the two sons you had as a man or the other two you had as a wife?” To them, he would answer that his love for those born of the womb was greater. This question was put to him so often, he felt very much annoyed and ashamed. So he stayed by himself and with diligence, contemplated the decay and dissolution of the body. He soon attained arahatship together with the Analytical Insight. When the old question was next put to him he replied that he had no affection for any one in particular. Other bhikkhus hearing him thought he must be telling a lie. When reported about Soreyya giving a different answer, the Buddha said, “My son is not telling lies, he is speaking the truth. His answer, now is different because he has now realized arahatship and so has no more affection for anyone in particular by his well-directed mind my son mother can bestow on him.

4. Setelah itu, ia sering ditanya,”Siapa yang anda lebih sayangi, dua orang putra yang anda miliki ketika sebagai pria atau dua orang lainnya yang anda miliki ketika sebagai isteri?” Kepada mereka, ia menjawab bahwa rasa sukanya  untuk putra-putra yang lahir dari rahimnya adalah lebih besar. Pertanyaan itu diajukan kepada dirinya sedemikian sering sehingga ia berasa sangat jengkel dan malu. Jadi, ia menyendiri dan dengan ketekunan, merenungi kelapukan dan berurainya tubuh. Ia segera mencapai tingkat Arahat  berikut patisambhidā (Pengertian yang Analitis tentang Sifat Sejati Fenomena). Ketika pertanyaan lama itu diajukan kepada diri beliau, beliau menjawab bahwa beliau tidak memiliki rasa suka kepada siapa pun secara tertentu. Mendengar beliau demikian, bhikkhu-bhikkhu yang lain berpikir beliau pasti sedang berdusta. Ketika dilapori tentang Soreyya yang memberikan jawaban berbeda, YMS Buddha bersabda,”Putra-Ku tidak sedang berdusta, ia sedang berkata sesungguhnya. Jawabannya sekarang berbeda karena ia telah menjadi Arahat sehingga tidak ada lagi rasa suka kepada siapa pun secara tertentu. Dengan pikirannya yang sangat terarah, putra-Ku telah menimbulkan dalam dirinya suatu kebahagiaan dan kepuasan yang tidak dapat ayah ataupun ibu berikan kepadanya.”

5. Then the Buddha spoke in stanza as follows:

Stanza 43: Not a mother, nor a father, nor any other relative can do more for the well-being of one than a rightly-directed mind can.

At the end of the discourse many attained Sotapatti Fruition.

5. Kemudian YMS Buddha mengucapkan stanza sebagai berikut:

Stanza 43: Tidak seorang ibu, atau ayah, atau anggota keluarga lain pun dapat berbuat lebih banyak untuk kesejahteraan seseorang daripada pikiran yang terarah dengan benar.

Pada akhir khotbah itu banyak yang mencapai tingkat kesucian Sotapatti Phala, atau menjadi Sotapanna penuh. 

(Diterjemahkan oleh Tjan SieTek, M.Sc., Penerjemah Tersumpah , dari The Dhammapada Verses and Stories, terjemahan Daw Mya Tin, M.A., yang disunting oleh Komite Penyuntingan Persatuan Tipitaka Myanmar, Rangoon, Myanmar, 1986)

(Translated by Tjan Sie tek, M.Sc., Sworn Translator, from The Dhammapada, Verses and Stories, translated by Daw Mya Tin, M.A., edited by the Editorial Committee of the Myanmar Tipitaka Asssociation, Rangoon, Myanmar, 1986)

Bahagianya jadi kalyāṇamitta (teman baik)

0

A. Empat ciri kalyāṇamitta:

1. Penuh saddha (keyakinan) pada Buddha, Dhamma & Saṅgha;

2. Penuh moralitas (sīla), terutama malu melanggar sila & takut dengan akibatnya;

3. Penuh cāga (kedermawanan): suka berdāna, menolong orang lain dll; dan

4. Penuh pañña (kebijaksanaan), terutama mengerti perbuatan mana yang baik atau buruk, benar atau  salah sesuai dengan Dhamma.

B. Keuntungan kita sebagai kalyāṇamitta

I. Bagi diri sendiri:

i. Penampilan tenang, teduh dan ramah;

ii. Pikiran positif sehingga tenang;

iii. Dapat terhindar dari penyakit-penyakit yang sering menyerang orang yang tidak baik;

iv. Percaya diri ketika berjumpa dengan siapa pun karena tidak ada rasa bersalah, siap memaafkan orang lain dll;

v.  Tidur nyenyak, bangun dan juga bekerja dengan tenang;

vi. Mampu mengendalikan indranya sehingga setiap perbuatannya sangat terkendali; 

vii. Perkataan penuh rasa sila, persahabatan dan menyejukkan orang-orang yang ditemuinya;

viii. Berasa aman di mana pun karena berasa bersahabat dengan siapa pun; 

ix. Ramah kepada siapa pun karena tahu keramahan adalah salah satu kebajikan dan berkah utama; 

x. Dll.

