Home Blog Page 11

Tirokuḍḍapetāvatthu

PaliIndonesiaInggris
1.” Tirokuḍḍesu tiṭṭhanti,
sandhisiṅghāṭakesu ca;
Dvārabāhāsu tiṭṭhanti,
āgantvāna sakaṁ gharaṁ


Versi 1: Di luar dinding mereka berdiri, di pertigaan dan perempatan jalan, juga dekat tiang-tiang pintu, demikianlah setelah mereka datang ke rumah mereka sendiri.  Outside the walls they stand and at two and four-road junctions; at door posts, too, they stand, after they come to their old home.
 Versi 2: Setelah datang ke rumah mereka sendiri, mereka berdiri di luar dinding, di pertigaan dan perempatan; mereka juga berdiri dekat tiang-tiang pintu.  Having come to their old home, outside the walls they stand and at road-forks and crossroads; At door posts, too, they stand.
2. Pahūte annapānamhi,
khajjabhojje upaṭṭhite;
Na tesaṁ koci sarati,
sattānaṁ kammapaccayā.


Makanan dan minuman melimpah – makanan yang keras maupun lainnya telah siap, tetapi tidak seorang pun (yang hadir) ingat mereka sebagai akibat perbuatan para makhluk itu sendiri.    Plentiful food & drink–solid and other food- standby, But no one remembers them because of the results of the beings’ own kamma    
 Berlimpah makanan dan minuman—makanan yang keras maupun lembut telah siap, Tetapi tidak seorang pun (yang hadir) ingat mereka sebagai akibat perbuatan para makhluk itu sendiri. 
3. Evaṁ dadanti ñātīnaṁ,
ye honti anukampakā:
Suciṁ paṇītaṁ kālena,
kappiyaṁ pānabhojanaṁ

Karena itu, memberikan kepada sanak-keluarga itulah orang-orang yang welas-asih: makanan dan minuman yang bersih, istimewa, yang sesuai dan pada waktu yang tepat, sambil berpikir:”    Thus those who feel sympathy for their dead relatives give timely, proper food & drinks, exquisite, clean — [thinking:]
 
4. Idaṁ vo ñātīnaṁ hotu,
sukhitā hontu ñātayo;



Te ca tattha samāgantvā,
ñātipetā samāgatā,
Pahūte annapānamhi,
sakkaccaṁ anumodare;

Semoga (makanan dan minuman) itu* melimpah  kepada sanak-keluarga kami. Semoga sanak-keluarga kami bahagia.  

*anafora; kata sandang deiktis.

Dan para petā, yang merupakan sanak-keluarga itu dan saling bertemu setelah berkumpul di sana, dengan penuh hormat berterima terima-kasih untuk makanan dan minuman yang berlimpah itu, dengan berkata:
“May this accrue to our relatives. May our relatives be happy!”       And those who have gathered there and met each other respecfully gave appreciation for the plentiful food & drink, saying:            
5. Ciraṁ jivantu no ñātī yesaṁ hetu* labhāmase Amhākañ ca katā pūjā
dāyakā ca anipphalā

*moral condition

Semoga sanak-keluarga kami berumur panjang,  karena moral merekalah kami mendapatkan itu; penghormatan telah diberikan kepada kami dan para pemberi mendapatkan pahala.“May our relatives live long because of whose moral condition we have gained [this gift].
We have been honored, and the donors gain rewards!”
6. Na hi tattha kasī atthi
gorakkh’ etta na vijjati vanijjā tādisī natthi
hiraññena kayakayaṁ


Ito dinnena yāpenti
petā kālagatā tahiṁ.
Tidak pernah ada pertanian di sana (di alam petā), peternakan juga tidak ada di sana; tidak ada juga perdagangan dan jual-beli  dengan uang emas.

Para mendiang hidup di sana dengan apa yang diberikan dari sini.
There (in the realm of the dead), there’s never any farming, herding of cattle, commerce, trading with money.    
The dead live on what is given from here.
 Tidak pernah di sana ada pertanian, peternakan juga tidak ada di sana

tidak ada perdagangan dan jual-beli  dengan uang emas.

Dengan apa yang diberikan dari sinilah para mendiang hidup di sana.
 