II. Sehubungan dengan orang lain:

  1. Pintu rumah dan kantor mereka terbuka bagi kita sehingga terbuka banyak peluang untuk berteman jangka panjang, berbisnis maupun berorganisasi bersama-sama; 
  2. Mereka menyapa kita dengan ramah ketika melihat kita; 
  3.  Mereka siap menjamu kita dengan penuh percaya, hormat dan ramah-tamah;
  4.  Mereka merasa nyaman dan aman ketika berada di dekat kita dan ketika berbicara tentang apa pun; 
  5. Siap membantu jika diperlukan;
  6. Percaya pada perkataan, usul dan informasi lain dari kita; 
  7. Mereka senang membicarakan hal-hal yang baik tentang kita dengan teman dan relasi bisnis mereka sehingga nama kita harum di mana-mana; 
  8. Banyak anggota keluarga, tetangga dan teman kita mememiliki rasa hormat dna kagum pada kita;
  9.  Orangtua, saudara, saudari, anak, mantu, besan dan teman kita bangga ketika membicarakan kita; 
  10. Jika berbisnis, banyak pabrik, supplier, agen, distributor dll percaya pada kita dan memberikan banyak kemudahan pembayaran, harga dll sehingga bisnis kita tumbuh dengan cepat dan sehat;

xi. Para pegawai akan rajin dan jujur pada kita karena kita adalah teladan mereka;

  • Jika berorganisasi, banyak anggota yang lain percaya dan aman dengan kehadiran kita;
  •  Di kampus, banyak orang siap menjadi sahabat; 
  • Mereka menganggap kita sebagai orang yang tindakannya sesuai dengan ucapannya; 
  • Nama harum dan tersebar ke mana-mana; xvi. Dan banyak lagi keuntungan lain.

III. Sehubungan dengan makhluk lain:

1. Binatang merasa nyaman dan aman ketika berjumpa dengan kita karena kita tidak mengancam     mereka; kita bahkan siap membantu mereka jika perlu;

2. Makhluk-makhluk lain yang baik akan suka berdekatan dengan kita dan bahkan siap menolong ketika diperlukan.

IV. Ketika menjelang wafat

1. Pikiran tenang menjelang wafat sehingga dapat lahir kembali di alam bahagia, bahkan surga;

2. Pikiran yang penuh saddha, sila, caga dan panna itu akan terbawa ke alam yang baru sehingga menjadi warga baru yang terhormat di mana pun.

C. Bagi Dhamma

1. Semakin banyak orang menjadi Buddhis yang baik; 

2. Dhamma semakin dihargai oleh golongan lain

D. Cara mantap untuk menjadi Sotapanna (makhluk suci tingkat pertama) 

1. Karena ke-4 ciri kalyāṇamitta di atas, jika saddha dominan, dapat menjadi saddhanusarin (cula sotapanna atau sotapanna kecil); 

2. Jika panna dominan, dapat menjadi dhammnusarin (cula sotapanna atau sotapanna kecil) 

3. Jika tidak mencapai tingkat kesucian yang lebih tinggi, cula sotapanna akan menjadi sotapanna penuh menjelang wafat; 

4. Sotapanna selamat dari kelahiran kembali di alam-alam rendah (neraka, binatang, peta, asura) dan pasti menuju Nibbana paling banyak sesudah 7 kelahiran kembali; dan

5. Jika lahir kembali di alam manusia, akan ada di keluarga yang luhur dan terhormat; jika di surga, akan menjadi dewa atau dewi yang berkedudukan tinggi.

Semoga bermanfaat. Silakan share dengan semua teman.

Terima kasih banyak.ggi.

Semoga bermanfaat. Silakan share dengan semua teman.

Terima kasih banyak.

Untungnya menjadi Buddhis yang baik

A.  Ciri-ciri Buddhis yang baik:

1.   Senang berdana misalnya tersenyum, memberikan petunjuk jalan, menawarkan air minum, makanan ringan, memberikan bantuan tenaga, barang, uang dll secara bijaksana kepada yang memerlukannya;

2.    Menerapkan Pancasila, yaitu menghindarkan diri dari: 1. membunuh makhluk hidup, 2.mengambil yang tidak diberikan, 3. berbuat  zinah, 4. berbohong dan 5. makan atau minum barang yang dapat melemahkan kesadaran, dan juga secara aktif, misalnya menyelamatkan makhluk hidup dari sakit, ancaman kematian; menasihati atau menganjurkan orang lain agar tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berbohong dll; dan