7. Unname udakaṁ vuṭṭhaṁ,
yathā ninnaṁ pavattati;
Evamevaṁ ito dinnaṁ,
petānaṁ upakappati.
Bagaikan air hujan di dataran tinggi mengalir ke dataran rendah, demikian juga apa yang diberikan dari sini bermanfaat bagi para mendiang.As rain water on a hill flows down to the valley, even so does what is given from here benefit the dead.  
8. Yathā vārivahā pūrā,
paripūrenti sāgaraṁ;
Evamevaṁ ito dinnaṁ,
petānaṁ upakappati.


Bagaikan sungai-sungai yang penuh air mengisi penuh lautan, demikian juga apa yang diberikan dari sini bermanfaat bagi para mendiang.As rivers full of water fill the ocean full,
even so does what is given from here benefit the dead.  
9. Adāsi me akāsi me,
ñāti mittā sakhā ca me;
Petānaṁ dakkhiṇaṁ* dajjā,
pubbe katam-anussaraṁ.

dakkhiṇaṁ (pl.; sg. dakkhiṇā): a donation given to a “holy” person with reference to (or on behalf of) unhappy beings in the peta realm, intended to induce the alleviation of their sufferings; an intercessional, expiatory offering; guru-dakkhiṇā ‘a teacher’s fee’ (Davids & Stede, 1921-1925:146, Part IV)  
Dia memberi kepada saya, dia berbuat untuk saya, dia adalah sanak, sahabat dan teman saya;

Seseorang sebaiknya memberikan dakkhiṇā* atas nama para petā
mengingat perbuatan yang mereka lakukan di masa lampau.

*dakkhiṇā: pemberian kepada orang suci atas nama makhluk-makhluk menderita di alam peta, yang ditujukan untuk membantu meringankan penderitaan mereka; guru-dakkhiṇā ‘uang jasa kepada guru’ (Davids & Stede)
“He gave to me, she acted on my behalf, they were my relatives, companions, friends;”
Offerings should be given on behalf of the dead, remembering  things done in the past.  
10. Na hi ruṇṇaṁ vā soko vā,
yā c’aññā paridevanā;
Na taṁ petānamatthāya,
evaṁ tiṭṭhanti ñātayo.  
Tidak pernah tangisan atau kesedihan dan ratapan lain bermanfaat bagi para mendiang; sanak-keluarga itu hidup terus secara demikian.  No weeping, no sorrowing no other lamentation ever benefits the dead;
the relatives live on thus.  
11. Ayañca kho dakkhiṇā dinnā,
saṁghamhi suppatiṭṭhitā;
Dīgharattaṁ hitāy’ assa,
ṭhānaso upakappati.

Tetapi, sesungguhnya dakkhiṇa yang telah diberikan itu dan ditegakkan dengan kokoh dalam Sańgha bermanfaat secara seketika dan juga untuk jangka panjang.But, this offering which has been given, well-placed in the Sangha, Is beneficial immediately and for the long-term.
12. So ñātidhammo ca ayaṁ nidassito,
Petāna pūjā ca katā uḷārā;
balañca bhikkhūnamanuppadinnaṁ,
Tumhehi puññaṁ pasutaṁ anappaka” nti.

Tugas kepada sanak-keluarga itu dan yang berikut ini telah ditunjukkan: para petā telah diberi penghormatan besar dan para bhikkhu telah diberi kekuatan; kebajikan yang telah dilakukan oleh anda sekalian adalah besar.The duty to relatives and the following has been shown: great honor has been done to the dead, and monks have been given strength; by you all, the merit made is large.  
 Tugas kepada sanak-keluarga itu dan yang berikut ini telah ditunjukkan: para petā telah diberi penghormatan besar dan para bhikkhu telah diberi kekuatan; oleh anda sekalian, kebajikan yang telah dilakukan adalah besar.”The duty to relatives and the following has been shown: great honor has been done to the dead, and monks have been given strength;   by you all, the merit done is large.  