3.   Bermeditasi dan mengajak orang lain bermeditasi.

B.  Keuntungan:

1.   Pikiran tenang dan positif terhadap orang lain;

2.   Wajah tenang, bersih dan cerah;

3.   Tatap mata teduh dan bersahabat sehingga membuat sejuk orang yang ditatapnya;

4.   Jujur sehingga perkataannya dipercaya oleh banyak orang;

5.   Tutur katanya tenang, menyejukkan dan ramah sehingga menyenangkan dan menyamankan para pendengarnya;

6.   Dipercaya oleh banyak orang. Misalnya: a. dalam bisnis, relasi akan memberikan kredit barang, uang dll, membicarakan yang baik-baik dengan banyak orang lain sehingga namanya harum, cepat sukses, punya banyak lebih relasi dan teman; b. Di tempat kerja: perusahaan akan terlindung dari pencurian, korupsi; atasan atau pemilik usaha akan memberikan banyak kepercayaan, memuji; relasi akan semakin banyak sehingga perusahaan bertambah untung (dan semoga gaji atau bonus bertambah);

7.   Terhindar dari banyak penyakit yang terkait dengan stress, makanan dan minuman yang berlebihan dan tidak sesuai

8.   Anggota keluarga yang lain: ibu, bapak, anak, suami, isteri dan masyarakat di sekitarnya akan merasa lebih nyaman dan tenang ketikaia hadir, tidak ada pertentangan yang kasar, perkelahian, permusuhan dll;

9.   Nama pribadi maupun keluarga semakin harum dan dijadikan teladan oleh banyak keluarga yang lain.

10.Jika berkunjung ke tempat orang lain, umumnya ia akan disambut dengan ramah dan hormat;

11.Tidur nyenyak karena tidak ada perasaan bersalah, iri hati, dendam, membenci dll;

12.Dll.

Apabila puluhan ribu, ratusan ribu atau jutaan Buddhis berbuat demikian, dunia akan lebih aman, tenteram dan damai, penuh kasih sayang, saling memaafkan dll.

Buddha Dhamma semakin dihormati oleh orang lain dan akan lebih cepat berkembang. Inilah salah satu berkah yang terbesar bagi para pelakunya dan makhluk lain.

Semoga bermanfaat. Silakan share dengan semua teman.

Terima kasih.

Pabbajja Samanera Sementara di Pupuan, Tabanan, Bali (2022)

Pada akhir Tahun 2022 ini, salah satu Pendiri (Founder) dari Yayasan Nawa Ratna Bali (NRB) dan merupakan Ketua Dewan Pembina NRB (Singgih Prayitno, S.E.Ak., M.Pd.) berkesempatan mengikuti Pabbajjā Sāmaṇera Program Cittabhāvanā yang diselenggarakan di Vihāra Dharma Giri, Pupuan, Bali.

Program Pabbajjā Sāmaṇera sementara tersebut dilaksanakan mulai 25 Desember 2022 dan akan berlangsung sampai dengan 3 Januari 2023 mendatang. Pelatihan ini difokuskan pada meditasi (cittabhāvanā) dan sedikit pembekalan materi.

Y.M. Sri Subalaratano Mahāthera menjadi Upajjhāya dan didampingi oleh 7 (tujuh) Bhikkhu yang bertindak sebagai Ācariya, salah satunya ialah Y.M. Bhikkhu Jotidhammo Mahāthera. Ketua Panitia pelaksana (Bhikkhu Jayasīlo) didukung oleh KBTI Provinsi Bali dan pengurus vihāra/mahācetya se-Bali.

Peserta sāmaṇera yang mengikuti program kali ini berjumlah 23 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar peserta berasal dari Bali, termasuk yang paling senior berusia 71 tahun.

Umat Buddha di Bali sangat antusias mendukung dan menyambut kegiatan ini mengingat sudah lama tidak dapat mengadakan Pabbajjā Sāmaṇera akibat situasi pandemi. Ini merupakan wadah yang sangat baik bagi para umat untuk praktik kebaikan sekaligus menambah keyakinan pada Tiratana.