Catatan: Diterjemahkan dari bahasa Pali ke bahasa Indonesia dan Inggris, oleh Tjan Sie Tek, M.Sc., Penerjemah1978 Tersumpah1997, Rohaniwan Buddha Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Buddha, Sasanadhaja Dharma Adhgapaka, anggota Magabudhi, dosen English for Buddhism STAB Nalanda (2014-2021)

Silakan juga baca: https://www.buddha-gotama.com/2023/06/17/sepuluh-tanya-jawab-umum-tentang-pattidana/

Apa (kemungkinan) dampak ChatGPT pada bidang pendidikan?

ChatGPT dan teknologi AI secara umum dapat memiliki dampak yang penting pada bidang pendidikan. Yang berikut ini adalah beberapa dampak yang mungkin terjadi:

  1. Sumber belajar yang lebih luas: ChatGPT dapat digunakan sebagai salah satu sumber belajar yang luas dan dapat diakses oleh siapa saja baik secara gratis maupun berbayar, misalnya murid, guru, dosen, orangtua. Dengan menyediakan akses ke informasi dan pengetahuan, ChatGPT dapat membantu murid (dan juga orang yang suka belajar secara mandiri) dalam mempelajari berbagai topik yang dipelajarinya dengan syarat informasi itu terus mutakhir dengan benar.
  2. Bantuan dalam pemahaman konsep: murid dapat menggunakan ChatGPT untuk mendapatkan penjelasan tentang konsep yang sulit dipahami olehnya. Mereka dapat mengajukan pertanyaan kepada dan mendapatkan jawaban yang jelas dan terperinci dari ChatGPT, membantu mereka memperoleh pemahaman yang lebih luas.
  3. Bimbingan dan pengajaran personal: ChatGPT dapat digunakan untuk memberikan bimbingan dan pengajaran personal kepada murid. Dengan memasukkan informasi dan pertanyaan mereka, murid dapat menerima penjelasan alternatif dan mendapatkan panduan yang lebih luas.
  4. Pengembangan keterampilan berpikir kritis: Interaksi dengan ChatGPT dapat mendorong murid untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis pada tingkat dasar dan menengah. Mereka sebaiknya mengajukan pertanyaan yang relevan, menilai jawaban yang diberikan, dan menggali lebih dalam untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.
  5. Kolaborasi dan interaksi sosial: ChatGPT juga dapat digunakan untuk kolaborasi dan interaksi sosial antara murid. Mereka dapat berdiskusi dan berbagi pengetahuan dengan menggunakan ChatGPT sebagai mediator sampai tingkat kemampuan ChatGPT.

Namun, penting untuk diingat bahwa meskipun ChatGPT dapat menjadi alat yang berguna dalam pendidikan, ChatGPT tidak boleh digantikan oleh interaksi langsung dengan pendidik dan proses pembelajaran yang terstruktur. Pembelajaran melalui interaksi manusia masih merupakan salah satu komponen penting dalam pendidikan yang efektif dan holistik. Penggunaan ChatGPT dan teknologi AI lainnya dalam bidang pendidikan perlu diarahkan dengan bijaksana dan terintegrasi dengan pendekatan pendidikan yang demikian.

(TST/DMM)

Apa (kemungkinan) dampak ChatGPT pada karir guru?

ChatGPT dapat menimbulkan dampak yang berbeda-beda pada karir seorang guru, yang sebagian bergantung pada bagaimana teknologi ini digunakan dan, menurut saya, dilaksanakan dalam konteks guru yang pengetahuannya setingkat dengan ChatGPT atau lebih rendah, tidak untuk guru yang pengetahuannya lebih tinggi. Sejumlah dampak yang mungkin terjadi antara lain adalah:

  1. Meningkatkan efisiensi persiapan mengajar dan pelajaran: Guru dapat menggunakan ChatGPT sebagai, antara lain, pengingat kembali pelajaran-pelajaran yang pernah didapatkannya selama kuliah (sd semester 4 S1 atau sedikit di atasnya, yang bergantung pada kualitas perguruan tingginya); pemutakhir pengetahuan dasar yang dipelajarinya 10, 20 tahun lalu atau lebih dengan syarat informasi dan data dari ChatGPT terus mutakhir dan benar,  alat bantu untuk menghemat waktu dalam menyiapkan materi pelajaran, menyusun tugas, atau menjawab pertanyaan umum dari siswa. Dengan adanya teknologi ini yang masih terus-menerus diperkuat, guru bisa mendapatkan sumber daya tambahan dan referensi yang dapat membantu meningkatkan efisiensi dalam pekerjaan mereka, dengan syarat seperti yang tersebut di atas.
  2. Diversifikasi metode pengajaran: ChatGPT dapat membantu guru untuk memperkenalkan variasi metode pengajaran yang menarik, seperti interaksi dengan asisten virtual yang dapat memperkaya pembelajaran, sekali lagi dengan syarat yang sama seperti di atas. Guru juga dapat memanfaatkan ChatGPT untuk memberikan umpan balik secara perseorangan kepada murid dalam mengembangkan keterampilan tertentu, dengan membuat penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan, sesuai dengan keadaan murid.
  3. Pengurangan beban kerja jika sang guru kurang belajar atau tidak belajar terus-menerus (menerapkan prinsip life-long learning) atau tidak punya metode yang lebih unggul: Dengan adanya ChatGPT, guru dapat mendapatkan dukungan dalam mengelola tugas-tugas sehari-hari yang memakan waktu, seperti menyusun jadwal pelajaran, menyusun rencana pelajaran, atau menilai tugas murid. Hal ini dapat membantu mengurangi beban kerja guru dan memungkinkan mereka untuk fokus pada aspek-aspek pengajaran yang lebih mendalam, misalnya menyiapkan bahan ajaran yang sesuai, mendorong para murid agar semakin rajin belajar, menilai hasil pengajaran sebelumnya, memeriksa dan memastikan kesiapan para murid untuk menerima pelajaran berikutnya, membantu para murid yang kesulitan mengatasi mengikuti kurikulum.
  4. Tantangan dalam penilaian: ChatGPT tidak disarankan untuk dipakai dalam penilaian karena hal itu dapat menimbulkan tantangan tersendiri, apalagi jika guru mengandalkan ChatGPT secara tunggal untuk menilai pekerjaan murid. Hal itu dapat mengabaikan aspek kreativitas, konteks, dan pemahaman setiap murid yang tidak dapat sepenuhnya dinilai oleh teknologi. Sebagai pembanding, test IQ pun tidak mampu mengetahui kreativitas dan keterampilan murid, misalnya keterampilan memimpin, emosi, kecerdasan emosional, bakat seni dll. Karena itu, penting bagi guru untuk tidak menggunakan teknologi ini sebagai alat bantu yang super, apalagi sebagai pengganti penilaian guru yang mendalam.
  5. Ketergantungan pada teknologi: Terlalu mengandalkan ChatGPT atau teknologi yang serupa dapat menyebabkan ketergantungan yang berlebihan, terutama bagi guru yang kurang pengetahuan maupun keterampilan. Guru yang ideal perlu tetap mempertahankan dan bahkan meningkatkan kualitas peran mereka sebagai pendidik yang berpengalaman dan paham bahwa teknologi hanya alat bantu yang harus digunakan secara bijak dan tepat dalam konteks pembelajaran.

Penting untuk diperhatikan bahwa meskipun ChatGPT memiliki potensi untuk mendukung pengajaran dan pembelajaran, peran guru yang ideal sebagai fasilitator pembelajaran, mentor, orangtua, penasihat, dan teman para murid tetap sangat penting. Guru yang hebat memiliki keahlian unik dalam memberikan bimbingan dan membangun hubungan dengan siswa secara emosional, sosial maupun intelektual serta memberikan konteks pembelajaran yang relevan dan tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Sedikit Pengalaman memakai ChatGPT

Sampai tanggal artikel ini diterbitkan, ChatGPT mirip dengan ensiklopedia, yang pengetahuannya hanya sd semester 4 program S1 ilmu-ilmu sosial, misalnya manajemen, pendidikan.