Semoga kegiatan semacam ini dapat berlangsung kembali di Pulau Bali dan jumlah peserta akan jauh lebih banyak lagi, sehingga semakin banyak Umat Buddha di Bali yang mendapatkan kesempatan berlatih sebagai seorang Samana dalam kurun waktu tertentu untuk praktik Dhamma lebih mendalam lagi dalam kehidupannya. ***NRB-4***

Sumber:https://nawaratnabali.blogspot.com/2022/12/pabbajja-samanera-sementara-di-pupuan.html

Salah satu sumber informasi dari Medkom STI dengan Link akses dibawah ini:
https://www.instagram.com/p/CmnC3gdSDJY/?igshid=YmMyMTA2M2Y%3D

Mukjijat: Sakit berat sembuh karena kemuliaan para bhikkhu

0

A.  Bhikkhu Sāriputta, seorang siswa utama Sang Buddha

Suatu hari Bhikkhu Sāriputta mengalami sejenis sakit perut yang berat. Lalu, Bhikkhu Mahā-Moggallāna, yang juga siswa utama Sang Buddha, bertanya kepada beliau tentang apa yang dulunya bisa menyembuhkan penyakit itu. Bhikkhu Sāriputta menjawab:” waktu saya masih orang awam, ibu saya biasanya mencampurkan ghee (sejenis mentega yang dijernihkan), madu, gula dsb serta memberi saya rice gruel (bubur nasi yang encer) dengan susu murni.”

Pada saat itu, sesosok dewata yang tinggal di sebuah pohon di ujung jalan mendengar percakapan itu dan berpikir” Saya akan mendapatkan bubur nasi untuk Bhante besok.” Lalu, dewa itu pergi ke sebuah keluarga yang menyokong Bhikkhu Sāriputta dan masuk ke dalam tubuh anak tertua keluarga itu sehingga menimbulkan ketidak-nyamanan. Kemudian, sang dewa memberitahu  syarat penyembuhan di atas kepada sanak-keluarga anak itu yang berkumpul,” Jika kalian membuat bubur nasi jenis tersebut besok untuk Sang Thera (Bhikkhu Sāriputta), saya akan membebaskan anak ini.” Mereka berkata:” Bahkan tanpa diberitahu oleh anda pun kami secara teratur mengirimkan kebutuhan Sang Thera.” Pada esoknya mereka membuatkan bubur nasi itu.

Singkat cerita, Bhikkhu Mahā-Moggallāna ber-piṇḍapāta (berjalan keliling untuk menerima makanan di mangkuk penerima derma) dan keluarga tersebut memberikan bubur tersebut kepada beliau, kemudian minta beliau menghabiskannya. Lalu, mereka memenuhkan kembali mangkuk beliau.

Beliau kembali ke tempat Bhikkhu Sāriputta dan memberikan makanan itu. Bhikkhu Sāriputta berpikir,” Bubur ini sangat enak. Bagaimana cara ia didapatkan?.” Lalu, dengan mata batin, beliau melihat cara nasi itu didapatkan dan berkata,” Kawan, dāna makanan ini tidak dapat dipakai.”

Alih-alih berpikir “Ia tidak makan dāna makanan yang dibawa oleh orang seperti saya,” Bhikkhu Mahā-Moggallāna langsung mengambil mangkuk itu dengan memegang pinggirnya dan membalikkannya. Ketika bubur itu jatuh ke tanah, penderitaan Bhikkhu Sāriputta lenyap. Sejak itu, penyakit itu tidak muncul lagi selama 45 tahun berikutnya. Demikianlah kemuliaan siswa Sang Buddha.

Sumber: diringkas dan diterjemahkan oleh Tjan Sie Tek, dari Vissuddhimagga I, 117-121

B. Bhikkhu Mahā-Mitta

Ibu Bhikkhu Mahā-Mitta sakit tumor yang beracun. Sang ibu berkata kepada putrinya, yang telah menjadi bhikkhuni,” Nak, temuilah abangmu. Kasih tahu dia tentang kesusahanku dan bawalah pulang sejumlah obat.” Sang bhikkhuni pergi menemui  abangnya. Bhikkhu Mahā-Mitta berkata,” Saya tidak tahu cara mengumpulkan bahan obat-obatan dari akar dan sejenisnya serta tidak tahu cara membuat obat dari  bahan itu. Tetapi, sebaliknya saya akan memberitahu anda sebuah obat: sejak saya menjadi bhikkhu, saya tidak pernah melanggar (kebajikan saya dalam pengendalian) panca indra dengan cara memandang tubuh lawan jenis saya dengan pikiran yang bernafsu. Dengan pernyataan kebenaran ini semoga ibu saya menjadi sehat. Beritahu sang upāsikā (Ibu) soal ini dan usaplah tubuh beliau.” Sang bhikkhuni memberitahu sang ibu tentang apa yang telah terjadi dan kemudian melakukan sebagaimana beliau diperintahkan. Pada saat itu juga tumor sang ibu lenyap karena mengerut lalu hilang seperti segumpal buih.

Demikianlah kemuliaan siswa Sang Buddha.

Sumber: Visuddhimagga I, 109, diterjemahkan oleh Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah Tersumpah, SK Menteri Hukum dan HAM No. AHU-11 AH.03.07.2022