Kesimpulan: Penulis memiliki pengalaman sekitar 30 tahun dalam memakai kecerdasan buatan (artificial intelligence), yang dimulai dengan komputer catur, program pengenal suara (voice recognition program) dll. ChatGPT merupakan terobosan teknologi yang spektakuler, berpotensi besar sebagai ensiklopedi modern yang dinamis dan dapat diakses dari mana pun kita berada sepanjang tersedia alat yang sesuai, sambungan Internet lewat kabel yang memadai, atau nirkabel yang sinyalnya juga memadai. Nantinya ChatGPT mungkin mampu menjadi asisten guru di kelas secara virtual dan, di luar kelas,  juga membantu siswa me-review maupun memperdalam pengetahuan dan keterampilan yang sedang dipelajarinya.

(TST/DMM)

Bahaya Usia Tua, Penyakit & Kematian

  1. Usia Tua & Sakit

1.1 Dimulai dengan merosotnya ketampanan atau kecantikan kita secara perlahan-lahan sehingga penampilan kita semakin tidak enak untuk dilihat oleh orang lain: rambut putih, botak, gigi tonggos, jalan bungkuk, wajah peyot, kulit keriput;

Ketika berkaca, kita sadar bahwa masa kemudaan kita sudah lewat dan harus siap-siap menghadapi segala akibat dari proses penuaan;

1.2 Organ tubuh, misalnya mata, kuping, gigi, jantung, otak, kita lemah dan akhirnya rusak;

  1. Tubuh kita tidak mau mengikuti keinginan kita sebagaimana ketika masih muda. Contoh: tidak mampu berlari cepat dan jauh, meloncat dll; gigi kita tidak mampu lagi menggigit makanan yang keras dll.

Satu per satu gigi kita rontok (good bye) dan akhirnya kita ompong;

Berjalan pun harus dibantu tongkat atau dipegangi anak atau cucu, jika mereka bersedia;

Banyak teman kita bahkan sudah mendahului kita sehingga kita dapat kesepian.

  • 1.3 Banyak di antara kita tidak mampu lagi mengerti jalan pikiran keturunan kita (anak, cucu, cicit dll)  dan sulit saling berkomunikasi karena pikiran kita berjalan lambat, loyo, cepat lupa, telat mikir, ketinggalan informasi, gaptek dll.
  • Beberapa orangtua bahkan harus tinggal di rumah jompo dll karena tidak diurus lagi oleh keturunannya atau tidak sanggup tinggal bersama-sama lagi.
  • 1.4 Beberapa lagi bahkan harus berpisah dengan harta kesayangannya karena diambil oleh keturunannya sendiri dengan paksa, bujuk-rayu maupun cara lain.
  • Pasangan hidup pun kadang-kadang mendahului kita sehingga kita kehilangan teman sehidup-semati tempat kita biasa curhat;
  • 1.5 Banyak yang harus terbaring sakit, lemah dan tidak berdaya di kamar tidur, bahkan tidak bisa mandi sendiri, buang air besar dan kecil sendiri, makan dan minum sendiri, sehingga menyusahkan banyak orang lain, sampai wafat.
  • Banyak juga yang menimbulkan penderitaan kepada banyak keturunannya karena harus keluar-masuk rumah sakit dengan biaya tinggi, bahkan harus menjual rumah, toko, mobil dll.
  • 1.6 Banyak yang sakit parah sekali sehingga para profesor pun tidak mampu menyembuhkannya dan harus pasrah sampai wafat terjadi dalam keadaan pailit, nyeri, sakit, ketakutan dll.
  • Dll
  • 2. Kematian

2.1 Kematian tidak berarti urusan selesai jika kita bukan Arahat.

  • Kita harus menghadapi kematian dengan sendirian. Kematian tidak bisa disogok dengan uang ataupun emas berlian.
  • Tidak satu pun harta dan anggota keluarga kita bisa mendampingi atau menyelamatkan kita dari kematian.
  • Kematian bersifat kejam, bengis dan tidak diskriminasi, bagaikan gunung batu raksasa yang menghancurkan apa pun yang dilaluinya: semua orang, baik raja, presiden, menteri, orang kaya, miskin dsb, akan dilindasnya.
  • Lalu, kita harus menanggung semua akibat perbuatan kita sendiri yang dilakukan melalui pikiran, perkataan dan tubuh ketika masih hidup, berikut bunganya yang amat, amat jauh di atas bunga deposito bank maupun rentenir yang paling kejam.

Semoga bermanfaat.